MEDIA EMITEN – Harga emas naik tajam pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), menyusul data ekonomi AS lebih lemah dari perkiraan dan jatuhnya imbal hasil obligasi global.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Agustus di divisi Comex New York Exchange melonjak US$ 24,4 atau 1,25% menjadi ditutup pada US$ 1.980,80 per ounce, setelah menyentuh level tertinggi sesi di US$ 1.988,30, puncak yang belum tersentuh sejak mencapai US$ 2.000 pada akhir Mei 2023.
Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa penjualan ritel AS naik 0,2% menjadi S$ 689,5 miliar pada Juni, lebih lemah dari perkiraan. Ini menunjukkan bahwa konsumen AS terus ditekan oleh kendala dari biaya pinjaman yang lebih tinggi dan kenaikan harga-harga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Federal Reserve melaporkan Selasa (18/7/2023) bahwa produksi industri AS turun 0,5% pada Juni. Penurunan itu di bawah ekspektasi pembacaan datar oleh para ekonom.
Indeks National Association of Home Builders/Wells Fargo Housing Market naik tipis satu poin menjadi 56 pada Juli, kenaikan bulanan ketujuh berturut-turut, memenuhi ekspektasi dari para ekonom.
Semua mata kini tertuju pada The Fed dan apa yang akan dilakukannya terhadap suku bunga ketika para pembuat kebijakan duduk kembali pada 26 Juli untuk memutuskan suku bunga.
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan mengadakan pertemuan pada 26 Juli. Investor memperkirakan satu kenaikan suku bunga lagi pada pertemuan tersebut.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman September nsik 23,80 sen atau 0,95% menjadiUS$ 25,256 per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober menguat US$ 6,90 atau 0,7% menjadi menetap pada US$ 994,40 per ounce.







