Dolar AS Melemah karena Kekhawatiran Ketegangan Perdagangan Berkurang

- Pewarta

Kamis, 20 September 2018 - 03:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mediaemiten.com, New York – Kurs dolar AS melemah terhadap mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu (Kamis 20/9/2018 pagi WIB), turun tipis terhadap euro dan jatuh ke level terendah hampir tiga minggu terhadap Aussie yang sensitif risiko, karena kekhawatiran atas perang perdagangan antara China dan Amerika Serikat berkurang.

Euro diperdagangkan 0,14 persen lebih tinggi terhadap greenback.

Dolar Australia, dilihat sebagai sebuah proxy untuk perdagangan-perdagangan terkait China serta sebuah barometer sentimen risiko yang lebih luas, diperdagangkan 0,69 persen lebih tinggi, tertinggi sejak 30 Agustus.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

China pada Selasa (18/9/2018) memberlakukan tarif baru atas barang-barang AS senilai 60 miliar dolar AS, seperti yang direncanakan, tetapi menurunkan tingkat tarifnya. Tarif baru Washington ditetapkan sebesar 10 persen untuk saat ini, sebelum naik menjadi 25 persen pada akhir 2018, bukan langsung 25 persen.

“Reaksi pasar tampaknya menunjukkan bahwa pengumuman tarif secara keseluruhan pada sisi lemah dari ekspektasi pasar,” kata Alvise Marino, ahli strategi valas Credit Suisse di New York.

Selera risiko (risk appetite) meningkat di seluruh pasar. Mata uang negara-negara berkembang menguat, dipimpin oleh rupee India setelah China mengatakan tidak akan membalas dengan devaluasi mata uang kompetitif.

Ketegangan-ketegangan terkait dengan perdagangan yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir, umumnya mendukung dolar AS terhadap mata uang yang dianggap berisiko.

Meskipun suasana melemah pada Rabu (19/9/2018), beberapa pelaku pasar masih melihat kekuatan untuk dolar.

“Ini adalah mata uang cadangan juara dan memiliki suku bunga Fed funds yang bebas risiko. Jadi, mata uang dengan risiko terendah menawarkan imbal hasil tertinggi di G10,” kata Andreas Koenig kepala valas global di manajer aset Amundi.

“Selama kelainan ini bertahan, Anda tidak bisa secara strategis menjual dolar.” Para investor juga sedang menunggu pertemuan Federal Reserve minggu depan. Bank sentral AS diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya dan menjelaskan jalur untuk kenaikan suku bunga berikutnya.

Dolar AS diperdagangkan 0,15 persen lebih rendah terhadap yen. Gubernur Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) Haruhiko Kuroda menekankan bahwa ia tidak akan mencabut larangan pelonggaran moneter sampai inflasi mencapai target 2,0 persen, memperingatkan bahwa perselisihan perdagangan internasional yang meningkat dapat menyebabkan kerusakan luas pada pertumbuhan global.

Dolar Kanada menguat ke level tertinggi dalam hampir tiga minggu terhadap mitranya AS, sebelum mengupas sebagian besar kenaikan menjelang pembicaraan lebih lanjut untuk merubah Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA).

Para pedagang juga mengawasi berita terkait Brexit dari Salzburg, Austria, tempat Perdana Menteri Inggris Theresa May bertemu dengan para pemimpin Uni Eropa di KTT.

Sterling hampir datar terhadap dolar AS, setelah menghapus sebagian besar keuntungan awal, setelah The Times melaporkan bahwa May telah menolak tawaran perbaikan dari Uni Eropa untuk menyelesaikan masalah perbatasan Irlandia.

Salah satu masalah paling sulit yang tersisa dalam negosiasi tersebut adalah bagaimana menghindari “hard border” yang mengganggu pasca-Brexit untuk Irlandia Utara yang bermasalah pada satu-satunya perbatasan darat Inggris dengan Uni Eropa. (pep)

Berita Terkait

Resmi Dibuka, Astra Auto Fest 2025 Semarak Beragam Promo dari Grup Astra
Pasar Modal Indonesia Waspada, CSA Index September 2025 Terkoreksi
Strategi BUMI Kuasai Wolfram, Tambang Emas Jumbo di Queensland Australia
Analisis: Keterlambatan Laporan Keuangan Picu Asimetri Informasi di Pasar
Strategi SMMA Konversi Utang Jadi Saham, Langkah Cerdas Atasi Beban Finansial
CSA Index RI Agustus Tertinggi Sejak Awal Tahun
Strategi Baru Remala Abadi: Transaksi Saham Komisaris Tingkatkan Kontrol Bisnis
Pasca Keluar dari LQ45, SIDO Pindah Fokus dari Domestik ke Internasional

Berita Terkait

Jumat, 5 Desember 2025 - 18:00 WIB

Resmi Dibuka, Astra Auto Fest 2025 Semarak Beragam Promo dari Grup Astra

Jumat, 12 September 2025 - 22:03 WIB

Pasar Modal Indonesia Waspada, CSA Index September 2025 Terkoreksi

Rabu, 20 Agustus 2025 - 15:17 WIB

Strategi BUMI Kuasai Wolfram, Tambang Emas Jumbo di Queensland Australia

Rabu, 20 Agustus 2025 - 10:11 WIB

Analisis: Keterlambatan Laporan Keuangan Picu Asimetri Informasi di Pasar

Senin, 18 Agustus 2025 - 11:46 WIB

Strategi SMMA Konversi Utang Jadi Saham, Langkah Cerdas Atasi Beban Finansial

Berita Terbaru