Dolar AS Jatuh Setelah Risalah FED Indikasikan Pengurangan Pengetatan Moneter

- Pewarta

Kamis, 10 Januari 2019 - 07:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dolar AS Jatuh Setelah Risalah FED Indikasikan Pengurangan Pengetatan Moneter

Mediaemiten.com, New York – Kurs dolar AS jatuh terhadap mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis pagi (10/1/2019)), menyentuh level terendah baru sejak Oktober tahun lalu, setelah risalah terbaru dari pertemuan kebijakan Federal Reserve AS mengisyaratkan berkurangnya pengetatan moneter.

Selain itu, para investor juga menaruh harapan pada hasil perundingan dagang antara Amerika Serikat dan China yang baru saja berakhir.

“Komite dapat bersabar tentang kebijakan lebih lanjut,” kata Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dalam risalah pertemuan 18-19 Desember 2018, yang dirilis pada Rabu (9/1/2019).

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pernyataan itu dibuat ketika FOMC, salah satu unit The Fed yang menentukan tingkat suku bunga dan pertumbuhan uang beredar, percaya bahwa volatilitas baru-baru ini di pasar keuangan dan meningkatnya kekhawatiran tentang pertumbuhan global telah membuat “tingkat dan waktu yang tepat dari kebijakan mendatang yang kurang jelas dari sebelumnya.” Mempertimbangkan status quo pasar keuangan, komite menekankan bahwa “pengetatan tambahan dalam jumlah yang relatif terbatas mungkin akan menjadi lebih tepat.” Langkah-langkah tersebut mengindikasikan bahwa bank sentral AS kemungkinan akan melonggarkan batasannya pada uang yang mengalir di pasar, yang akibatnya akan sedikit mengurangi komparatif greenback.

Sentimen investor juga tumbuh positif di tengah harapan hasil yang baik dari perundingan dagang yang baru saja diselesaikan antara pejabat perwakilan perdagangan AS dan China di Beijing.

Sistem perdagangan global yang stabil akan menawarkan bantuan bagi investor aset-aset berisiko yang menguntungkan dan memungkinkan mereka untuk mengurangi kepemilikan mata uang “safe haven” seperti greenback.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,72 persen menjadi 95,2150 pada akhir perdagangan.

Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi 1,1544 dolar AS dari 1,1442 dolar AS pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,2794 dolar AS dari 1,2719 dolar AS pada sesi sebelumnya. Dolar Australia naik ke 0,7180 dolar AS dari 0,7139 dolar AS.

Dolar AS dibeli 108,26 yen Jepang, lebih rendah dari 108,63 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9750 franc Swiss dari 0,9812 franc Swiss, dan jatuh ke 1,3221 dolar Kanada dari 1,3282 dolar Kanada. (pep)

Berita Terkait

Alasan “Komunikasi Tidak Efektif” Dipakai PHK, Kuasa Hukum: Tak Sesuai UU
PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama
FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025
Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?
Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan
Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek
Kasus Jiwasraya: Tanah Benny Tjokro Bogor Dilelang, Negara Kumpulkan Rp18 M
ICC Singapura Jadi Arena Gugatan Kontrak Satelit: Indonesia Siapkan Bukti Lengkap Lawan Detenté Operation

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 19:38 WIB

Alasan “Komunikasi Tidak Efektif” Dipakai PHK, Kuasa Hukum: Tak Sesuai UU

Jumat, 13 Maret 2026 - 23:53 WIB

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama

Kamis, 14 Agustus 2025 - 11:43 WIB

FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025

Jumat, 1 Agustus 2025 - 07:16 WIB

Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?

Senin, 28 Juli 2025 - 09:59 WIB

Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan

Berita Terbaru