Connect with us

INFRASTRUKTUR

Masalah Investasi Telkomsel di Gojek Bukan Sekadar Transaksi Keuangan Biasa

Published

on

MEDIA EMITEN – Banyak yang menuding ulasan saya tentang potensi kerugian negara dalam kasus investasi Telkomsel ke Gojek adalah berandai-andai. Saya dianggap nyinyir dan kenyinyiran saya merusak iklim investasi.

Ada juga yang mati-matian mengklarifikasi bahwa perlu dibedakan entitas PT Telkom Tbk (TLKM) dan PT Telkomsel, seolah-olah kita semua dianggap bodoh karena tidak tahu bahwa pengendalian Telkomsel ada di tangan TLKM sebagai pemegang saham 65%.

Laporan keuangan pun terkonsolidasi. Perubahan material apapun di Telkomsel tercantum di Laporan TLKM.

Buat yang bilang ulasan saya berandai-andai, framing negatif, dugaan semata tentang kerugian negara, saya tidak ambil pusing. Sebab yang menuding saya dari seberang sana juga masih berandai-andai tentang keuntungan negara.

Masih sebatas spekulasi dan belum terjadi. Masalah spekulasi itu berbantal teori-teori yang njlimet dan terlihat wah, itu cuma soal bungkus. Masalah dibilang sudah ada antisipasi risiko dan sejenisnya, itu tidak mengubah fakta bahwa semua keuntungan dan valuasi yang diceritakan belum terjadi!

Pokok gugatan saya bukan soal uang semata.

Ayo, kita buktikan. Hari ini, siapa saja yang punya perusahaan digital, datang kantor Telkom. Bukan buat demo dan orasi. Kita minta pinjaman Rp6 triliun tanpa bunga tenor 2 tahun (sampai 2023)—sama seperti yang Gojek lakukan.

Kita juga paparkan proyeksi bisnis kita bahwa kita akan IPO dalam 2 tahun, fokus pada digital telco, dan sebagainya. Kita bisa terbitkan Obligasi Konversi dan suruh Telkom membeli.

Pages: 1 2 3 4 5 6


Continue Reading

EMITEN NEWS

Wijaya Karya Bukukan Laba Bersih Rp 322,34 Miliar

Published

on

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. membukukan laba bersih Rp 322,34 miliar pada tahun 2020./Dok. mediaemiten.com.

MEDIA EMITEN – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. atau WIKA membukukan laba bersih Rp 322,34 miliar pada tahun 2020 yang didukung oleh
penjualan sebesar Rp 16,54 triliun sesuai laporan keuangan hingga
31 Desember 2020.

Catatan tersebut mencerminkan keberhasilan emiten kontruksi pelat merah dalam merealisasikan laba bersih 54,81% lebih tinggi dari
review target Perseroan akibat penyebaran pandemic Covid-19.

Baca Juga: WIKA Beton Ekspor Tiang Pancang ke Taiwan

Seperti dikutip mediaemiten.com dari laman wika.co.id, kontribusi terbesar penjualan didapat dari sektor infrastruktur dan gedung.

Kemudian diikuti secara berturut-turut oleh sektor industry, energi & industrial plant serta properti.

Meskipun berada di tengah pandemi Covid-19, kondisi keuangan
Perseroan terbukti tetap sehat yang tercermin lewat arus kas positif
dari aktivitas operasinya sebesar Rp 141,28 miliar.

Direktur Utama Wijaya Karya, Agung Budi Waskito menyebutkan kinerja Perseroan yang melampaui ekspektasi ini merupakan buah dari
kemampuan adaptif dan budaya inovatif yang telah lama tertanam
sekaligus berbagai langkah untuk menciptakan efisiensi.

“Kami ingin memastikan bahwa kondisi WIKA tetap sehat dimana
langkah yang diambil adalah melakukan proses bisnis yang
adaptif dan tangguh bertahan di tengah pandemi,” ucap Agung.

Sebagai kontraktor, WIKA membangun komunikasi aktif dan berusaha
untuk menselaraskan kepentingannya dengan kepentingan pemilik
proyek.

Dengan demikian, schedule maupun progress proyek tetap
terjaga dan meminimalisasi terjadinya cost overrun.

Menurut Agung, berbagai langkah efisiensi juga ditempuh dengan melakukan penghematan biaya usaha dan operasional.

Langkah ini diambil salah satunya untuk menjaga agar tidak terjadi pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan.

“Kami percaya SDM jadi modal utama untuk menggerakan bisnis
WIKA sehingga kelak siap lepas landas ketika kondisi semakin
membaik,” ujar Agung.

WIKA pada tahun 2021 menargetkan untuk memperoleh kontrak
baru sebesar Rp 40,12 Triliun dengan target perolehan kontrak di
tangan (order book) sebesar Rp115,02 triliun.

Simak Juga: Bukit Asam Likuidasi Cucu Usaha di Singapura untuk Efisiensi

Agung menambahkan proyek-proyek tersebut menjadi modal produksi hingga beberapatahun mendatang, sehingga dengan kapasitas yang ada sekarang, Wijaya Karya akan terus tumbuh.

“Kami yakin dengan menjalankan protokol pencegahan Covid-19 dan perilaku hidup sehat, target yang telah ditetapkan bisa tercapai dan melanjutkan torehan berbagai prestasi,” tutur Agung. (wan)


Continue Reading

EMITEN NEWS

Jasa Marga Bukukan Laba Bersih Rp 501,05 Miliar di 2020

Published

on

Jasa Marga mencatatkan laba bersih sebesar Rp 501,05 miliar sesuai laporan keuangan audited Perseroan tahun 2020./Dok. mediaemiten.com.

MEDIA EMITEN –  PT Jasa Marga (Persero) Tbk tetap konsisten menjaga kinerja usaha pada tahun 2020 di tengah pandemi Covid-19 yang turut berdamp​​ak terhadap bisnis perseroan dan juga peningkatan beban bunga seiring dengan pengoperasian jalan tol baru.

Pencapaian kinerja positif emiten pengelola jalan tol pelat merah ini dapat dilihat dari kemampuan untuk tetap mencatatkan laba bersih sebesar Rp 501,05 miliar sesuai laporan keuangan audited Perseroan tahun 2020.

Baca Juga: Dirut Pertamina Temui Pasien Terdampak Insiden Tangki Balongan

Seperti dikutip mediaemiten.com dari laman jasamarga.com, Perseroan juga tetap mampu mempertahankan margin EBITDA (pendapatan perusahaan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) tetap stabil sebesar 62,42%.

Hal ini dengan melakukan berbagai efisiensi untuk dapat mengimbangi penurunan volume lalu lintas dan pendapatan tol sebagai imbas dari diterapkannya kebijakan Work From Home (WFH) dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai daerah pada kuartal II dan III tahun 2020 yang menyebabkan terjadinya penurunan pendapatan tol Perseroan menjadi sebesar Rp 8,76 triliun.

“EBITDA Jasa Marga pada tahun 2020 ini tercatat sebesar Rp 5,98 triliun,” kata Corporate Secretary Jasa Marga, M. Agus Setiawan dalam keterangan tertulis di Jakarta.

Selain itu, seiring dengan beroperasinya beberapa ruas tol baru di tahun 2020, total aset Perseroan tercatat sebesar Rp 104,08 triliun, tumbuh sebesar 4,4% jika dibandingkan 2019.

Aksi Korporasi Jasa Marga untuk Pendanaan

Dari sisi pendanaan untuk mendukung likuiditas, Perseroan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan II Jasa Marga Tahap I pada tanggal 8 September 2020 senilai Rp 2 triliun.

Permintaan yang masuk untuk Obligasi Berkelanjutan II tersebut mencapai Rp 2,7 triliun melebihi nilai yang ditawarkan.

Dana hasil penerbitan obligasi tersebut antara laian untuk modal kerja, pemeliharaan jalan tol, peningkatan fasilitas dan sarana penunjang jalan tol lainnya.

Menurut Agus, untuk menambah diversifikasi produk pendanaan, Perseroan menerbitkan Surat Berharga Komersial atau Commercial Paper dengan nama instrumen SBK I PT Jasa Marga (Persero) Tbk 2020 (“SBK Jasa Marga”) untuk pertama kalinya dengan nilai Rp 566 miliar yang terdaftar di Bank Indonesia (BI).

Dengan berhasil diterbitkannya SBK Jasa Marga, Perseroan berhasil menambah portofolio pendanaan serta basis investor baru yang akan berdampak semakin kompetitifnya cost of debt Perseroan dalam mendukung pertumbuhan ke depan.

Simak Pula: Kartu Non Chip BTN Mulai 7 Juni 2021 Sudah Tidak Tidak Bisa Dipakai Lagi

Penambahan Jalan Tol dan Konsesi Jasa Marga

Di akhir September 2020, Jalan Tol Manado-Bitung Ruas Manado-Danowudu yang dikelola oleh Perseroan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Dengan dioperasikannya Jalan Tol Manado-Bitung Ruas Danowudu sepanjang 26,35 Km dan Jalan Tol Pandaan-Malang seksi V Pakis-Malang sepanjang 3,11 km pada April 2020, Jasa Marga memiliki total 1.191 Km jalan tol operasi yang tersebar di seluruh Indonesia pada akhir 2020.

Tidak hanya konsisten untuk menyelesaikan proyek-proyek jalan tol yang dikelolanya, Perseroan juga berkomitmen untuk terus menambah konsesi jalan tol yang dimilikinya.

Pada November 2020, Perseroan selaku pemegang saham mayoritas sebesar 60% membentuk entitas perusahaan baru bernama PT Jasamarga Jogja Bawen (JJB), yang akan mengelola Jalan Tol Yogyakarta-Bawen.

Jalan tol sepanjang 75,82 Km ini memiliki nilai investasi sebesar Rp 14,26 triliun dengan masa konsesi 40 tahun.

Baca Juga: 848 Warga Srengseng Sawah, Jakarta Selatan Terima Bantuan Sosial Tunai

Jalan Tol Yogyakarta-Bawen akan melintasi dua provinsi sekaligus, yaitu Provinsi Jawa Tengah (67,05 Km) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (8,77 Km).

Dengan penambahan konsesi Jalan Tol Yogyakarta-Bawen, maka hingga akhir tahun 2020, konsesi jalan tol Jasa Marga di seluruh Indonesia mencapai 1.603 Km. (ENI)


Continue Reading

EMITEN NEWS

WIKA Beton Ekspor Tiang Pancang ke Taiwan

Published

on

PT Wijaya Karya Beton Tbk. (WIKA Beton) melalui anak perusahaan, PT Citra Lautan Teduh menang tender untuk melakukan ekspor perdana tiang pancang ke Taiwan./Dok. wika-beton.co.id.

MEDIA EMITEN – Memasuki usia ke-24, PT Wijaya Karya Beton Tbk. (WIKA Beton) mendapatkan kado spesial dari anak perusahaannya yaitu PT Citra Lautan Teduh (CLT).

PT Citra Lautan Teduh menang tender untuk melakukan ekspor perdana tiang pancang ke Taiwan.

Dalam keterangan resmi perseroa yang dikutip mediaemiten.com, CLT berhasil memenangkan tender setelah bersaing dengan beberapa eksportir dari negara lain di Asia Tenggara seperti Vietnam dan Malaysia pada awal tahun 2021 ini.

Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya Beton, Yuherni Sisdwi R mengatakan, produk yang diekspor merupakan tiang pancang atau spun pile dengan diameter 300 mm dan panjang 8 meter.

Produk ini akan digunakan dalam proyek infrastruktur yang sedang digalakkan oleh pemerintah Taiwan.

Baca Juga: Bukit Asam Likuidasi Cucu Usaha di Singapura untuk Efisiensi

“Untuk ekspor perdana kali ini, Taiwan akan melakukan tes pile kepada produk yang dikirim,” kata Yuherni.

Tes pile ini perlu dilakukan untuk memastikan kesesuaian syarat dan spesifikasi produk dengan kebutuhan proyek.

Setelah lolos tes pile produk, maka WIKA Beton melalui CLT akan mendapatkan kontrak penuh proyek tersebut.

Salah satu alasan terkuat pemenangan CLT pada tender ini adalah besaran kapasitas produksi yang terjamin.

Kegiatan ekspor produk CLT ini merupakan salah satu perwujudan visi WIKA Beton untuk menjadi perusahaan terkemuka dalam bidang Engineering, Production, Installation (EPI) industri beton di Asia Tenggara.

CLT merupakan anak usaha WIKA Beton yang didirikan di Batam pada 23 Agustus 1990.

Dalam perjalanan bisnisnya, WIKA Beton tercatat mengakuisisi 90% saham CLT pada 12 September 2014 dan dilanjutkan pada 5 Desember 2014, sehingga kepemilikan saham CLT oleh perseroan meningkat menjadi sebesar 99,50%.

CLT merupakan entitas anak perseroan yang bergerak di bidang usaha pabrikasi tiang pancang beton putar pra-tekan atau pre-tensioned centrifugal precast concrete piles.

Para analis memangkas target kinerja keuangan Wika Beton pada 2021 dan 2022, meskipun pasar konstruksi cenderung membaik tahun ini dibandingkan tahun lalu.

BRI Danareksa Sekuritas menurunkan perkiraan pendapatan Wika Beton tahun ini menjadi dari Rp 7,33 triliun menjadi Rp 4,8 triliun.

Begitu juga dengan ekspektasi laba bersih direvisi turun dari Rp 322 miliar menjadi Rp 128 miliar.

Adapun perkiraan perolehan kontrak baru dipangkas dari Rp 6,46 triliun menjadi Rp 4,27 triliun.

Menurut analis BRI Danareksa Sekuritas, Maria Renata, pemangkasan target kinerja keuangan WIKA Beton tahun ini dipengaruhi oleh realisasi laba bersih perseroan tahun lalu yang di bawah target dan konsensus analis.

“Laba bersih tersebut hanya merefleksikan sekitar 87% dari target kami dan hanya mencapai 38,6% dari konsensus analis,” katanya dalam risetnya.

Begitu juga dengan perkiraan pendapatan perseroan tahun 2020 yang sebanyak Rp 4,8 triliun hanya mencerminkan 98,5% dari target BRI Danareksa Sekuritas dan sekitar 74,8% dari konsensus analis.

Penurunan pendapatan dipicu oleh rendahnya perolehan kontrak baru WIKA Beton sepanjang tahun lalu.

Simak Juga: Laba Bersih HM Sampoerna Tergerus 37,95% Imbas Terpuruknya Daya Beli Masyarakat

Penurunan itu mengakibatkan total kontrak yang diraih perseroan tahun ini masih rendah.

Meski demikian, kinerja keuangan WIKA Beton tahun 2021 diprediksi melonjak dibandingkan 2020, namun masih di bawah pencapaian tahun 2019. (wan)


Continue Reading

Trending