MEDIA EMITEN – Dedolarisasi yakni mengurangi ketergantungan pemakaian dolar AS makin masif belakangan ini. Negara-negara BRICS yang terdiri atas Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan mempertimbangkan membuat mata uang baru untuk memfasilitasi perdagangan.
Perjanjian terkait pemakaian mata uang baru diprediksi paling cepat terjadi pada Agustus, ketika negara-negara tersebut bertemu dalam pertemuan puncak tahunan di Afrika Selatan.
Penciptaan uang baru tersebut menjadi upaya BRICS menyingkirkan dolar AS dan melawan hegemoni Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebelumnya, ASEAN juga berkomitmen untuk memperkuat mata uang sendiri di kawasan. Hal ini dilakukan guna mengatasi ketidakpastian ekonomi global dengan volatilitas dolarAS yang tinggi.
Retno Marsudi pada acara press briefing ASEAN 2023 di kantor Kemlu RI, Jakarta, Rabu 5 April 2023 menjelaskan, pemakaian mata uang ASEAN dapat digunakan untuk “transaksi perdagangan dan konektivitas mekanisme pembayaran di kawasan ASEAN.”
“Dalam pertemuan Menkeu dan Bank Sentral ASEAN, disepakati komitmen negara ASEAN untuk menggunakan mata uang lokal dan perluasan konektivitas mekanisme pembayaran (regional payment connectivity) guna memperkuat stabilitas keuangan di kawasan,” ujar Menlu RI
Meski demikian, pihak Kemlu RI tidak menggunakan istilah dedolarisasi. Isu seputar pemakaian mata uang regional di ASEAN (Local Currency Settlement/LCS) sebetulnya bukan hal baru.
Baca Juga:
WEPACK 2027 Kembali Digelar di Shanghai, Satukan Seluruh Rantai Industri Kemasan
DBS Group Raih Gelar Bank Teraman di Asia untuk ke-18 Tahun Berturut-turut
Sungrow Hadirkan Solusi Microgrid Terintegrasi untuk Sektor Komersial dan Industri di Asia Tenggara
Bank Indonesia juga telah menjelaskan bahwa kebijakan ini bisa mengurangi porsi demand terhadap dolar AS. Pada pertemuan bank sentral negara-negara ASEAN di Bali, Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkap keingingan membentuk task force untuk isu ini.
“Kami bertujuan untuk membentuk gugus tugas transaksi mata uang lokal ASEAN untuk memiliki diskusi yang kuat dan terfokus pada mata uang lokal,” ungkapnya pada akhir Maret kemarin.
Para pendukung dedolarisasi mengatakan, proses ini akan mengurangi ketergantungan negara lain pada dolar AS dan ekonomi Amerika Serikat. Langkah ini juga dapat membantu mengurangi dampak perubahan ekonomi dan politik di AS terhadap ekonomi mereka sendiri.
Selain itu, negara-negara dapat mengurangi keterpaparan terhadap fluktuasi mata uang dan perubahan suku bunga, yang dapat membantu meningkatkan stabilitas ekonomi dan mengurangi risiko krisis keuangan.
Baca Juga:
CGTN Luncurkan News Pal, Asisten Berita Berbasis AI
Debut Global All-New TIGGO7 dan TIGGOX7 di CHERY Brand Night, Usung Semangat “Together. For Family”
Blokees Pamerkan Lebih dari 900 Produk di China Toy Expo 2026, Terus Perkuat Daya Saing Produk
Upaya tersebut agaknya berjalan cukup cepat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat bahwa bank sentral saat ini tidak memegang greenback sebagai cadangan dalam jumlah yang sama seperti sebelumnya.
Bagian dolar dari cadangan devisa global turun di bawah 59% pada kuartal terakhir tahun lalu, memperpanjang penurunan dua dekade, menurut data Komposisi Mata Uang dari Cadangan Devisa Resmi IMF.








