Mediaemiten.com, Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin sore (17/12/2018), menguat sebesar 26 poin ke posisi Rp14.581 dibandingkan sebelumnya Rp14.607 per dolar AS.
Analis Valbury Asia Futures, Lukman Leong di Jakarta, Senin (17/12/2018) mengatakan sebagian pelaku pasar uang masih merespon positif fundamental ekonomi nasional sehingga rupiah mengalami apresiasi terhadap dolar AS.
BACA JUGA : Rupiah Bergerak Melemah ke Posisi Rp14.618
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pasar masih merespon data ekonomi seperti terjaganya inflasi, cadangan devisa meningkat, serta sejumlah paket kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah,” ujarnya.
Kendati demikian, ia mengakui, penguatan rupiah masih dibatasi oleh data neraca perdagangan Indonesia November 2018 yang dirilis hari ini (17/12).
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada November 2018 mengalami defisit tertinggi sepanjang tahun 2018, yaitu sebesar 2,05 miliar dolar AS yang dipicu oleh defisit sektor migas dan nonmigas masing-masing sebesar 1,46 miliar dolar AS dan 0,58 miliar dolar AS.
“Pergerakan rupiah relatif terbatas, neraca perdagangan yang defisit bisa memicu defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) bertambah,” katanya.
Baca Juga:
Hikvision Hadirkan Guanlan Encoding, Teknologi AI yang Pangkas Biaya Penyimpanan Video hingga 50%
Di sisi lain, lanjut dia, situasi global juga penuh dengan ketidakpastian mengenai perang dagang, dimana data ekonomi China mengalami perlambatan.
“China sebagai salah satu mitra dagang kita, kalau ekonomi mereka terhambat, sedikit atau banyak kita juga terkena imbasnya,” katanya.
Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari ini (17/12), tercatat mata uang rupiah melemah menjadi Rp14.617 dibanding sebelumnya (14/12) di posisi Rp14.538 per dolar AS. (zub)







