MEDIA EMITEN – Harga minyak melonjak lebih dari 6% pada awal perdagangan Asia Senin 3 April 2023, setelah OPEC+ secara tak terduga memangkas produksi untuk menstabilkan pasar yang tertekan oleh kekhawatiran melambatnya pertumbuhan ekonomi dan potensi krisis perbankan.
Harga minyak Brent melonjak 6,2% menjadi $84,19 per barel, level tertinggi dalam hampir satu bulan terakhir. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 6,3% menjadi $80,45 per barel. Kedua kontrak tersebut kini telah menutup kerugian besar yang tercatat selama bulan Maret.
Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, mengatakan pada Minggu bahwa mereka akan memangkas produksi sekitar 1,16 juta barel per hari (bph), mematahkan ekspektasi sebelumnya bahwa kelompok tersebut akan mempertahankan produksi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Peotongan produksi ini ini membawa total pemangkasan oleh anggota kelompok menjadi 3,66 juta bph, yang mencakup pemangkasan 2 juta bph oleh OPEC pada bulan Oktober, serta pemangkasan 500.000 bph yang dijanjikan oleh Rusia.
Arab Saudi, yang memimpin OPEC, menyumbang porsi terbesar dari pemangkasan terbaru ini, yaitu 500.000 bph, diikuti oleh pemangkasan 211.000 bph oleh Irak dan 144.000 bph oleh Uni Emirat Arab.
Langkah ini, yang tanpa diduga diumumkan pada hari Minggu, terjadi menjelang pertemuan virtual Komite Pemantauan Menteri Gabungan OPEC pada hari Senin, yang menurut laporan media kemungkinan besar akan menghasilkan dipertahankannya produksi.
Namun, langkah OPEC ini terjadi ketika harga minyak jatuh ke posisi terendah dalam 15 bulan di Maret setelah bangkrutnya beberapa bank AS yang menimbulkan kekhawatiran akan melambatnya pertumbuhan ekonomi dan melemahnya permintaan minyak mentah.
Beberapa anggota OPEC telah bersumpah untuk melakukan intervensi dan “menstabilkan” pasar minyak etelah kejatuhan tersebut.
Goldman Sachs menaikkan perkiraan harga Brent sebesar $5 menjadi $95 per barel pada Desember 2023, setelah pemangkasan OPEC+.
Pemerintahan Biden menyatakan bahwa pemangkasan OPEC tidak disarankan, dan mereka akan terus menargetkan untuk menurunkan harga bensin bagi konsumen. Gedung Putih telah melepaskan lebih dari 100 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Bumi Strategis (SPR) selama tahun 2022 hingga saat ini.







