MEDIA EMITEN – Harga emas menguat menembus level psikologis US$ 1.800 pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB). Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan mendorong permintaan safe haven terhadap emas.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di divisi Comex New York Exchange, menguat US$ 9,20 atau 0,51% menjadi US$ 1.810,70 per ounce, setelah diperdagangkan tertinggi sesi di US$ 1.819,00 dan terendah sesi di US$ 1.800,10 per ounce.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkanbahwa indeks harga produsen AS meningkat 0,3% bulan ke bulan (mtm) pada November, lebih tinggi dari kenaikan 0,2% yang diperkirakan oleh para ekonom.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertumbuhan harga grosir AS yang lebih tinggi dari perkiraan meredam harapan bahwa inflasi bisa mengarah lebih rendah, meningkatkan permintaan safe haven investor untuk emas.
Sementara itu, Departemen Perdagangan AS melaporkan pada Jumat bahwa persediaan pedagang grosir AS meningkat 0,5% pada Oktober dalam sebulan, sedikit berkurang dari kenaikan 0,6% yang tercatat pada September.
Pembacaan awal indeks sentimen konsumen Universitas Michigan menunjukkan lompatan tak terduga ke 59,1 pada Desember, naik dari 56,8 pada November dan mengalahkan perkiraan pasar untuk pembacaan 56,9.
Investor memperkirakan kenaikan suku bunga 50 basis poin dalam pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve minggu depan.
Baca Juga:
Wafra Raih Kemenangan Tiga Kategori di Global Islamic Finance Innovation Awards 2026
Sinergi Unggulan: Dreame Gandeng Cristiano Ronaldo sebagai Global Ambassador
Emas berjangka naik hampir 0,1% untuk minggu ini.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret naik 47,1 sen atau 2,03% menjadi US$ 23,717 per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari naik US$ 21,60 atau 2,13% menjadi US$ 1.036,20 per ounce.







