MEDIA EMITEN – Pertamina NRE (PNRE) menargetkan kapasitas terpasang energi bersih 10 GW pada tahun 2026 yang dicapai dari bisnis gas to power, renewable energy, dan sejumlah inisiatif pengembangan energi lainnya.
Dalam PNRE terdapat tiga entitas, yaitu Pertamina Geothermal Energy (PGE), Jawa Satu Power (JSP), dan Jawa Satu Regas (JSR).
PNRE memiliki visi memimpin transisi energi di Indonesia melalui inovasi energi bersih.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Baca Juga: Pertamina Lanjutkan Proyek Pembangunan Kilang GRR Tuban ke Proses Disain Rinci
“Untuk mengawal transisi energi, PNRE memiliki aspirasi energi bersih dengan kapasitas terpasang 10 GW pada tahun 2026, yang merupakan konsolidasi dari gas to power, renewable energy termasuk di dalamnya geothermal, serta beberapa inisiatif baru lainnya, antara lain pilot project EV ecosystem dan hidrogen,” jelas Dannif Danusaputro, Chief Executive Officer Sub-holding PNRE yang dikutip mediaemiten.com.
Dijelaskan, aspirasi 10 GW pada tahun 2026 antara lain terdiri dari 6 GW pada lini bisnis gas to power, 3 GW renewable energy, dan 1 GW adalah inisiatif EBT lainnya seperti pengembangan EV ecosystem dan energi hidrogen.
Pada bisnis gas to power, yang saat ini sudah ada di dalam pipeline antara lain PLTGU Jawa-1 berkapasitas 1,8 GW dengan kemajuan proyek mencapai 97 persen, proyek IPP di Bangladesh berkapasitas 1,2 GW, serta proyek-proyek penyediaan listrik berbasis gas uap baik di dalam maupun luar negeri.
Baca Juga:
Dua Alumni Peking University Raih “Fields Medal”, Sebanyak 14 Akademisi PKU Tampil di ICM 2026
Pizza Hut Indonesia dan TUKR Rayakan 10 Tahun Pizza Maker Junior Ajak Anak Peduli Lingkungan
Sedangkan pada bisnis renewable energy, kontribusi signifikan berasal dari geothermal yang dikelola oleh PGE dengan target kapasitas terpasang 1,1 GW pada tahun 2026.
Sementara 1,9 GW berasal dari PLTS, PLTBg, smart grid, dan pembangkit listrik EBT lainnya.
Pertamina NRE juga tengah mengembangkan beberapa inisiatif, antara lain green dan blue hydrogen, serta EV ecosystem yang ditargetkan mencapai 1 GW pada tahun 2026.
Untuk mencapai aspirasi 10 GW pada tahun 2026, PNRE tidak saja mengerjakan proyek EBT di dalam Pertamina Group ataupun di dalam negeri tapi juga menjajaki ekspansi bisnis di luar negeri.
Baca Juga:
InfiMotion Technology Tampil Perdana ke Publik, Pamerkan Kapabilitas Lengkap E-Drive di Wuxi
Pemenang Stevie® Awards for Technology Excellence Tahunan Ketiga Diumumkan
Untuk mencapai aspirasi tersebut, investasi yang dibutuhkan mencapai sekitar US$ 12 miliar.
Simaki Pula: Kemenkes: Vaksinasi Tahap 3 Dimulai, Sasar Masyarakat Rentan dan Anak 12-17 Tahun
Transisi energi yang dikawal oleh PNRE bermuara pada komitmen Pertamina untuk mendukung pemerintah menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29% pada tahun 2030.
Dalam rangka mendukung inisiatif-inisiatif tersebut, baru-baru ini sub-holding PNRE bersama sejumlah perusahaan Jepang, Lemigas, dan ITB menandatangani kesepakatan untuk melakukan studi bersama pengembangan teknologi carbon capture, utilization, and storage (CCUS) di lapangan migas Sukowati dan Gundih.
CCUS merupakan teknologi bersih yang memungkinkan penangkapan CO2 agar tidak lepas ke atmosfer.
Dikatan Dannif, Pertamina memiliki komitmen kuat untuk menerapkan ESG dalam mengelola bisnis.
Baca Juga:
AdaKami Bangun Akses Air Bersih dan Sanitasi Layak untuk Warga Dusun Banjarsari Lampung Selatan
T’way Air Luncurkan Program “Explore Korea, One Destination at a Time”
UOB Asset Management Soroti Ketahanan Ekonomi Global di Tengah Kondisi yang Semakin Tidak Menentu
Sebagai bagian dari global community, Pertamina aktif mendukung upaya menekan laju perubahan iklim dunia.
“Khususnya di Indonesia, Pertamina mendukung kuat target pemerintah untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada tahun 2030 dan mencapai net zero emission pada tahun 2060,” tutur Dannif.
Bentuk komitmen Pertamina tersebut salah satunya adalah dengan memenuhi kebutuhan listrik dari pembangkit listrik EBT di wilayah-wilayah kerja Pertamina.
Dalam hal ini, PNRE telah melakukan kolaborasi dengan sub-holding lain ataupun afiliasi Pertamina lainnya untuk menyediakan kebutuhan tersebut, antara lain PLTS Badak dengan kapasitas 4 MW serta SPBU Pertamina dengan kapasitas 257 KW.
Proyek-proyek EBT yang saat ini sedang berjalan antara lain PLTS Dumai berkapasitas 2 MW dan PLTS Cilacap berkapasitas 2 MW.
Tidak sebatas itu, Pertamina NRE saat ini juga sedang terus melaksanakan proyek PLTS di SPBU Pertamina yang tersebar di wilayah nusantara.
Untuk proyek ini, PNRE memiliki ambisi menyediakan PLTS di 1000 SPBU Pertamina.
Tidak saja dalam Pertamina Group, penyediaan pembangkit listrik EBT juga dilakukan di sejumlah wilayah, antara lain PLTBg Sei Mangkei dengan kapasitas 2,4 MW, serta PLTBg Kwala Sawit dan Pagar Merbau dengan kapasitas 2×1 MW.
Selain itu seperti diketahui, Pertamina NRE bersama MIND ID, Antam, dan PLN tergabung dalam Indonesia Battery Corporation (IBC), holding BUMN yang bergerak di industri baterai dari hulu ke hilir. (ENI)
Baca Juga: Guys Simak ya, 570 Instansi Pemerintah Buka Rekrutmen Seleksi Calon ASN 2021











