Krisis Keuangan Merupakan Pintu Masuk Utama Krisis Ekonomi

- Pewarta

Rabu, 15 Agustus 2018 - 02:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mediaemiten.com, Jakarta – Sejatinya saya sudah bosan menulis dan mengkritisi pelemahan rupiah dan defisit neraca transaksi berjalan.

Tapi karena saya meyakini ini pintu masuk utama krisis keuangan, dan krisis keuangan merupakan pintu masuk utama krisis ekonomi, saya tak akan berhenti menulis

Ketika anda melihat gerbong yang akan meluncur ke jurang, maka sikap diam adalah dusta dan pengkhianatan

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ada kalimat yang “bombastis” dari kesimpulan rapat kabinet terbatas Rabu 13 Agustus, kemarin, yang antara lain membahas kebijakan dalam rangka menyikapi melebarnya CAD 2Q18. “…pemerintah akan mengendalikan (CAD) dengan langkah tegas dan drastis…”. Aroma politisnya lebih menyengat!

Sikap yang amat sangat terlambat. Saya ingin mengulangi beberapa catatan, yang sudah amat sering saya lontarkan.

[1] CAD 2Q18 mencapai $ 8 BN, 3,04% PDB, melampaui ambang batas 3%. Lebih tinggi dari CAD 1Q 18 yang $ 3,85 BN apalagi 2Q17 yang masih surplus $ 373 juta. Akibatnya Neraca Pembayaran mengalami defisit $ 4,31 BN pada kuartal 2. Penyebab utama pelamahan rupiah!

[2] Korelasi antara CAD dan pelemahan nilai tukar merupakan bukti empiris pada banyak negara. Entah mengapa kita pandang enteng selama ini.

Lihat contoh berikut: Negara dengan dengan CAD paling tinggi, (% PDB) antara lain Turki – 5,4%, Argentina – 5,1%, Indonesia – 3.04%, India – 2,3%. Negara yang sama mengalami penurunan nilai mata uang paling tajam (YTD 31 Juli): Peso Argentina – 36%, Lira Turki – 27,1%, Real Brazil – 14,91% Rupiah Indonesia – 7,6%, Rupee India – 6,71%

[3] Langkah tegas dan drastis pemerintah akan dimulai dengan pembatasan impor 500 produk, termasuk barang modal dan bahan baku.

Saya ingin mengulangi pendapat saya bahwa prioritas harus dimulai dari menggenjot ekspor dan bukan mengurangi impor. Alasan pertama, mengurangi impor akan menekan pertumbuhan ekonomi.

Kedua, upaya produksi barang subsitusi impor, hilirisasi, pembangunan infrastruktur penunjang, penyiapan SDM yang mendukung, membutuhkan waktu yang lebih lama ketimbang pemberian insentif ekspor, kampanye barang untuk penetrasi pasar, dan (bila perlu) barter yang menguntungkan.

Burung yang terlambat mengepakkan sayap, di waktu fajar, sering memperoleh mekanan yang lebih sedikit untuk anak anaknya yang tinggal di sarang. (Hasan Zein Machmud, pengamat pasar modal, Eks Dirut Bursa Efek Jakarta (BEJ)

Berita Terkait

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama
FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025
Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?
Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan
Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek
Kasus Jiwasraya: Tanah Benny Tjokro Bogor Dilelang, Negara Kumpulkan Rp18 M
ICC Singapura Jadi Arena Gugatan Kontrak Satelit: Indonesia Siapkan Bukti Lengkap Lawan Detenté Operation
TRUE Optimistis Proyek District East Meningkatkan Laba dan Valuasi Aset

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 23:53 WIB

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama

Kamis, 14 Agustus 2025 - 11:43 WIB

FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025

Jumat, 1 Agustus 2025 - 07:16 WIB

Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?

Senin, 28 Juli 2025 - 09:59 WIB

Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan

Kamis, 17 Juli 2025 - 14:29 WIB

Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek

Berita Terbaru