MEDIA EMITEN – Harga emas rebound, pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), berbalik menguat dari kerugian sehari sebelumnya. Ekspektasi bahwa Federal Reserve kemungkinan akan memperlambat laju kenaikan suku bunga menjadi pendorong logam mulia ini.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di divisi Comex New York Exchange, terangkat US$ 8,4 atau 0,48% menjadi US$ 1.763,70 per ounce, setelah diperdagangkan mencapai tertinggi sesi di US$ 1.773,40 dan terendah di US$ 1.752,90 per ounce.
Data ekonomi yang dirilis pada Selasa beragam. Indeks harga 20 kota AS CoreLogic Case-Shiller S&P turun 1,2% pada September, penurunan bulanan ketiga berturut-turut dan menyamai penurunan 1,3 persen yang diharapkan oleh para ekonom.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
The Conference Board melaporkan bahwa indeks kepercayaan konsumen turun menjadi 100,2 pada November, dari 102,2 pada Oktober dan terendah sejak Juli.
Powell akan berbicara di acara Brookings Institution pada Rabu tentang prospek ekonomi AS dan pasar tenaga kerja. Investor akan mencari petunjuk tentang kapan Fed akan memperlambat laju kenaikan suku bunga yang agresif.
Sebelumnya, Presiden Federal Reserve New York John Williams mengatakan bank sentral kemungkinan akan mulai memangkas suku bunga pada 2024, karena tekanan inflasi akhirnya mereda. Dia juga mengatakan bahwa biaya pinjaman perlu dinaikkan lebih lanjut untuk menurunkan inflasi.
Emas melihat sedikit permintaan safe haven minggu ini, ketika kerusuhan sipil yang belum pernah terjadi sebelumnya di China yang memprotes kebijakan nol-Covid yang ketat, menimbulkan kekhawatiran atas gangguan ekonomi global.
Baca Juga:
Bambu Lab A2L Kini Hadir di Indonesia: Printer 3D Format Besar yang Mudah Digunakan
Osome Bidik Gelombang Baru Perusahaan AI yang Memilih Singapura sebagai Basis Regional
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret naik 31,1 sen atau 1,47%, menjadi US$ 21,436 per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari meningkat US$ 9,30 atau 0,93% menjadi US$ 1.008,60 per ounce.






