Mediaemiten.com, Jakarta – Sejatinya saya sudah bosan menulis dan mengkritisi pelemahan rupiah dan defisit neraca transaksi berjalan.
Tapi karena saya meyakini ini pintu masuk utama krisis keuangan, dan krisis keuangan merupakan pintu masuk utama krisis ekonomi, saya tak akan berhenti menulis
Ketika anda melihat gerbong yang akan meluncur ke jurang, maka sikap diam adalah dusta dan pengkhianatan
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ada kalimat yang “bombastis” dari kesimpulan rapat kabinet terbatas Rabu 13 Agustus, kemarin, yang antara lain membahas kebijakan dalam rangka menyikapi melebarnya CAD 2Q18. “…pemerintah akan mengendalikan (CAD) dengan langkah tegas dan drastis…”. Aroma politisnya lebih menyengat!
Sikap yang amat sangat terlambat. Saya ingin mengulangi beberapa catatan, yang sudah amat sering saya lontarkan.
[1] CAD 2Q18 mencapai $ 8 BN, 3,04% PDB, melampaui ambang batas 3%. Lebih tinggi dari CAD 1Q 18 yang $ 3,85 BN apalagi 2Q17 yang masih surplus $ 373 juta. Akibatnya Neraca Pembayaran mengalami defisit $ 4,31 BN pada kuartal 2. Penyebab utama pelamahan rupiah!
[2] Korelasi antara CAD dan pelemahan nilai tukar merupakan bukti empiris pada banyak negara. Entah mengapa kita pandang enteng selama ini.
Baca Juga:
Midea dan Keppel Berkolaborasi Mengembangkan Solusi Sistem Pendingin Modular Berbasiskan AI di Asia
Lihat contoh berikut: Negara dengan dengan CAD paling tinggi, (% PDB) antara lain Turki – 5,4%, Argentina – 5,1%, Indonesia – 3.04%, India – 2,3%. Negara yang sama mengalami penurunan nilai mata uang paling tajam (YTD 31 Juli): Peso Argentina – 36%, Lira Turki – 27,1%, Real Brazil – 14,91% Rupiah Indonesia – 7,6%, Rupee India – 6,71%
[3] Langkah tegas dan drastis pemerintah akan dimulai dengan pembatasan impor 500 produk, termasuk barang modal dan bahan baku.
Saya ingin mengulangi pendapat saya bahwa prioritas harus dimulai dari menggenjot ekspor dan bukan mengurangi impor. Alasan pertama, mengurangi impor akan menekan pertumbuhan ekonomi.
Kedua, upaya produksi barang subsitusi impor, hilirisasi, pembangunan infrastruktur penunjang, penyiapan SDM yang mendukung, membutuhkan waktu yang lebih lama ketimbang pemberian insentif ekspor, kampanye barang untuk penetrasi pasar, dan (bila perlu) barter yang menguntungkan.
Baca Juga:
Burung yang terlambat mengepakkan sayap, di waktu fajar, sering memperoleh mekanan yang lebih sedikit untuk anak anaknya yang tinggal di sarang. (Hasan Zein Machmud, pengamat pasar modal, Eks Dirut Bursa Efek Jakarta (BEJ)







