Rupiah Terus Melemah, Dolar AS Sentuh Rp 15.610

- Pewarta

Jumat, 21 Oktober 2022 - 18:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi: Kurs rupiah melemah terhadap dolar AS/Dok.

Foto ilustrasi: Kurs rupiah melemah terhadap dolar AS/Dok.

MEDIA EMITEN – Mata uang rupiah terus melemah dengan kurs Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Jumat 21 Oktober 2022 menyentuh Rp 15.610, turun 31 poin atau sekitar 0,2% dibanding hari sebelumnya.

Di pasar antarbank, rupiah ditransaksikan melemah 60 poin atau 0,39% ke posisi Rp 15.632 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp 15.572 per dolar AS.

Pergerakan rupiah lebih banyak sentimen dari global, terutama karena dolar AS terus menguat terhadap mata uang lainnya seiring kekhawatiran resesi dan sikap The Fed yang masih akan agresif dalam menaikkan suku bunga acuannya.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara itu, mata uang regional Asia mayoritas juga melemah, seperti yuan Tiongkok turun 0,5%, baht Thailand melemah 0,38%, dan yen Jepang terdepresiasi 0,48%.

Pasar menilai, kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia tidak cukup menahan arus dana keluar dari pasar uang.

Bank Indonesia, kemarin, I kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) dari 4,25% menjadi 4,75%, setelah pada bulan lalu turut meningkatkan bunga acuan dengan besaran yang sama.

Selain bunga acuan, bank sentral turut menaikkan suku bunga deposit facility dan lending facility masing-masing sebesar 50 bps menjadi 4% dan 5,5%.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan tekanan dari sisi arus modal asing meningkat, terutama dalam bentuk investasi portofolio, seiring dengan tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global.

BI menyebut keputusan itu sebagai langkah front loaded, pre-emptive, dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini terlalu tinggi atau overshooting.

Selain itu, keputusan tersebut untuk memastikan inflasi inti ke depan kembali ke dalam sasaran 2-4% lebih awal, yaitu ke paruh pertama 2023, serta memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Fokus pasar masih dihantui bayangan resesi global. Pelaku pasar mengkhawatirkan kenaikan suku bunga bank sentral di berbagai negara untuk menahan inflasi dapat mendorong ekonomi global mengalami kontraksi.

Sejumlah komentar hawkish dari pejabat bank sentral AS, Federal Reserve (Fed), mengguncang pasar minggu ini. Salah satunya komentar dari Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari yang memperingatkan bahwa inflasi yang terlalu panas dapat memacu The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan di atas 4,75%, level tertinggi sejak 2007.

Berita Terkait

Panduan Cara Memahami Bisnis Bitcoin dan Cara Membelinya
PT STM Sukseskan MotoGP Mandalika 2025, Sediakan Helikopter untuk Transportasi dan Evakuasi Medis
RIIFO Indonesia Memperkenalkan RIIFO Design & RIIFO Care, Solusi Inovatif untuk Industri Perpipaan
Ketahui Fungsi Platform Payment di Indonesia, Mudah dan Aman untuk Transaksi Bisnis
Mega Jaya, Lebih dari Sekadar Distributor Lifting Equipment
Nikmati Liburan dengan Rental Mobil Bandung Lepas Kunci
Perkuat Struktur Pendanaan Jangka Panjang, BRI Fokus Himpun Dana Murah
BRImo Siap Layani Kebutuhan Transaksi Finansial Kapan Saja, Liburan Lebih Tenang

Berita Terkait

Sabtu, 8 November 2025 - 04:56 WIB

Panduan Cara Memahami Bisnis Bitcoin dan Cara Membelinya

Rabu, 8 Oktober 2025 - 10:55 WIB

PT STM Sukseskan MotoGP Mandalika 2025, Sediakan Helikopter untuk Transportasi dan Evakuasi Medis

Senin, 22 September 2025 - 17:21 WIB

RIIFO Indonesia Memperkenalkan RIIFO Design & RIIFO Care, Solusi Inovatif untuk Industri Perpipaan

Jumat, 19 September 2025 - 21:34 WIB

Ketahui Fungsi Platform Payment di Indonesia, Mudah dan Aman untuk Transaksi Bisnis

Jumat, 12 September 2025 - 07:09 WIB

Mega Jaya, Lebih dari Sekadar Distributor Lifting Equipment

Berita Terbaru