Mediaemiten.com, Jakarta – Badan Pusat Statistik menyebutkan nilai ekspor bersih yang tercatat minus pada 2018 perlu diperbaiki agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi secara optimal dan mencapai target sebesar 5,3 persen sesuai APBN 2019.
Kepala Badan Pusat Statisik (BPS) Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (4/2/2019), mengatakan net ekspor 2018 yang minus 0,99 persen adalah pertama kali sejak tiga tahun terakhir.
Menurut dia, net ekspor yang turun sudah terlihat sejak kuartal II 2018.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Itu menjadi salah satu pekerjaan rumah besar yang harus segera dipecahkan, karena berdampak terhadap komponen ekspor dan impor di pertumbuhan ekonomi,” ujar Suhariyanto.
Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 tumbuh 5,17 persen atau belum mencapai target APBN 2018 yang sebesar 5,4 persen.
Pertumbuhan ekonomi yang sebesar 5,17 persen itu didorong oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh sebesar 5,05 persen secara kumulattif pada 2018 dibandingkan 4,94 persen pada 2017.
Kemudian, investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB), tumbuh 6,67 persen dibandingkan 6,15 persen pada 2017.
Baca Juga:
CHiQ Raih “AI Home Ecosystem Brand Award”, Hadirkan Pengalaman Gaya Hidup Cerdas Lewat Inovasi AI
Konferensi Promosi Pariwisata Budaya Henan dan Pameran Budaya Heluo Digelar di Indonesia
Hisense Perpanjang Kemitraan dengan UEFA sebagai Sponsor Resmi UEFA EURO 2028
Selanjutnya, konsumsi lembaga nonprofit rumah tangga (LNPRT) tumbuh sebesar 9,08 persen, dan konsumsi pemerintah naik 4,8 persen.
Sedangkan, ekspor di dalam struktur PDB juga menjadi 6,48 persen. Namun, angka ekspor itu masih jauh dibanding pertumbuhan impor yang sebesar 12,04 persen.
Suhariyanto mengatakan upaya untuk menggenjot ekspor memang tidak bisa dirasakan secara jangka pendek, namun upayanya perlu dilakukan sejak saat ini.
Dia berharap upaya penerapan kebijakan B20 akan berdampak signifikan untuk peningkatkan ekspor.
Baca Juga:
Gupshup Meluncurkan Voice AI Platform Mandiri, Memperluas Interaksi Percakapan ke Panggilan Telepon
Kehidupan yang Didukung AI: TCL Hadirkan Inovasi AI dalam Kehidupan Sehari-hari di IFA 2026
Hisense Perkenalkan Konsep “Companion Living” Berbasis AI di IFA 2026
Dari sisi lapangan usaha, Suhariyanto menuturkan industri pengolahan perlu menjadi perhatian. Pasalnya, hal ini sangat berkaitan dengan kinerja ekspor.
Pertumbuhan industri pengolahan terhadap PDB sepanjang 2018 melambat menjadi 4,27 persen, dengan sumbangan ke pertumbuhan sebesar 0,91.
Jika dilihat dari subsektornya, Suhariyanto menilai makanan dan minuman perlu didorong pertumbuhannya karena kontribusinya yang besar terhadap PDB. Pertumbuhan industri makanan dan minuman sebesar 7,91 persen secara kumulatif sepanjang 2018 dibandingkan 2017.
“Industri makanan dan minuman tumbuh melambat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, di antaranya karena perlambatan produksi minyak kelapa sawit (CPO),” kata Suhariyanto. (iap)








