MEDIA EMITEN – Nilai tukar rupiah makin perkasa terhadap dolar AS, mendekati level psikologis Rp 15.000 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menguat ke posisi Rp15.019 per dolar AS pada Senin 16 Januari 2023.
Sementara itu, kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore ditutup naik tajam didukung oleh surplus neraca perdagangan pada Desember 2022 dan revisi aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) oleh pemerintah.
Rupiah ditutup menguat 104 poin atau 0,68% ke posisi Rp15.045 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Jumat (13/1) Rp15.149 per dolar AS.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2022 mengalami surplus US$ 3,89 miliar terutama berasal dari sektor nonmigas sebesar US$ 5,61 miliar, namun tereduksi oleh defisit sektor migas senilai US$ 1,72 miliar.
Nilai ekspor Indonesia Desember 2022 mencapai US$ 23,83 miliar atau turun 1,1% dibanding ekspor November 2022. Dibanding Desember 2021, nilai ekspor naik sebesar 6,58%.
Sementara nilai impor pada Desember 2022 mencapai US$ 19,94 miliar, naik 5,16% dibandingkan November 2022 atau turun 6,61%dibandingkan Desember 2021.
Di sisi lain, Pemerintah Indonesia berencana merevisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2019 tentang Devisa Hasil Ekspor dari Kegiatan Pengusahaan, Pengelolaan, dan/atau Pengolahan Sumber Daya Alam agar selaras dengan pertumbuhan ekspor dengan cadangan devisa.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto beberapa waktu lalu menyatakan revisi peraturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dapat meningkatkan cadangan devisa nasional.
Berdasarkan PP Nomor 1/2019, hanya sektor pertambangan, perkebunan, kehutanan, dan perikanan, yang diwajibkan mengisi cadangan devisa dalam negeri. Selain menambah sektor komoditas ekspor, pemerintah juga akan meninjau lebih jauh terkait besaran jumlah yang harus masuk dalam cadangan devisa.
Dengan demikian, diharapkan peningkatan ekspor dan surplus neraca perdagangan akan sejalan dengan peningkatan cadangan devisa.
Penguatan rupiah juga didukung oleh momentum pelemahan dolar AS terhadap mata uang lainnya karena meningkatnya ekspektasi the Fed akan mengendurkan kenaikan suku bunga acuannya tahun ini akibat data inflasi Amerika Serikat (AS) terbaru yang memperlihatkan penurunan.
Baca Juga:
WALOVI Perluas Jangkauan di ASEAN, Gandeng Hong Xin Da untuk Perkuat Distribusi Produk di Singapura
Resmi Debutkan E5 PLUS Setir Kanan di Hong Kong, DFSK Percepat Ekspansi Global
Ekspektasi terhadap kebijakan the Fed tersebut mendorong pelaku pasar masuk kembali ke aset berisiko.








