Mediaemiten.com, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, memberikan pemakluman terhadap kerugian PT.Pertamina (Persero).
Pada semester 1 tahun 2020, Pertamina mencatatkan kerugian sejumlah US$767,92 juta atau sekitar Rp 11,33 triliun (asumsi kurs Rp 14.766/ US$).
Turun dibandingkan pencapaian laba bersih sejumlah US$ 659,96 juta pada periode yang sama tahun lalu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Secara general, kita bisa memaklumi karena semua perusahaan terdampak Covid-19,” kata Arifin dalam keterangannya, Kamis (27/8/2020)
Arifin mengatakan, pandemi Covid-19 telah menyebabkan penurunan permintaan bahan bakar minyak (BBM).
Selain itu, pelemahan kurs juga turut menyumbang kerugian perseroan pada paruh pertama tahun ini.
“Walaupun harga minyak tidak turun, pada batasan sekarang ini, konsumsi tidak kembali seperti semula,” tuturnya.
Baca Juga:
Dahua Technology Hadirkan Solusi Hunian Cerdas Terintegrasi di IFA Berlin 2026
Haier Jalin Kemitraan Global dengan UEFA Champions League
Hisense Hadirkan Warna yang Lebih Nyata dan Nyaman di Mata, serta Hiburan Imersif di IFA 2026
Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) menyebut kerugian di Semester I ini utamanya disebabkan oleh faktor melemahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Direktur Keuangan Pertamina Emma Sri Martini mengatakan, hal tersebut dikarenakan harga jual eceran produk minyak dan gas perusahaan menggunakan mata uang rupiah, sedangkan pencatatan laporan keuangan menggunakan dolar AS.
Ditambah lagi, lanjutnya, pemerintah berutang kompensasi Rp96 triliun dan subsidi Rp13 triliun yang belum dibayar, sehingga ini berkontribusi terhadap 60 persen dari rugi kurs perseroan. (rad)







