MEDIA EMITEN -Harga minyak melonjak pada awal perdagangan Asia, Senin 5 Juli 2023, setelah Arab Saudi mengumumkan untuk memangkas produksi yang besar pada uli 2023.
Sementara itu, Organisasi Negara Pengeksor Minyak da mitranya (OPEC+) sepakat untuk berpegang pada target produksi, namun anggotanya bisa melakukan pemangkasan secara sukarela.
Dalam pertemuan OPEC+ di akhir pekan, Arab Saudi mengatakan akan memangkas produksi sekitar 1 juta barel per hari (bph) di bulan Juli menjadi 9 juta bph. Ini merupakan tambahan dari pemangkasan setidaknya 3,66 juta bph yang telah dilakukan OPEC+ sejak Oktober 2022, yang diperpanjang hingga akhir 2024 dari akhir 2023 pada pertemuan hari Minggu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kelompok ini juga setuju mengurangi target produksi secara keseluruhan, mulai Januari 2024, sebesar 1,4 juta bph. Tetapi sebagian besar dari pengurangan ini akan membuat target produksi untuk Rusia, Nigeria, dan Angola sejalan dengan tingkat produksi saat ini.
Langkah ini dilakukan ketika grup minyak ini berusaha untuk meningkatkan harga minyak mentah dan mempertahankan nilai ekspor utamanya. Arab Saudi juga berusaha untuk mencegah para spekulan berspekulasi terhadap harga minyak mentah, yang telah mengalami peningkatan substansial dalam minat jangka pendek tahun ini.
Harga minyak Brent naik 1,7% ke US$77,66 per barel, sementara harga minyak WT melonjak 2% di $73,17 per barel pukul 07.10 WIB. Kedua kontrak masih diperdagangkan turun antara 6% dan 8% untuk tahun ini.
Pemangkasan OPEC+ terjadi kala ada kekhawatiran melambatnya pertumbuhan ekonomi dan lemahnya permintaan telah memukul harga minyak tahun ini, dengan minyak mentah mengalami penurunan selama lima bulan berturut-turut.
Baca Juga:
Pemangkasan produksi yang mengejutkan dari grup pada bulan April memberikan dorongan terbatas pada harga minyak mentah, saat pasar khawatir akan terjadinya potensi gagal bayar utang AS dan data ekonomi yang lemah dari China menimbulkan keraguan akan pemulihan permintaan tahun ini.
Pemangkasan pada hari Minggu sekarang mengisyaratkan pasar minyak akan lebih terbatas pada paruh kedua tahun 2023, dan dapat menjaga harga relatif didukung, bahkan ketika kondisi ekonomi memburuk dan suku bunga naik.
Serangkaian pembacaan ekonomi yang lemah dari China isyarat pemulihan yang tidak merata di negara importir minyak terbesar di dunia, yang pada gilirannya dapat membuat permintaan terbatas tahun ini. Pusat-pusat kekuatan ekonomi seperti Zona Euro dan AS juga bergulat dengan perlambatan aktivitas manufaktur tahun ini, yang diperkirakan akan membebani pertumbuhan ekonomi tahun ini.







