MEDIA EMITEN – PT Timah Tbk (TINS) membukukan laba bersih sebesar Rp 601 miliar padatriwulan I-2022 atau melesat 5.713% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 10,3 miliar.
Kenaikan harga logam timah, menjadi faktor utama kenaikan laba, selain dipicu oleh efektifitas perseroan dalam menekan biaya operasional.
“Kenaikan profitabilitas perseroan terlihat pula dari kenaikan EBITDA sebesar 213% menjadi Rp 1,1 triliun dari sebelumnya Rp 347 miliar,” kata Direktur Keuangan Timah Krisna Sjarif dalam keterangan tertulis, Rabu 18 Mei 2022.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, pendapatan TINS pada triwulan I-2022 sebesar Rp 4,4 triliun, melonjak 80% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba operasional naik 575% menjadi Rp 885 miliar dari Rp 131 miliar.
Posisi cash flow operasi TINS meningkat 111% menjadi Rp 2,1 triliun dari Rp 900 miliar. Pinjaman bank dan utang obligasi pada turun signifikan menjadi Rp 3,7 triliun dari Rp 5,1 triliun.
Indikasi membaiknya performa finansial TINS terlihat dari beberapa rasio, seperti quick ratio sebesar 44%, current ratio 153%, gross profit margin 25%, net profit margin 14%, debt to asset ratio 26%, dan debt to equity ratio 53%.
Mengenai kinerja operasi, TINS mampu memproduksi bijih timah pada triwulan I-2022 sebanyak 4.508 ton atau turun 11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 5.037 ton. Dari jumlah tersebut, sebesar 35% atau 1.583 ton berasal dari penambangan darat. Sisanya 65% atau 2.925 ton berasal dari penambangan laut.
Baca Juga:
EnerAI Perkenalkan Solusi Pasokan Daya untuk Pusat Data AI di Ajang ICBE&S 2026 Malaysia
Deteksi hingga Tangani Keluhan Lebih Cepat, RedDoorz Andalkan AI Demi Kenyamanan Tamu
Produksi logam timah TINS pada triwulan I-2022 turun 8% menjadi 4.820 Mton dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 5.220 Mton. Penjualan logam timah tercatat sebesar 5.703 Mton atau turun 4% dari 5.912 Mton.
Harga jual rata-rata logam timah pada triwulan I-2022 sebesar US$ 43.946 per Mton atau naik 76% dibandingkan kuartal I-2021 yang sebesar US$ 24.992 per Mton.
“Ke depan, perseroan terus berupaya untuk meningkatkan volume produksi, sehingga target produksi dapat tercapai sesuai RKAP. Produksi bijih timah berbiaya rendah dari penambangan offshore akan terus ditingkatkan agar profit margin yang optimal dapat dipertahankan,” ujar Krisna.







