MEDIA EMITEN – Harga emas menguat pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), mencatat kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut, karena pelemahan dolar AS.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Juni di divisi Comex New York Exchange, terdongkrak US$ 5,7 atau 0,31% menjadi US$ 1.847,80 per ounce. Emas membukukan kenaikan mingguan 1,8% pekan lalu, mengakhiri kerugian empat pekan yang merupakan penurunan mingguan terpanjang sejak 17 Agustus 2018.
Dolar AS turun pada Senin (23/5/2022) setelah mencatat kerugian mingguan pertama dalam hampir dua bulan. Imbal hasil acuan obligasi pemerintah AS 10-tahun menguat setelah penurunan beruntun tiga sesi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 1,04% menjadi 102,0760. Dolar AS juga tertekan karena mata uang sensitif risiko seperti dolar Australia dan sterling menguat.
“Sebelum berbalik bullish secara struktural, saya perlu melihat emas mempertahankan kenaikannya baru-baru ini dalam menghadapi penguatan dolar, dan bukan pelemahan dolar,” kata analis senior OANDA Jeffrey Halley.
Sementara itu, berbicara di Rotary Club of Atlanta, Presiden Federal Reserve Atlanta Raphael Bostic mengindikasikan pada Senin (23/5/2022) bahwa ekonomi dapat merespon dengan cepat terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve, yang pada gilirannya membantu mengekang permintaan dan inflasi.
Federal Reserve AS juga akan merilis risalah dari pertemuan terbaru yang dijadwalkan pada Rabu 25 Mei 2022.
Baca Juga:
Penguatan emas dibatasi karena ketiga indeks pasar saham utama AS naik tajam, didorong oleh prospek Amerika Serikat menurunkan tarif China.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Juli naik 4,9 sen atau 0,23% menjadi US$ 21,723 per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli naik US$ 9,2 atau 0,98% menjadi US$ 950,3 per ounce.






