Wall Street Perpanjang Penurunan di Tengah Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga

- Pewarta

Jumat, 12 Oktober 2018 - 03:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mediaemiten.com, New York – Saham-saham di Wall Street memperpanjang penurunan mendalam dalam perdagangan Kamis (Jumat 12/10/2018 pagi WIB), sehari setelah tiga indeks utama jatuh lebih dari tiga persen akibat kekhawatiran meningkatnya suku bunga dan penjualan saham-saham teknologi.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 545,91 poin atau 2,13 persen, menjadi ditutup di 25.052,83 poin. Indeks S&P 500 berkurang 57,31 poin atau 2,06 persen, menjadi berakhir di 2.728,37 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup turun 92,99 poin atau 1,25 persen, menjadi 7.329,06 poin.

Indeks harga konsumen (IHK) naik 0,1 persen pada September, jauh di bawah kenaikan yang diharapkan sebesar 0,2 persen, menurut Departemen Tenaga Kerja pada Kamis (11/10/2018).

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Indeks untuk semua item kecuali makanan dan energi, atau IHK-inti, naik 0,1 persen pada September, kenaikan yang sama seperti pada Agustus.

Laporan yang lebih lemah dari perkiraan adalah bagian dari alasan mengapa imbal hasil obligasi AS turun tipis. Patokan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenot 10-tahun diperdagangkan di 3,18 persen pada awal perdagangan, turun dari tertinggi tujuh tahun di 3,26 persen pada Selasa (9/10/2018).

Para investor telah bergulat dengan kenaikan suku bunga selama sekitar satu minggu terakhir, di tengah data ekonomi yang kuat dan tanda-tanda inflasi.

Tingkat pengangguran menurun menjadi 3,7 persen pada September, terendah dalam 49 tahun, menurut Departemen Tenaga Kerja pada Jumat lalu (5/10/2018).

Rata-rata penghasilan per jam untuk semua karyawan pada payroll (gaji) non-pertanian swasta naik delapan sen AS menjadi 27,24 dolar AS. Selama setahun, rata-rata penghasilan per jam telah meningkat 73 sen AS atau 2,8 persen.

Laporan ini memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja mendekati pekerjaan penuh dan upah telah meningkat.

Ketua Fed Jerome Powell mengatakan pekan lalu bahwa bank sentral AS memiliki jalan panjang untuk pergi sebelum suku bunga mencapai netral, menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut bisa terjadi dalam waktu dekat.

Kenaikan imbal hasil telah memicu kekhawatiran bahwa meningkatnya biaya pinjaman dapat memperlambat ekonomi dan mempengaruhi kebijakan moneter masa depan.

Sementara itu, para investor berharap musim pelapora laba perusahaan-perusahaan mendatang dapat mengangkat pasar. (pep)

Berita Terkait

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama
FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025
Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?
Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan
Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek
Kasus Jiwasraya: Tanah Benny Tjokro Bogor Dilelang, Negara Kumpulkan Rp18 M
ICC Singapura Jadi Arena Gugatan Kontrak Satelit: Indonesia Siapkan Bukti Lengkap Lawan Detenté Operation
TRUE Optimistis Proyek District East Meningkatkan Laba dan Valuasi Aset

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 23:53 WIB

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama

Kamis, 14 Agustus 2025 - 11:43 WIB

FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025

Jumat, 1 Agustus 2025 - 07:16 WIB

Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?

Senin, 28 Juli 2025 - 09:59 WIB

Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan

Kamis, 17 Juli 2025 - 14:29 WIB

Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek

Berita Terbaru