MEDIA EMITEN – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan, APBN akan menjadi shock absorber atau peredam guncangan dari gejolak dan tekanan global yang berpotensi memberi risiko bagi ekonomi Indonesia.
“APBN akan terus melakukan respons secara aktif dan memposisikan menjadi shock absorber dalam mengantisipasi dan menghadapi gejolak dan tekanan global yang berlangsung, katanya dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Rabu, 13 April 2022.
Menurut Sri Mulyani, peran APBN sebagai peredam shock dilakukan melalui pemberian dukungan baik dari sisi kesehatan karena pandemi COVID-19 belum berakhir serta dari sisi daya beli masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
APBN akan mendukung daya beli masyarakat terutama bagi kelompok paling rentan karena ada harga yang meningkat di global yang sebagian merembes ke perekonomian dalam negeri meski inflasi masih terjaga.
APBN menjadi peredam shock dengan memberikan dukungan stabilitas harga dan menopang kelompok paling rentan melalui bansos baik PKH, Kartu Sembako hingga BLT Minyak Goreng.
Menkeu menuturkan, bantuan sosial yang diberikan secara masif dalam rangka melindungi masyarakat dari tekanan global ini berpotensi meningkatkan belanja APBN.
Salah satu bentuk peredam shock dari APBN adalah melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang melingkupi tiga klaster yaitu kesehatan, perlindungan sosial, dan pemulihan ekonomi.
Baca Juga:
CHiQ Raih “AI Home Ecosystem Brand Award”, Hadirkan Pengalaman Gaya Hidup Cerdas Lewat Inovasi AI
Konferensi Promosi Pariwisata Budaya Henan dan Pameran Budaya Heluo Digelar di Indonesia
Hisense Perpanjang Kemitraan dengan UEFA sebagai Sponsor Resmi UEFA EURO 2028
Realisasi anggaran PEN untuk klaster kesehatan per 1 April 2022 adalah Rp 1,55 triliun dari pagu Rp 122,54 triliun untuk pembayaran tagihan terutama perawatan COVID-19 tahun lalu.







