Pengusaha Keluhkan Mahalnya Barter Valas ke Rupiah

- Pewarta

Kamis, 9 Agustus 2018 - 04:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mediaemiten.com, Jakarta – Mekanisme dan biaya swap atau sederhananya kegiatan barter valas ke rupiah dikeluhkan kalangan pengusaha karena dianggap mahal dan membebani.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno di Jakarta, Rabu (8/8/2018) mengatakan biaya untuk swap seharusnya bisa lebih murah dari saat ini, yang sebesar lima persen untuk tenor satu bulan dan enam persen untuk tenor enam bulan.

“Empat persen saja masih kemahalan. Sekarang kita dirayu dong supaya mau menukarkan dolar ke rupiah pada saat kita tidak membutuhkan rupiah,” ujar dia.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dengan premi yang mahal, menurut Benny, tidak banyak pengusaha yang menggunakan fasilitas tersebut.

Di samping itu, dia mengaku beberapa eksportir menyimpan Dana Hasil Ekspor (DHE) dalam bentuk valas karena eksportir membutuhkan valas untuk belanja impor bahan baku. Menurut Benny, secara rata-rata sudah 40 persen DHE dikonversikan ke rupiah.

Benny mengusulkan agar BI dan pemerintah perlu selektif dalam menerapkan kebijakan untuk mendorong DHE kembali ke Indonesia dan dikonversikan ke rupiah.

Misalnya, eksportir yang menggunakan bahan baku sumber daya alam (SDA) perlu diwajibkan mengkonversikan 100 persen devisa hasil ekspornya ke rupiah. Sedangkan eksportir yang melakukan impor untuk memperoleh bahan bakunya perlu diberikan keringanan.

“Yang bahan bakunya SDA, yang dikasih Tuhan ke Republik kita, mereka tinggal cangkul saja, seharusnya diwajibkan. Kalau yang gunakan bahan baku impor karena di sini bahan bakunya tidak ada, harusnya diringankan,” ujar dia.

Ekportir, kata Benny, lebih membutuhkan kemudahan dan kerendahan biaya untuk konversi valas ke rupiah. Baru setelah itu, insentif dari pemerintah untuk membawa pulang DHE ke domestik.

Bank Indonesia sebelumnya menyatakan sedang mempersiapkan relaksasi agar biaya transaksi swap valas bisa lebih rendah dari saat ini.

Swap merupakan transaksi pertukaran dua valas melalui pembelian tunai dengan penjualan kembali secara berjangka, atau penjualan tunai dengan pembelian kembali secara berjangka.

Sepanjang 2017 nilai ekspor Indonesia mencapai 168,73 miliar dolar AS. Dari angka tersebut, DHE yang dibawa pulang dan disimpan di perbankan domestik sebesar 90 persen. Bahkan dari angka tersebut, jika merujuk data BI, baru 15,1 persen yang dikonversi ke rupiah.

Pemerintah dan BI tengah berupaya menarik DHE dan mengonversinya ke rupiah dari valas untuk memperkuat cadangan devisa serta mempersempit defisit transaksi berjalan. Cadangan devisa terus anjlok sejak Januari 2018, di antaranya, untuk kebutuhan intervensi pasar guna menstabilisasi nilai tukar rupiah. (iap)

Berita Terkait

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama
FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025
Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?
Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan
Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek
Kasus Jiwasraya: Tanah Benny Tjokro Bogor Dilelang, Negara Kumpulkan Rp18 M
ICC Singapura Jadi Arena Gugatan Kontrak Satelit: Indonesia Siapkan Bukti Lengkap Lawan Detenté Operation
TRUE Optimistis Proyek District East Meningkatkan Laba dan Valuasi Aset

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 23:53 WIB

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama

Kamis, 14 Agustus 2025 - 11:43 WIB

FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025

Jumat, 1 Agustus 2025 - 07:16 WIB

Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?

Senin, 28 Juli 2025 - 09:59 WIB

Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan

Kamis, 17 Juli 2025 - 14:29 WIB

Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek

Berita Terbaru