Gara-gara Utang, Devisa Kita Anjlok 4 Miliar Dolar AS

- Pewarta

Jumat, 14 Juni 2019 - 02:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono/IST

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono/IST

Mediaemiten.com, Jakarta – Gara-gara utang, cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan 4 miliar dolar AS.Hal itu diungkapkan Direktur Eksekutif Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjarnako di Jakarta, kemarin. BI mencatat, posisi cadangan devisa Indonesia akhir Mei 2019 sebesar 120,3 miliar dolar. Posisi ini lebih rendah 4 miliar dolar AS dibandingkan posisi akhir April 2019 sebesar 124,3 miliar dolar AS.

Meski ada penurunan, kata Onny, BI memastikan jumlah cadangan devisa tersebut masih cukup tinggi. Menurutnya, penurunan cadangan devisa pada Mei 2019, dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Selain itu, menurunnya cadangan devisa juga disebabkan berkurangnya penempatan valas perbankan di BI sebagai antisipasi kebutuhan likuiditas valas terkait siklus pembayaran dividen beberapa perusahaan asing dan menjelang libur panjang Lebaran.

Kendati begitu, dia menilai jumlah cadangan devisa RI tersebut masih setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Bahkan, lanjut Onny, cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Ke depan, kata Onny, Bank Sentral memandang cadangan devisa tetap memadai dengan didukung stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik. Gubernur BI Perry Warjiyo optimis pertumbuhan ekonomi tetap positif tahun ini. Faktor domestik masih menjadi penopang utama perekonomian nasional.

“Kondisi domestik dan internasional yang membaik akan mendorong ekonomi bergerak positif tahun ini dan tahun depan. Namun demikian, pelemahan ekonomi global tetap menjadi faktor utama yang berisiko bagi pertumbuhan ekonomi,” kata Perry.

Kemudian, lanjut Perry implikasi perang dagang yang meningkat tahun ini diperkirakan akan membuat pertumbuhan ekonomi bergerak tipis tahun depan.

Selain itu, lesunya volume perdagangan global dan harga komoditas juga ikut memengaruhi pertumbuhan global tahun depan. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, pemerintah perlu memperhatikan posisi cadangan devisa dengan cermat.”Penurunan cadangan devisa saat ini juga terimbas ketidakpastian kondisi ekonomi global,” kata Bhima kepada Rakyat Merdeka.

Selama ini, tambah Bhima cadangan devisa RI masih ditopang oleh penerbitan utang dengan bunga diatas rata-rata negara di Asia Pasifik. Akibatnya, kalaupun ada kenaikan cadangan devisa, belum banyak berdampak positif terhadap sentimen pasar.

“Kenaikan devisa lebih banyak didorong oleh penerbitan global bond ketimbang kinerja ekspor tentu harus jadi perhatian. Idealnya, kenaikan cadangan devisa ditopang oleh peningkatan aktivitas ekonomi seperti ekspor dan pariwisata,” ujarnya.

Rilisbisnis.com mendukung program publikasi press release di media khusus ekonomi & bisnis untuk memulihankan citra yang kurang baik ataupun untuk meningkatan reputasi para pebisnis/entrepreneur, korporasi, institusi ataupun merek/brand produk.

Lalu, lanjut Bhima pembayaran bunga utang luar negeri yang saat ini masif dilakukan pemerintah juga beresiko sedot devisa.”Bulan Mei-Juni ini banyak perusahaan bagi-bagi dividen, biasanya asing akan konversi dividen ke valas lalu keluar dari Indonesia. Ini akan sedot cadangan devisa kita juga. Hal ini yang membuat pasar tidak merespons data ekonomi tersebut secara positif. Karenanya harus jadi perhatian pemerintah,” tegasnya. (*)

Berita Terkait

Kejaksaan Agung Sita Pertambangan Komoditas Nikel Milik Terpidana Heru Hidayat di Sulawesi Selatan
Terungkap OJK, Penyalahgunaan Dana Investor yang Dititipkan kepada Influencer Ahmad Rafif Raya
Penanganan Kasus Tambang Emas Tanpa Izin di Ketapang Diserahkan Ditjen Minerba ke Kejaksaan Negeri
Dapat Dukungan, Rencana Pembentukan Pansus Dugaan Mark Up Impor 2,2 Juta Ton Beras dari Vietnam
Dapat Dukungan, Rencana Pembentukan Pansus Dugaan Mark Up Impor 2,2 Juta Ton Beras dari Vietnam
BNSP Berikan Sertifikat Lisensi kepada LSP IKEPAMI, Dukung Kualitas SDM Pasar Modal Indonesia
Dampak Serangan Siber terhadap Server PDN, Dirjen Aplikasi Informatika Semuel Abrijani Pangerapan Undur Diri
Kejagung Sita Gula Kristal Putih 413 Ton dan Gula Kristal Mentah 300 Ton dalam Kasus Impor Gula PT SMIP
Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.

Berita Terkait

Rabu, 10 Juli 2024 - 13:28 WIB

Kejaksaan Agung Sita Pertambangan Komoditas Nikel Milik Terpidana Heru Hidayat di Sulawesi Selatan

Rabu, 10 Juli 2024 - 10:28 WIB

Terungkap OJK, Penyalahgunaan Dana Investor yang Dititipkan kepada Influencer Ahmad Rafif Raya

Rabu, 10 Juli 2024 - 08:19 WIB

Penanganan Kasus Tambang Emas Tanpa Izin di Ketapang Diserahkan Ditjen Minerba ke Kejaksaan Negeri

Sabtu, 6 Juli 2024 - 09:21 WIB

Dapat Dukungan, Rencana Pembentukan Pansus Dugaan Mark Up Impor 2,2 Juta Ton Beras dari Vietnam

Sabtu, 6 Juli 2024 - 08:35 WIB

Dapat Dukungan, Rencana Pembentukan Pansus Dugaan Mark Up Impor 2,2 Juta Ton Beras dari Vietnam

Jumat, 5 Juli 2024 - 21:22 WIB

BNSP Berikan Sertifikat Lisensi kepada LSP IKEPAMI, Dukung Kualitas SDM Pasar Modal Indonesia

Kamis, 4 Juli 2024 - 13:36 WIB

Dampak Serangan Siber terhadap Server PDN, Dirjen Aplikasi Informatika Semuel Abrijani Pangerapan Undur Diri

Rabu, 3 Juli 2024 - 14:57 WIB

Kejagung Sita Gula Kristal Putih 413 Ton dan Gula Kristal Mentah 300 Ton dalam Kasus Impor Gula PT SMIP

Berita Terbaru