MEDIA EMITEN – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan RI mengalami surplus US$ 5,76 miliar pada Agustus 2022. Disebutkan, ekspor Agustus 2022 mencapai US$ 27,91 miliar sedangkan impor mencapai US$ 22,15 miliar.
“Neraca perdagangan sampai dengan Agustus 2022 ini surplus selama 28 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” ucap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto dalam telekonferensi pers di Kantor BPS pada Kamis 15 September 2022.
Setianto menjelaskan, ekspor Indonesia Agustus 2022 mencapai US$ 27,91 miliar atau naik 9,17% dibanding nilai ekspor Juli 2022. Sementara itu, nilai impor Indonesia Agustus 2022 mencapai US$ 22,15 miliar, naik 3,77% dibandingkan Juli 2022.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Surplus neraca perdagangan ditopang oleh surplus neraca komoditas non migas. Neraca perdagangan komoditas non migas tercatat surplus sebesar US$ 7,74 miliar.
Komoditas sebagai penyumbang surplus utama yaitu bahan bakar mineral (HS 27), besi dan baja (HS 72), serta lemak dan minyak hewan nabati (HS 15).
Sedangkan neraca perdagangan komoditas migas tercatat mengalami defisit sebesar US$ 1,98 miliar. “Komoditas utama penyumbang defisit yaitu minyak mentah, hasil minyak, serta gas,” ungkap Setianto.
Bila dilihat menurut mitra dagang, negara penyumbang surplus terbesar adalah India, Amerika Serikat, dan Filipina. Neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$ 1,81 miliar dengan India pada Agustus 2022. Nilai ekspor mencapai US$ 2,47 miliar sedangkan impor sebesar US$ 657 juta.
Baca Juga:
Hisense Lansir Strategi Pertumbuhan Berbasis AI untuk Mewujudkan Era Baru Gaya Hidup Cerdas
“Komoditas utamanya adalah utamanya adalah untuk komoditas lemak dan minyak hewan nabati(HS 15), kemudian bahan bakar mineral (HS 27), bahan kimia anorganik (HS 28),” kata Setianto.
Nilai surplus neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat mencapai US$ 1,65 miliar. Nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat mencapai US$ 2,58 miliar sedangkan impor sebesar US$ 932,5 juta. Surplus disumbangkan oleh komoditas komoditas mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85); lemah dan minyak hewan nabati (HS 15), serta pakaian dan aksesorisnya atau rajutan (HS 61).
Berikutnya dengan Filipina terjadi surplus sebesar US$ 1,09 miliar. Nilai ekspor Indonesia ke Filipina sebesar US$ 1,20 miliar dan impor US$ 115 juta. “Komoditas penyumbang surplus dari Filipina berasal dari bahan bakar mineral (HS 27) kendaraan dan bagiannya (HS 87) serta besi dan baja (HS 72),” ucap Setianto.
Neraca perdagangan Indonesia juga mengalami defisit terbesar dengan tiga negara yaitu Australia, Tiongkok, dan Thailand. Indonesia mengalami defisit dengan Australia sebesar US$ 678,6 juta dengan ekspor US$ 266,2 juta tetapi impor mencapai US$ 994,8 juta pada Juli 2022. Komoditas utamanya adalah komoditas serealia (HS 10) dan bahan bakar mineral (HS 27.
Baca Juga:
HunterLab luncurkan Vista® L2 dengan rentang pengukuran yang diperluas menjadi 710 nm
FLIN Rilis Layanan Mediasi Utang, Jadi Platform Credit Wellness Pertama di Indonesia
DJI Matrice 4E dan DJI Terra Petakan Lereng Es Khumbu di Gunung Everest Selama Musim Pendakian 2026
Indonesia mengalami defisit US$ 411,7 juta dengan Tiongkok pada Agustus 2022. Nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok sebesar US$ 6,16 miliar tetapi impor hingga US$ 6,57 miliar. Komoditas yang menyebabkan defisit adalah komoditas mesin dan peralatan mekanik serta bagiannya (HS 84), diikuti mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85).
Sementara itu dengan Thailand, Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 289,1 juta. Nilai ekspor dengan Thailand mencapai US$ 614,6 juta sedangkan nilai impor sebesar US$ 903,7 juta. “Utamanya untuk komoditas mesin dan perlengkapan mekanik serta bagiannya (HS 84) serta komoditas plastik dan barang dari plastik (HS 39),” kata Setianto.
Dia menuturkan secara kumulatif dari Januari sampai Agustus 2022 neraca perdagangan mengalami surplus US$ 34,92 miliar. Angka ini menunjukan pertumbuhan sebesar 68,6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai ekspor sebesar US$ 194,60 miliar ini meningkat 35,42% sementara nilai impor US$ 159,68 miliar atau meningkat 29,84%.
“Neraca perdagangan barang pada periode Januari sampai dengan Agustus 2022 ini lebih tinggi dari periode yang sama pada tahun sebelumnya,” tandas Setianto.








