MEDIA EMITEN –Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terkoreksi 49,84 poin atau 0,7% menjadi 7.026,78 pada penutupan perdagangan Jumat 7 Oktober 2022.
IHSG tertekan karena investor asing menjualsebagian saham-saham unggulan (blue chips) dengan mencatatkan jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp 1,3 triliun di pasar reguler dan Rp 1,35 triliun di seluruh pasar.
Lima saham dengan net foreign sell terbanyak yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 459,53 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 336,33 miliar, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp 225,39 miliar, PT Astra International Tbk (ASII) Rp 183,03 miliar, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 82,47 milliar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Fokus pasar masih pada sentimen global terkait kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed). Pasar menanti rilis data pasar tenaga kerja AS yaitu US Non-Farm Payrolls atau NFP nanti malam di tengah kegelisahan mengenai risiko terjadinya resesi ekonomi global.
Investor berharap data NFP akan membantu membujuk bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (Fed), bahwa lima kenaikan suku bunga tahun ini sudah mulai menampakkan hasil sehingga sudah bisa memperlambat rencana kenaikan suku bunga acuan lebih lanjut.
Penurunan IHSG seiring dengan koreksi bursa saham Asia lainnya, antara lain Indeks Nikkei melemah 195,19 poin atau 0,71% ke 27.116,11, Indeks Hang Seng turun 272,1 poin atau 1,51% ke 17.740,05, dan Indeks Straits Times terkoreksi 5,75 poin atau 0,18% ke 3.145,81.
Dibuka melemah, IHSG menghabiskan waktu di zona merah hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih tak mampu beranjak dari teritori negatif sampai penutupan bursa saham.
Baca Juga:
Savaya Group Hadirkan Zumana, Destinasi Baru di Pesisir Kuta Bali
Trinasolar Dukung Proyek PLTS dan Penyimpanan Energi 10 MWh di Phu Quoc, Vietnam
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor terkoreksi dengan sektor infrastruktur turun paling dalam 1,29%, diikuti sektor transportasi dan sektor keuangan masing-masing turun 1,13% dan 0,73%.
Sedangkan dua sektor meningkat yaitu sektor energi dan sektor barang baku masing-masing sebesar 1,48% dan 0,06%.
Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu BUMI, PNBS, LPPF, NZIA, dan RMKE. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni META, NASI, HOKI, SLIS, dan JKON.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.199.349 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 26,89 miliar lembar saham senilai Rp12,25 triliun. Sebanyak 178 saham naik, 360 saham menurun, dan 152 tidak bergerak nilainya.






