MEDIA EMITEN – Harga emas jatuh kembali pada penutupan perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), memperpanjang kerugian untuk hari kedua berturut-turut setelah data inflasi AS yang lebih kuat memicu ekspektasi kenaikan suku bunga yang agresif oleh Federal Reserve (Fed).
Kontrak harga emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, jatuh US$ 8,3 atau 0,48% menjadi US$ 1.709,10 per ounce. Emas diperdagangkan pada kisaran tertinggi US$ 1.717,30 dan terendah US$ 1.706,20 per ounce.
Investor masih mencerna angka inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan yang dirilis pada Selasa (13/9/2022). Analis pasar berpendapat bahwa taruhan yang lebih tinggi adalah Federal Reserve akan memulai kebijakan moneter yang lebih agresif untuk mengendalikan inflasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Para analis memperkirakan kerugian emas akan semakin dalam secara substansial jika harga menembus batas psikologis di bawah level 1.700 dolar AS.
Investor juga menahan diri dari melakukan perdagangan besar pada emas menjelang pertemuan Fed minggu depan, di mana bank sentral secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin.
Sementara itu Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Rabu (14/9/2022) bahwa indeks harga produsen (IHP), ukuran harga yang diterima di tingkat grosir, turun 0,1% pada Agustus setelah tergelincir 0,4% pada Juli, penurunan berturut-turut pertama dalam IHP sejak musim semi 2020.
Harga logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember naik 7,8 sen atau 0,4% menjadi US$ 19,569 per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober naik US$ 21,70 atau 2,46% menjadi ditutup pada US$ 905,40 per ounce.







