OJK Berikan Sanksi Jika Oknum Bank Terlibat Kasus SNP Finance

- Pewarta

Rabu, 26 September 2018 - 06:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mediaemiten.com, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan menyatakan akan memberikan sanksi kepada oknum pegawai bank yang terbukti terlibat dalam kasus pembobolan bank bermodus jaminan kredit fiktif yang diduga dilakukan PT. SNP Finance, anak usaha Grup Columbia.

OJK saat ini terus memeriksa permasalahan SNP Finance dan telah mengerahkan tim audit internal untuk melakukan investigasi.

“(Kami) akan memberikan sanksi, jika ada pegawai bank yang ikut bertanggungjawab. Kami juga koordinasi dengan kepolisian dan kementerian keuangan, untuk penindakan yang diperlukan,” kata Juru Bicara OJK Sekar Putih Djarot saat dihubungi Antara di Jakarta, Rabu (26/9/2018).

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP) Finance merupakan anak usaha Grup Columbia yang bergerak di bidang pembiayaan untuk pembelian alat-alat rumah tangga. Pada Senin (26/9/2018) kemarin lusa, Bareskrim Polri menaikkan kasus dugaan pembobolan bank oleh SNP Finance kepada 14 bank ke tahap penyidikan dengan menetapkan lima tersangka yang merupakan pimpinan SNP Finance.

Menurut Sekar, awal mula permasalahan SNP Finance adalah ketika ketidakmampuan membayar tunggakan kredit yang dipinjam kepada bank. SNP berbisnis dengan membiayai pembelian barang yang dilakukan induk usahanya Columbia Grup.

“Seiring dengan turunnya bisnis toko Columbia, kredit perbankan tersebut mengalami permasalahan dan menjadi NPL,” kata Sekar.

Kemudian untuk membayar tunggakan itu, SNP menerbitkan surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN). Pefindo adalah lembaga pemeringkat MTN SNP berdasarkan laporan keuangan SNP yang diaduit oleh afiliasi Kantor Akuntan Publik (KAP) ternama, DeLoitte.

“Perlu diketahui penerbitan MTN tidak melalui proses di OJK, kareba MTN itu perjanjian yang bersifat private, namun memerlukan pemeringkatan karena dapat diperjualbelikan,” ujar dia.

Namun, terjadi permasalahan dalam pembayaran imbal hasil MTN tersebut. SNP akhirnya mengajukan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) terhadap kewajibannya sebesar Rp4,07 triliun. Kewajban itu terdiri dari kredit perbankan sebesar Rp2,22 triliun dan MTN sebesar Rp1,85 triliun.

Berdasarkan penelusuran, peringkat efek SNP Finance periode Desember 2015-2017 adalah “idA-/stable”, kemudian Maret 2018 peringkat SNP Finance naik menjadi “idA/stable”. Lalu Pefindo menurunkan peringkat efek SNP sebanyak dua kali, yakni bulan Mei 2018 diturunkan menjadi “idCCC/credit watch negative” dan pada bulan yang sama menurunkan lagi ke peringkat “idSD/selective default”.

OJK akhirnya membekukan kegiatan usaha SNP Finance sejak Mei 2018, karena belum menyampaikan keterbukaan informasi kepada seluruh kreditur dan pemegang MTN sampai batas waktu sanksi peringatan ketiga. Pembekuan usaha itu sesuai pasal 53 Peraturan OJK/POJK nomor 29/2014.

Dengan dibekukannya kegiatan usaha, maka SNP Finance dilarang melakukan kegiatan usaha pembiayaan. Apabila SNP finance tetap melakukan kegiatan usaha pembiayaan, maka OJK dapat langsung mengenakan sanksi pencabutan izin usaha.

Selama masa sanksi pembekuan usaha (PKU), SNP Finance diwajibkan menyampaikan dan melakukan serangkaian tindakan korektif.

“Dalam jangka waktu enam bulan sejak ditetapkan PKU, SNP Finance tidak memenuhi tindakan-tindakan tersebut, maka SNP Finance dapat dikenakan sanksi pencabutan usaha,” ujar Sekar. (ari)

Berita Terkait

Emiten Berlaba Pertumbuhan Kinerja Wilmar Group Dibayangi Kasus Perampasan Lahan Rakyat
Rochmad Widodo Jadi Pemimpin Redaksi Serambiislam.com dan Jaziranews.com, Ini Fokus SapuLangit Media
Media Saatini.com Bidik 100 Portal Media pada 2026, Buka Peluang Kemitraan Digital bagi UMKM dan Tokoh Publik
Alasan “Komunikasi Tidak Efektif” Dipakai PHK, Kuasa Hukum: Tak Sesuai UU
PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama
FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025
Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?
Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 07:48 WIB

Emiten Berlaba Pertumbuhan Kinerja Wilmar Group Dibayangi Kasus Perampasan Lahan Rakyat

Minggu, 18 Oktober 2026 - 23:44 WIB

Rochmad Widodo Jadi Pemimpin Redaksi Serambiislam.com dan Jaziranews.com, Ini Fokus SapuLangit Media

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:55 WIB

Media Saatini.com Bidik 100 Portal Media pada 2026, Buka Peluang Kemitraan Digital bagi UMKM dan Tokoh Publik

Jumat, 21 Agustus 2026 - 19:38 WIB

Alasan “Komunikasi Tidak Efektif” Dipakai PHK, Kuasa Hukum: Tak Sesuai UU

Jumat, 13 Maret 2026 - 23:53 WIB

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama

Berita Terbaru

MEIYUME HADIRKAN BEACON DI COSMOPACK ASIA 2026

Pers Rilis

MEIYUME HADIRKAN BEACON DI COSMOPACK ASIA 2026

Rabu, 4 Nov 2026 - 07:40 WIB