MEDIA EMITEN – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup turun 40,83 poin atau 0,58% ke posisi 7.036,2 pada akhir perdagangan Kamis 29 September 2022.
Pelaku pasar masih bersikap wait and see untuk masuk ke aset keuangan berisiko. Hal itu seiring pasar yang masih diselimuti ancaman serius akan resesi global yang tentunya akan menjalar ke dalam negeri.
Sementara itu, imbal hasil atau yield obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun turun 23 basis poin menjadi 3,733% atau penurunan terbesar sejak 2020. Yield sempat mencapai level tertinggi 4,019%, level kunci yang tertinggi sejak Oktober 2008 pada hari sebelumnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor terkoreksi dengan sektor teknologi paling dalam 1,95%, diikuti sektor transportasi & logistik dan sektor perindustrian masing-masing turun 1,61% dan 1,39%. Sedangkan dua sektor meningkat yaitu sektor kesehatan dan sektor energi masing-masing sebesar 0,98% dan 0,14%.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing di seluruh pasar yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing atau net foreign sell di seluruh pasar sebesar Rp 623,36 miliar. Sedangkan di pasar reguler tercatat aksi jual asing dengan jumlah beli bersih Rp 568,07 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.219.551 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 23,84 miliar lembar saham senilai Rp12,68 triliun. Sebanyak 149 saham naik, 423 saham menurun, dan 114 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei menguat 248,07 poin atau 0,95% ke 26.422,05, Indeks Hang Seng turun 85,01 poin atau 0,49% ke 17.165,87, dan Indeks Straits Times terkoreksi 1,23 poin atau 0,04% ke 3.115,08.







