MEDIA EMITEN – Harga emas jatuh pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), mencatat kerugian untuk hari kedua berturut-turut terseret oleh penguatan dolar AS menjelang rilis data inflasi konsumen pekan depan.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman April di divisi Comex New York Exchangeturun US$ 4,0 atau 0,21% menjadi ditutup pada US$ 1.874,50 per ounce, setelah diperdagangkan mencapai level tertinggi sesi US$ 1.883,50 dan terendah US$ 1.863,50 per ounce.
Emas melemah 0,1% untuk minggu ini, mencatat kerugian mingguan kedua berturut-turut karena pasar menilai kembali ekspektasi mereka akan kenaikan suku bunga lebih lanjut dari Federal Reserve.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dolar AS menguat pada perdagangan Jumat (10/2/2023) karena pelaku pasar menunggu laporan inflasi utama AS, dengan indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya naik 0,38% menjadi 103,6290, membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Serangkaian sinyal hawkish dari pejabat Fed juga membuat logam kuning di bawah tekanan, karena Ketua Fed Jerome Powell dan beberapa pembicara lainnya memperingatkan bahwa suku bunga kemungkinan akan naik lebih lanjut.
Meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS juga mengurangi daya tarik emas.
Sementara itu, pembacaan awal indeks sentimen konsumen Universitas Michigan meningkat menjadi 66,4 pada Februari dari 64,9 pada Januari.
Baca Juga:
Pertukaran Budaya Guangfu Hadirkan Beragam Pertunjukan di Indonesia
Huawei Raih Gelar “Leader” dalam Gartner® Magic Quadrant™ for Enterprise Storage Platforms 2026
Para analis pasar berpendapat bahwa pedagang menghindari pembukaan posisi beli baru menjelang laporan indeks harga konsumen yang akan dirilis pada Selasa (14/2/2023) pekan depan.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret turun 6,8 sen atau 0,31% menjadi US$ 22,075 per ounce. Platinum untuk pengiriman April melemah US$ 12,40 atau 1,29% menjadi US$ 951,80 per ounce.







