Perbankan Disarankan Geser Strategi Pendapatan dari Bunga ke Jasa

- Pewarta

Jumat, 26 Oktober 2018 - 08:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mediaemiten.com, Jakarta – Ekonom senior Bursa Efek Indonesia (BEI) Poltak Hotradero menyarankan perbankan menggeser strategi pendapatan dari pendapatan bunga menjadi pendapatan jasa (fee based income) dalam menghadapi era suku bunga tinggi saat ini.

“Strategi perbankan perlu ke arah sana, karena itu `income` yang `robust` terhadap perubahan suku bunga dan lain-lain. Jadi lebih stabil,” ujar Poltak di Jakarta, Jumat (26/10/2018).

Poltak menuturkan marjin bunga bersih(NIM) perbankan di Indonesia memang relatif tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu di sekitar lima persen. Namun ke depan marjin tersebut kecenderungannya akan terus turun.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

“NIM itu kan makin lama akan makin tipis. Sementara pemberlakuan Basel III atau syaratnya `kan` lebih tinggi. Itu berarti manajemen risiko menjadi lebih ketat, kualitas jaminannya juga harus naik. Ini kan pasti berat bagi perbankan,” kata Poltak.

Ia mencontohkan NIM perbankan negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia yang hanya di kisaran 1-3 persen, namun tetap dapat tumbuh dan berkembang dengan baik kendati ada gejolak ekonomi global.

“Mereka masih bisa berkembang sementara tingkat suku bunganya rendah, `cost of fund` rendah. Kok mereka bisa? Ya karena pendapatannya berasal dari `fee based income.` Jadi ke depan, sebenarnya penting bagi bank itu perkuat pendapatan jasa,” ujar Poltak.

Menurut dia, ke depan, bank-bank di Indonesia bisa menjadi “universal bank” di mana bank juga bisa masuk ke asuransi, pasar modal, ataupun lembaga keuangan lainnya, sehingga akan semakin banyak produk yang bisa ditawarkan kepada masyarakat.

“Bank bisa jual produk asuransi melalui bancassurance atau jadi agen penjual atas instrumen reksadana,” ujarnya.

Saat ini, tutur Poltak, aset industri reksadana mencapai lebih dari Rp500 triliun. Angka tersebut masih relatif kecil dibandingkan dengan tetangga, sehingga potensi tumbuhnya masih sangat besar.

“Dibandingkan Thailand, per kapitanya sudah ekuivalen 1.000 dolar aset `under management` dari industri reksadana mereka. Kita itu baru 150 dolar. Jadi industri ini masih bisa berkembang delapan kali lipat dari sekarang,” ujarnya.

Ia menegaskan bank-bank masih punya ruang yang besar untuk terus tumbuh dan berkembang. Poltak mencontohkan BCA yang berhasil mengoptimalkan pemasukan dari pendapatan jasa. Namun secara umum, ia menilai masih banyak bank yang belum siap karena keterbatasan sumber daya manusia.

“Kembali lagi pada kapabilitas, kapasitas manusia tiap bank itu beda-beda. Beberapa bank mungkin punya kesulitan karena kapasitas mereka belum cukup tinggi,” ujar Poltak. (cit)

Berita Terkait

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama
FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025
Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?
Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan
Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek
Kasus Jiwasraya: Tanah Benny Tjokro Bogor Dilelang, Negara Kumpulkan Rp18 M
ICC Singapura Jadi Arena Gugatan Kontrak Satelit: Indonesia Siapkan Bukti Lengkap Lawan Detenté Operation
TRUE Optimistis Proyek District East Meningkatkan Laba dan Valuasi Aset
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 23:53 WIB

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama

Kamis, 14 Agustus 2025 - 11:43 WIB

FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025

Jumat, 1 Agustus 2025 - 07:16 WIB

Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?

Senin, 28 Juli 2025 - 09:59 WIB

Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan

Kamis, 17 Juli 2025 - 14:29 WIB

Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek

Berita Terbaru