Dolar Sedikit Melemah, Investor Khawatir Perlambatan Ekonomi Global

- Pewarta

Selasa, 22 Januari 2019 - 04:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dolar Sedikit Melemah, Investor Khawatir Perlambatan Ekonomi Global

Dolar AS sedikit melemah terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan.

Mediaemiten.com, New York – Kurs dolar AS sedikit melemah terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa pagi (22/1/2019), tertekan oleh kekhawatiran investor tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Pertumbuhan global diperkirakan akan tetap sekitar 3,0 persen pada 2019 dan 2020, setelah mencatat ekspansi 3,1 persen pada 2018, kata sebuah laporan terbaru yang dikeluarkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) seperti dikutip dari Xinhua.

“Kombinasi tantangan pembangunan yang mengkhawatirkan selanjutnya dapat merusak pertumbuhan,” menurut Situasi dan Prospek Ekonomi Dunia PBB 2019 (United Nations World Economic Situation and Prospects 2019), yang diluncurkan pada Senin (21/1) di markas PBB, di New York.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,01 persen menjadi 96,3298 pada akhir perdagangan.

Pada akhir perdagangan New York, euro tidak berubah pada 1,1369 dolar AS dari 1,1369 dolar AS pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,2888 dolar AS dari 1,2871 dolar pada sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi 0,7158 dolar AS dari 0,7167 dolar AS.

Dolar AS dibeli 109,64 yen Jepang, lebih rendah dari 109,78 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,9976 franc Swiss dari 0,9952 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3293 dolar Kanada dari 1,3269 dolar Kanada.

Dolar AS saat ini sedang diuntungkan dari perannya sebagai mata uang safe haven, tetapi pelemahannya pada 2019 adalah pandangan konsensus di antara pedagang pasar mata uang, karena investor bertaruh bahwa bank sentral AS akan berhenti menaikkan suku bunga dan ekonomi akan melambat setelah dorongan fiskal tahun lalu, para pakar mencatat. (pep)

Berita Terkait

Alasan “Komunikasi Tidak Efektif” Dipakai PHK, Kuasa Hukum: Tak Sesuai UU
PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama
FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025
Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?
Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan
Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek
Kasus Jiwasraya: Tanah Benny Tjokro Bogor Dilelang, Negara Kumpulkan Rp18 M
ICC Singapura Jadi Arena Gugatan Kontrak Satelit: Indonesia Siapkan Bukti Lengkap Lawan Detenté Operation

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 19:38 WIB

Alasan “Komunikasi Tidak Efektif” Dipakai PHK, Kuasa Hukum: Tak Sesuai UU

Jumat, 13 Maret 2026 - 23:53 WIB

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama

Kamis, 14 Agustus 2025 - 11:43 WIB

FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025

Jumat, 1 Agustus 2025 - 07:16 WIB

Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?

Senin, 28 Juli 2025 - 09:59 WIB

Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan

Berita Terbaru

Flexsys Mengumumkan Kenaikan Harga Global untuk Sulfur Tak Larut

Pers Rilis

Flexsys Mengumumkan Kenaikan Harga Global untuk Sulfur Tak Larut

Jumat, 11 Sep 2026 - 00:05 WIB