MEdiaemiten.com, Jakarta – Analis pasar uang PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rully Arya Wisnubroto menilai pergerakan nilai tukar (kurs) rupiah pada Selasa ini akan dibayangi kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global pada tahun ini.
“Kita sebenarnya expect IDR (rupiah) melemah hari ini, tapi masih dalam rentang tipis. Karena masih tingginya kekhawatiran akan perlambatan global. Itu ditegaskan oleh forecast IMF,” ujar Rully kepada Antaranews di Jakarta, Selasa (22/1/2019).
Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2019 menjadi 3,5 persen, turun 0,2 persen dari proyeksi pada Oktober 2018 lalu 3,7 persen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sedangkan pada 2020, pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 3,6 persen, lebih rendah 0,1 persen dibandingkan proyeksi sebelumnya 3,7 persen.
Dengan kekhawatiran perlambatan ekonomi global tersebut, lanjut Rully, investor asing akan pindah ke instrumen safe haven, seperti dolar AS, yen, dan obligasi AS.
“Market cenderung bergerak ke safe haven,” katanya.
Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan telah ada kemajuan menuju kesepakatan perdagangan dengan Cina dan juga rencana kunjungan Wakil Perdana Menteri China Liu He ke AS pada 30 dan 31 Januari 2019 nanti untuk melanjutkan negosiasi perdagangan, tampaknya belum mampu mengerek rupiah terapresiasi.
Baca Juga:
Dreame Perluas Portofolio Produk Smart Living Lewat Ekosistem Smart Living di Ajang IFA 2026
Huawei Tingkatkan Solusi Stellar AI WAN, Percepat Adopsi AI di Berbagai Industri
“Masih belum. Ditambah lagi adanya sentimen Brexit dan belum banyaknya sentimen positif domestik,” ujar Rully.
Ia memprediksi rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp14.186 per dolar AS hingga Rp14.264 per dolar AS. (cit)







