MEDIA EMITEN – Skandal penipiuan dan pencucian uang yang menimpa taipan India, Gautam Adani, menyeret nama-nama besar di Wall Street, seperti Vanguard dan BlackRock.
Melansir dari berbagai sumber, Minggu 5 Februari 2023, setelah laporan Hindenburg menuduh Adani melakukan manipulasi saham dan skema penipuan akuntansi selama beberapa dekade, seluruh anak perusahaan Grup Adani terkena force sale ( penjualan besar-besaran.) sehingga perusahaan mengalami kerugian sebesar US$ 110 miliar lebih atau sekitar Rp1.650 triliun (kurs Rp 15.000).
Terkait hal itu, Adani pun dengan keras membantah melakukan hal yang dituduhkan Hindenburg dan membantah telah melakukan peniuan dan pencucian uang melalui perusahaannya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Diketahui, Adani memiliki 64% saham Adani Enterprises. Lalu, keluarga Adani SB memegang 55,27% saham dan 8,73 persen dimiliki oleh Adani Tradeline Pvt Ltd. Sementara itu, pemegang saham terbesar Adani Enterprises adalah Perusahaan Asuransi Jiwa India milik negara, yaitu sebesar 4,02 %.
Selain itu, daftar 20 pemegang saham teratas Adani Enterprises juga mencakup dua nama terbesar di Wall Street, yaitu Vanguard dengan 0,75% saham dan BlackRock Fund Advisors dengan 0,57%, serta BlackRock Advisors (UK) Ltd memiliki 0,17% saham
Menurut CNBC, hingga saat ini Vanguard dan BlackRock belum memberikan keterangan apapun terkait hal itu.
Berdasarkan data kepemilikan, Elara Capital yang saat ini memiliki 1,7% saham Adani Enterprises merupakan pemegang saham institusional terbesar hingga Februari 2022.
Baca Juga:
WEPACK 2027 Kembali Digelar di Shanghai, Satukan Seluruh Rantai Industri Kemasan
DBS Group Raih Gelar Bank Teraman di Asia untuk ke-18 Tahun Berturut-turut
Sungrow Hadirkan Solusi Microgrid Terintegrasi untuk Sektor Komersial dan Industri di Asia Tenggara
Melalui laporannya, Hindenburg menuduh dana Elara yang berbasis di Mauritius sebagai bagian dari rencana untuk memanipulasi harga saham perusahaan milik Grup Adani dan menyembunyikan berapa banyak yang dimiliki keluarga. Sejak saat itu, data FactSet menyebutkan bahwa Elara melepas 72% saham yang dipegangnya di perusahaan.
Tak lama kemudian, Companies House melaporkan bahwa saudara laki-laki mantan Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, yakni Jo Johnson mengundurkan diri dari perannya sebagai direktur Elara pada Rabu.
Berkaitan dengan hal tersebut, Elara Capital dan Johnson belum memberikan tanggapan apapun kepada CNBC.
Nama miliarder asal India, Gautam Adani saat ini sedang menjadi perbincangan publik lantaran tengah menghadapi sederet tuduhan serius yang mengancam kekayaannya, seperti pencucian uang dan manipulasi harga.
Baca Juga:
CGTN Luncurkan News Pal, Asisten Berita Berbasis AI
Debut Global All-New TIGGO7 dan TIGGOX7 di CHERY Brand Night, Usung Semangat “Together. For Family”
Blokees Pamerkan Lebih dari 900 Produk di China Toy Expo 2026, Terus Perkuat Daya Saing Produk
Sederet permasalahan itu bermula dari laporan Hindenburg Research minggu lalu. Laporan tersebut menuding Adani melakukan penghindaran pajak dengan memanfaatkan kawasan suaka pajak dan melakukan manipulasi harga saham perusahaan Grup Adani.
Sementara itu, berdasar data Bloomberg Billionaires Index, Adani sudah terlempar dari posisi orang ke-4 terkaya dunia. Ia kini berada di polisi ke-11.
Harta Adani tercatat telah menguap sekitar Rp 1.650 triliun dalam waktu singkat.








