Mediaemiten.com, Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Persero Tbk mengantongi laba bersih Rp23,5 triliun sepanjang kuartal III 2018, atau meningkat 14,6 persen secara tahunan (yoy) karena antara lain pendapatan berbasis komisi yang tumbuh 18,4 persen.
Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (24/10/2018), mengatakan pendapatan berbasis komisi yang menyumbang keuntungan non-bunga ini juga mengkompensasi pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) perusahaan yang tumbuh lebih lamban dibanding komisi.
Namun, pendapatan bunga atau NII tetap menjadi penebal kantong BRI dengan sumbangan Rp57,9 triliun. Sedangkan pendapatan berbasis komisi menyumbang Rp16,2 triliun dengan pertumbuhan18,4 persen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Target akhir tahun laba bisa dipertahankan untuk tumbuh dua digit,” kata Haru.
Tingkat NII perseroan juga mempengaruhi marjin bunga bersih (NIM) yang dikeruk perseroan. Selain itu, biaya dana (cost of fund) BRI juga meningkat di kuartal III 2018 ini karena banyak korporasi yang membayarkan dividennya sehingga menarik simpanannya dari BRI.
“Namun rasio permodalan kita (Capital Adequacy Ratio/CAR) di 20 persen masih aman untuk menopang target penyaluran kredit,” ujarnya.
Fungsi intermediasi BRI ditandai dengan penyaluran kredit Rp808,9 triliun atau naik sebesar 16,5 persen (yoy) dibandingkan periode September 2017 yang sebesar Rp694,2 triliun.
Baca Juga:
Terapi CAR-T Pertama di Dunia untuk Tumor Padat Segera Tersedia di Tiongkok
Narada Luncurkan Sistem Daya Cadangan Generasi Baru untuk AIDC, AIOn X-Rate
Ceva Animal Health Menunjuk Sébastien Huron Sebagai Wakil Chief Executive Officer
Dari total kredit itu, sebanyak Rp621,8 triliun atau mayoritas 76,9 persen disalurkan ke segmen UMKM atau tumbuh 16,5 persen.
Dari penyaluran kredit itu, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) BRI sebesar 2,5 persen. Angka itu mengalami kenaikan dibanding kuartal II 2018 yang sebesar 2,2 persen.
Pendorong kredit salah satunya likuiditas dari penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang naik 13,3 persen (yoy) ke posisi Rp872,7 triliun. Dana murah (CASA) masih mendominasi DPK BRI dengan proporsi 56,5 persen.
Dari penghimpunan DPK dan penyaluran kredit itu, aset BRI secara konsolidasi sebesar Rp1.183,4 triliun, naik 13,9 persen (yoy). (iap)






