MEDIA EMITEN – Badai pemutusan hubungan kerja (PHK) melanda para pekerja industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional. Per Oktober 2022 sebanyak 64.000 lebih pekerja terkena PHK dari 124 perusahaan.
Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Produk Tekstil Jawa Barat (PPTPJB) Yan Mei meminta pemerintah turun tangan mengatasi masalah ini. Ia melaporkan, ada 18 perusahaan yang tutup dari 14 kabupaten/kota di Jawa Barat.
“Sudah ada 14 kabupaten/kota yang memberikan laporan mengenai pengurangan atau putus kontrak,” katanya dalam konferensi pers ‘Badai PHK di Industri TPT, Produsen Minta Pemerintah Turun Tangan’, Rabu 2 November 2022.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Efek kondisi global seperti perang Rusia-Ukraina, kata dia, telah menghantam industri TPT. Kondisi tersebut telah melemahkan permintaan ekspor dan membuat para pelaku industri TPT terpaksa melakukan PHK.
Yan Mei mencontohkan, pabrik garmen miliknya di Kabupaten Bogor, terjadi penurunan pesanan secara drastis sejak April 2022. Penurunannya mencapai lebih dari 50%. Kemudian, terjadi ketidakstabilan pesanan di bulan-bulan selanjutnya. Bahkan, volume pesanan sempat tak mencapai 30% dari jumlah semula.
Ia sangat berharap pemerintah dapat segera melakukan kebijakan yang dapat menolong industri tekstil saat ini. Apalagi situasi yang sama tidak hanya terjadi untuk pelaku industri tekstil kecil dan menengah, tetapi terjadi pula pada perusahaan-perusahaan besar seperti Nike, Victoria Secret, dan lainnya.
Menurut dia, angka penurunan ekspor yang terjadi pada perusahaan-perusahaan besar itu, telah mencapai 40% hingga 50%.
Baca Juga:
JULIEN’S AUCTIONS MENGUMUMKAN “KAIJU KING: KOLEKSI WARISAN SOMPOTE SANDS”
Pertukaran Budaya Guangfu Hadirkan Beragam Pertunjukan di Indonesia
Huawei Raih Gelar “Leader” dalam Gartner® Magic Quadrant™ for Enterprise Storage Platforms 2026
Yan Mei mengkhwatirkan jika inflasi semakin melonjak, masyarakat pun akan lebih mengalokasikan dana miliknya untuk belanja pangan sebagai kebutuhan dasar. Alhasil, daya beli terhadap produk tekstil juga akan semakin merosot.
Situasi saat ini, kata dia, lebih parah ketimbang saat awal pandemi Covid-19. Sebab, ketika pandemi Covid-19, pasar tetap tersedia dan masalahnya hanya terletak pada sisi pengiriman. Sedangkan saat ini, perekonomian global membuat produsen sulit mencari pasar dan tidak mampu memprediksi kapan kondisinya akan kembali pulih.






