MEDIA EMITEN – Gubernur Jawa Barat, Mochamad Ridwan Kamil mengatakan Pemerintah Daerah Provinsi Jabar menargetkan pengolahan sampah menjadi energi di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Lulut Nambo dapat beroperasi pada akhir 2021.
Menurut Ridwan, target tersebut ditetapkan setelah Pemprov Jabar menggandeng perusahaan asal Jerman EUWELLE Environmental Technology GmbH untuk mengembangkan TPPAS Lulut Nambo.
“Hari ini sudah diumumkan prosesi kerja sama, maka saya ingin langsung kerja, saya titip akhir tahun ini sudah dipakai minimal tahap 1 dan full-nya tahun depan,” kata Kang Emil sapaan akrab Ridwan Kamil, dalam JAPRI (Jabar Punya Informasi) di Gedung Pakuan, Kota Bandung, seperti dikutip mediaemiten.com dari laman jabarprov.go.id.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kang Emil berkeyakinan dengan menggandeng investor dari Jerman untuk mengembangkan TPPAS Lulut Nambo merupakan sesuatu yang cocok karena mereka memilki proyek yang banyak.
Baca Juga: Ibu Walikota Jaksel Kunjungi Panen Raya Tanaman Hidroponik di Binawarga Farm Srengseng Sawah
“Kita lebih reugreug (aman) ini bisa berjalan sesuai waktu,” ucapnya.
Menurutnya, pemilihan investor TPPAS Lulut Nambo melalui proses lelang yang komprehensif dan adil.
Baca Juga:
DoGo Power Luncurkan Smart Grid-Forming ESS dan Siap Menerima Pesanan Global
CATL Mulai Uji Coba Produksi Sel Baterai di Hungaria
Pylontech Mulai Produksi Massal Sel LFP 588Ah dan 601Ah untuk Sistem Penyimpanan Energi
EUWELLE sudah memenuhi syarat yang dibuat.
Mulai dari teknologi sampai kondisi finansial.
Dari sisi cost, sangat rasionable, sehingga beban tipping fee ke kabupaten/kota tidak terlalu besar, oleh karena itu saya harapkan lancar,” ucap Ridwan Kamil. .
Ia menegaskan bahwa pengelolaan sampah harus dijadikan sesuatu yang bermanfaat, sehingga akan dikenal sebagai provinsi yang ramah lingkungan dan semua yang dilakukan serta terselesaikan menjadi lebih terukur.
“Sampah yang masuk TPPAS Lulut Nambo dari wilayah Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan Tangerang Selatan, rencananya akan diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF), biogas, kompos, dan produk energi dari sampah lainnya,” tutur Kang Emil.
Vice President EUWELLE Yao Li mengatakan pihaknya berkomitmen menjadikan TPPAS Lulut Nambo sebagai tolok ukur pengolahan sampah menjadi energi yang berkualitas.
“Kami bangga mendapatkan persetujuan ini. teknologi ini (yang akan digunakan) sudah didemonstrasikan di Jerman, Perancis, Cina dan Thailand, Euwelle berkomitmen menjadikan TPPAS ini sebagai benchmark project yang berkualitas, terima kasih atas kepercayaannya,” katanya.
TPPAS Lulut Nambo memiliki luas sekitar 55 hektare.
15 hektare di antaranya akan digunakan sebagai tempat pemrosesan dan pengolahan sampah dan sisanya akan dibangun jalan, tempat pengolahan air, dan perkantoran.
Baca Juga: Terminal Bus Poris Plawad dan Jatijajar Kembali Layani Angkutan AKAP
Ridwan Kamil menambahkan, sampah dari wilayah Bandung Raya, akan dikelola TPPAS Legok Nangka, dan untuk daerah lain sedang disiapkan, seperti Ciayumajakuning satu lokasi, Bekasi-Bekasi-Karawang-Purwakarta satu lokasi.
“Jadi minimal kita butuh tiga sampai empat proyek skala besar sehingga Jabar dikenal provinsi yang ramah lingkungan,” ujarnya. (SAT)









