MEDIA EMITEN – Harga minyak mentah ditutup naik pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Pemerintah AS memperkirakan rekor konsumsi minyak bumi global bisa terjadi tahun depan.
Harga minyak Brent berjangka naik 45 sen atau 0,6%, menjadi US$ 80,10 per barel, sementara harga minyak mentah AS menguat 49 sen, atau 0,6% pada US$ 75,12 per barel.
Konsumsi global untuk bahan bakar cair diperkirakan akan mencapai 102,2 juta barel per hari pada 2024, didorong pertumbuhan di negara-negara seperti India dan Tiongkok yang mencerminkan tren kenaikan aktivitas ekonomi, kata Administrasi Informasi Energi AS dalam Prospek Energi Jangka Pendeknya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pasar juga menunggu kejelasan tentang rencana Federal Reserve AS (The Fed) untuk menaikkan suku bunga setelah Ketua Fed Jerome Powell menghindari komentar tentang kebijakan moneter dan ekonomi pada simposium.
Trader mencermati data indeks harga konsumen (IHK) AS pada Kamis (11/1/2023) untuk indikasi prospek jangka pendek.
“Data Kamis dapat dengan mudah mengklarifikasi arah pasar keuangan dan minyak untuk beberapa minggu mendatang”, kata Tamas Varga dari pialang minyak PVM.
Dia mengatakan dolar akan jatuh jika inflasi di bawah ekspektasi atau di bawah proyeksi November.
Baca Juga:
Casio Luncurkan Seri MR-G yang Terinspirasi Fenomena “Brinicle” di Laut Kutub
Wafra Raih Kemenangan Tiga Kategori di Global Islamic Finance Innovation Awards 2026
Sinergi Unggulan: Dreame Gandeng Cristiano Ronaldo sebagai Global Ambassador
Dolar berada di sekitar level terlemahnya dalam 7 bulan. Pelemahan dolar dapat meningkatkan permintaan minyak, karena komoditas berdenominasi greenback menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.
Gubernur Fed Michelle Bowman mengatakan bank sentral AS harus menaikkan suku bunga lebih lanjut untuk memerangi inflasi dan kemungkinan kondisi pasar kerja yang lebih lemah.
China juga mengeluarkan kuota impor minyak mentah gelombang kedua 2023, meningkatkan total tahun ini sebesar 20% dari tahun lalu.
Baca Juga:







