MEDIA EMITEN – Harga minyak mentah berjangka melonjak pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), jelang petemuan OPEC+ pada Minggu 4 Juni 2023.
Minyak juga mendapat dukungan setelah Kongres AS meloloskan kesepakatan plafon utang yang mencegah gagal bayar di konsumen minyak terbesar di dunia dan data pekerjaan memicu harapan untuk kemungkinan jeda dalam kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli naik US$ 1,64 atau 2,34% menjadiUS$ 71,74 per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus menguat US$ 1,85 atau 2,49% menjadi US$ 76,13 per barel di London ICE Futures Exchange.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penutupan tersebut merupakan yang tertinggi sejak 26 Mei untuk WTI dan 29 Mei untuk Brent. Untuk minggu ini, kedua kontrak turun sekitar 1% kerugian mingguan pertama mereka dalam tiga minggu terakhir.
Baik Senat AS maupun Dewan Perwakilan Rakyat mengesahkan undang-undang untuk menangguhkan plafon utang pemerintah AS hingga 1 Januari 2025, yang pada dasarnya menghilangkan ketidakpastian seputar kemungkinan gagal bayar utang AS.
Selain itu, Amerika Serikat menambahkan 339.000 penggajian non-pertanian pada Mei, lebih tinggi dari perkiraan konsensus 190.000 dan 294.000 pada April, menurut data yang dikeluarkan oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS pada Jumat (2/6/2023).
Pasar menunggu pertemuan akhir pekan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan mitranya (OPEC+ ) yang dijadwalkan pada Minggu dengan kebijakan produksi minyak sebagai topik utama.
Baca Juga:
Grup tersebut pada April mengumumkan pengurangan produksi yang mengejutkan sebesar 1,16 juta barel per hari, tetapi kenaikan harga yang dihasilkan telah terhapus dan minyak mentah diperdagangkan di bawah tingkat pemotongan sebelumnya.
“Tidak ada yang mau kekurangan minyak mentah menjelang pertemuan OPEC+ akhir pekan. … Pedagang tidak boleh meremehkan apa yang akan dilakukan dan pengaruh Saudi selama pertemuan OPEC+,” kata Edward Moya, analis pasar senior di perusahaan data dan analitik OANDA.







