MEDIA EMITEN – Harga emas merosot pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), tertekan oleh penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi menyusul komentar hawkish pejabat Federal Reserve (Fed) yang mendorong prospek kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Kontrak harga emas paling aktif untuk pengiriman Desember di Divisi Comex New York Exchange, jatuh US$ 8,6 atau 0,49% menjadi US$ 1.754,40 dolar AS per ounce, setelah diperdagangkan di kisaran teratas level US$ 1.769,90 dan terendah US$ 1.750,50.

Untuk minggu ini kontrak paling aktif mencatat kerugian 0,9% setelah naik lebih dari 5% minggu lalu.

Dolar AS bergerak lebih tinggi pada Jumat karena pelaku pasar bertaruh pada kenaikan suku bunga lebih lanjut dari Federal Reserve. Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata utama lainnya, naik 0,22% menjadi 106,9300.

Keuntungan awal pekan ini dengan cepat terpotong oleh penguatan dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah, setelah banyak pembicara Fed menyatakan bahwa sementara bank sentral akan menaikkan suku bunga pada kecepatan yang lebih lambat dalam beberapa bulan mendatang, itu jauh dari menghentikan kenaikan suku bunga.

Presiden The Fed St Louis James Bullard mengatakan bahwa suku bunga acuan kebijakan Fed mungkin perlu naik lebih jauh dari yang diantisipasi investor. Pernyataan ini menakuti pasar saham dan obligasi. Dia mengatakan bahwa minimal, suku bunga kebijakan Fed harus mencapai 5%.

Komentarnya muncul setelah data penjualan ritel AS yang lebih kuat dari perkiraan minggu ini, menunjukkan bahwa inflasi kemungkinan akan tetap membandel dalam waktu dekat.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember naik 2,2 sen atau 0,1% menjadi 20,997 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari turun US$ 7,20 atau 0,73% menjadi USS 984,30 per ounce.