Connect with us

PASAR MODAL

BEI Revisi Target IPO Menjadi 54 Emiten Baru

Published

on

Ilustrasi Bursa Efek Indonesia./Dok. Instagram @idx_channel

MEDIA EMITEN – Bursa Efek Indonesia (BEI) merevisi target penawaran umum perdana saham (IPO) atau perusahaan tercatat tahun 2021 dari sebelumnya 30 menjadi 54 emiten baru.

Hal ini melihat  tingginya animo perusahaan yang berniat mencatatkan sahamnya di pasar modal seiring dengan keyakinan pulihnya perekonomian tahun ini.

Baca Juga: Investor Saham Di NTT Meningkat Drastis, BEI Sebut Sudah Capai 8.634

 “Sudah ada revisi target IPO baru jadi 54 ya, kalau tidak salah, jadi merevisi target semula terlalu moderat karena perkembangan terakhir cukup optimis,”kata Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi di Jakarta, dalam keterangan yang dikutip mediaemiten.com.

Menurutnya, dampak pandemi Covid-19 yang dikahwatirkan akan menekan minat perusahaan menggalang dana di pasar modal, tidak terjadi dan hal ini terlihat dari pengamatan selama satu kuartal ini yang tren IPO terus tumbuh.

Berbekal hal tersebut, BEI optimistis target revisi bakal tercapai karena tingginya minat IPO.

Hasan menambahkan, peningkatan jumlah target emiten baru itu juga di dasari oleh hasil diskusi terarah dengan para anggota bursa yang selama ini menjadi penjamin emisi efek bersifat ekuitas.

“Dari masukan anggota bursa yang tengah mempersiapkan calon emiten baru dan penilaian BEI kondisi terkini maka kami dapat lakukan peningkatan target emiten baru,” katanya.

Hingga tanggal 7 April 2021, BEI sudah mencatatkan 7 emiten baru.

Namun masih terdapat 22 perusahaan tengah menunggu pernyataan efektif IPO dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sebelumnya, pada awal tahun ini BEI hanya memasang target 30 emiten baru.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna pernah mengatakan prospek IPO di tahun ini akan melebih target dari tahun lalu dan melesat dari target yang ditentukan,

”Bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, jumlah total dana IPO meningkat 11% dari Rp2,7 triliun menjadi Rp3 triliun,”ujarnya.

Dari sisi jumlah pipeline pun meningkat sebesar 120% dibanding pada periode yang sama pada tahun lalu.

Hal tersebut, menurut Nyoman menggambarkan besarnya kepercayaan dan optimisme para pengusaha di Indonesia akan pemulihan perekonomian dan juga terhadap pasar modal Indonesia pada 2021.

Melihat kondisi tersebut, setelah kuartal satu ini BEI optimistis terkait dengan prospek IPO tahun 2021.

Baca Juga: Selamat Jalan Mbah, Ayahanda Wartawan Senior Budi Purnomo Telah Tiada

Sampai dengan 30 Maret 2021, terdapat 11 perusahaan tercatat baru saham di BEI dan masih terdapat 22 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI dengan setidaknya terdapat dua perusahaan yang diharapkan akan tercatat pada waktu dekat ini.

Adapun rincian pipeline berdasarkan sektor adalah dua perusahaan dari sektor energi, tiga perusahaan dari sektor barang baku, dua perusahaan dari sektor perindustrian, dua perusahaan dari sektor barang konsumen primer, enam perusahaan dari sektor barang konsumen nonprimer, tiga perusahaan dari sektor properti dan real estat, tiga perusahaan dari sektor teknologi, dan satu perusahaan dari sektor infrastruktur. (BAN)


PASAR MODAL

Selama Sepekan Kapitalisasi Pasar di BEI Naik Tipis 1,02%

Published

on

Ilustrasi Bursa Efek Indonesia/Dok. mediaemiten.com.

MEDIA EMITEN –  Kapitalisasi pasar di Burs Efek Indonesia (BEI) selama sepekan naik tipis 1,02% menjadi Rp 7.174,001 triliun dari Rp7.101,430 triliun pada penutupan pekan lalu.

Menurut keterangan tertulis yang dikutip mediaemiten.com, volume transaksi harian bursa selama sepekan naik 16,15% dari 13,695 miliar saham menjadi 15,907 miliar saham.

Baca Juga: BEI Revisi Target IPO Menjadi 54 Emiten Baru

BEI menyebutkan, peningkatan diikuti oleh rata-rata frekuensi harian bursa sebesar 4,40% dari sebanyak 1.003.634 kali transaks menjadi 1.047.771 kali transaksi.

Total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat sepanjang tahun 2021 adalah 21 emisi dari 17 emiten senilai Rp 24,63 triliun.

Dengan pencatatan ini, maka total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 480 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp 436,15 triliun dan US$ 47,5 juta, diterbitkan oleh 129 emiten.

Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 143 seri dengan nilai nominal Rp4.169,77 triliun dan US$ 400,00 juta.

EBA (Efek Beragun Asset) sebanyak 11 emisi senilai Rp 6,89 triliun.

Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan mengalami kenaikan sebesar 0,98% pada level 6.070,209 dari 6.011,456.

Sedangkan rata-rata nilai transaksi harian bursa mengalami koreksi 10,52% dari Rp 10,628 triliun menjadi Rp 9,510 triliun.

Investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp 32,99 miliar, sedangkan sepanjang tahun 2021 investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp 8,853 triliun.

Sebelumnya pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat, IHSG melemah tipis 1,52 poin atau 0,02% ke posisi 6.070,21.

Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 0,12 poin atau 0,01% ke posisi 906,49.

Baca Juga: Investor Saham Di NTT Meningkat Drastis, BEI Sebut Sudah Capai 8.634

Menurut analis Philip Sekuritas, Anugerah Zamzami Nasr, pelemahan IHSG di BEI diberatkan oleh pelemahan lanjutan di akhir-akhir sesi dari saham UNVR, INKP, ANTM, TLKM BRPT dan MDKA.

“Pelemahan IHSG juga sejalan dengan mayoritas indeks saham di Asia sore ini yang ditutup turun setelah data inflasi China memperdalam kekhawatiran atas inflasi global,” katanya. (wan)


Continue Reading

PASAR MODAL

OJK Dorong Optimalisasi Sekuritisasi Aset, Alternatif Pembiayaan Pasar Modal

Published

on

OJK terus mendorong optimalisasi produk sekuritisasi aset, hal ini melihat semakin terbukanya pembiayaan di pasar modal./Dok. mediaemiten.com

MEDIA EMITEN – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong optimalisasi produk sekuritisasi aset, hal ini melihat semakin terbukanya pembiayaan di pasar modal.

“Saat ini pembiayaan keuangan di Indonesia masih didominasi oleh sektor perbankan, namun dengan adanya instrumen alternatif seperti sekuritisasi aset maka diharapkan akan menambah alternatif sumber pembiayaan lain bagi para pelaku ekonomi baik pelaku korporasi maupun pelaku UMKM di Indonesia,” kata Kepala Eksekutif Pasar Modal OJK, Hoesen di Jakarta, yang dikutip mediaemiten.com.

Menurut Hoesen, ketentuan terkait sekuritisasi aset telah diatur dalam POJK Nomor 65/POJK.04/2017 tentang Pedoman Penerbitan dan Pelaporan Efek Beragun Aset Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif dan POJK Nomor 23/POJK.04/2014 tentang Pedoman Penerbitan dan Pelaporan Efek Beragun Aset Berbentuk Surat Partisipasi Dalam Rangka Pembiayaan Sekunder Perumahan.

Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA) dan Efek Beragun Aset Berbentuk Surat Partisipasi (EBA SP) merupakan produk investasi yang saat ini sudah beredar di pasar modal Indonesia, merupakan produk hasil sekuritisasi aset keuangan yang diubah dalam suatu bentuk instrumen efek yang dapat memberikan likuidtas sehingga menjadi lebih mudah untuk diperdagangkan.

Aset keuangan dalam sekuritisasi aset sendiri dapat berupa tagihan kredit, tagihan yang timbul di kemudian hari, pemberian kredit termasuk KPR atau apartemen, pendapatan di masa mendatang, arus kas di masa mendatang, efek bersifat utang, serta aset keuangan lainnya.

”Pada 2021, terdapat sembilan produk KIK EBA dengan total dana kelolaan Rp 4,87 triliun,” tuturnya.

Nilai produk KIK EBA ini cukup terdampak signifikan di 2020 akibat pandemi Covid-19, yaitu mengalami penurunan sebesar 28 persen dari Rp 6,78 triliun pada Desember 2019 menjadi Rp 4,87 triliun pada Desember 2020.

“Pada triwulan pertama 2021 tercatat Rp 4,81 triliun,” ujar Hoesen.

Sementara itu untuk EBA SP, mengalami perkembangan yang cukup positif di mana rata-rata pertumbuhan total dana kelolaanya mencapai 23% setiap tahunnya.

Per Maret 2021, terdapat tujuh produk EBA SP dengan total dana kelolaan Rp 4,4 triliun.

”Kami berkeyakinan bahwa keberadaan sekuritisasi aset melalui KIK EBA dan EBA SP mampu memberikan kontribusi terhadap upaya pemulihan ekonomi Indonesia pada umumnya dan upaya pengembangan serta penganekaragaman instrumen di industri pasar modal pada khususnya,” kata Hoesen.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti mengatakan, aktivitas di pasar sekuritisasi aset di Indonesia saat ini masih belum berkembang baik dari sisi suplai maupun sisi permintaan.

Menurutnya, saat ini, originator di Indonesia masih terbatas pada BUMN dan perbankan. 

Underlying asset-nya sebagian besar masih berupa kredit perumahan, sementara yang berupa future cash flow, kredit komersial, dan aset keuangan lainnya masih sedikit.

Destry menambahkan, dari sisi permintaan atau investor, saat ini masih banyak yang belum akrab dengan instrumen sekuritisasi aset, baik investor institusional maupun investor ritel.

Berbagai program pembangunan yang telah dibiayai melalui APBN atau APBD maupun pihak swasta, masih memerlukan sumber pembiayaan inovatif lainnya, salah satunya adalah melalui sekuritisasi aset. (wan)


Continue Reading

PASAR MODAL

Investor Saham Di NTT Meningkat Drastis, BEI Sebut Sudah Capai 8.634

Published

on

Ilustrasi lantai Bursa Efek Indonesia./Dok. mediaemiten.com

MEDIA EMITEN – Pasar modal di daerah menunjukkan perkembangan yang siginfikan, Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat pertumbuhan investor saham pasar modal di NTT meningkat drastis mencapai 8.634 investor per Februari 2021.

”Dalam dua bulan, Januari-Februari 2021 hampir setengah target kami untuk investor saham di NTT tercapai,” kata Kepala Kantor Perwakilan BEI NTT, Adevi Sabath Sofani di Kupang, seperti dikutip mediaemiten.com dari Antara.

Pada Desember 2020 jumlah investor saham di NTT tercatat sebanyak 7.391 investor.

Namun kemudian, terjadi pertumbuhan yang signifikan pada Januari 2021 menjadi 8.040 investor dan meningkat lagi pada Februari menjadi 8.634 investor.

Meskipun pertumbuhan investor saham di NTT cukup drastis, menurut Sofani, BEI NTT masih memiliki pekerjaan rumah yang banyak terutama berkaitan dengan edukasi tentang saham kepada masyarakat di provinsi berbasiskan kepulauan ini.

“Setidaknya 50% dari inklusi yang ada itu kita dapatkan dari sekolah pasar modal dan edukasi, tetapi 50% lainnya ini yang kita jaga sekali,” ucapnya.

Menurutnya, investor yang berinvestasi di pasar saham perlu mendapat edukasi yang memadai karena di era digitalisasi banyak informasi yang sulit disaring antara yang benar atau salah.

Untuk itu, BEI menghadirkan kegiatan sekolah pasar modal dan edukasi belajar saham bersama masing-masing sebanyak dua kali pertemuan dalam sebulan.

”Kami terus berupaya agar masyarakat NTT teredukasi dengan baik soal investasi saham atau pasar modal,” ujar Sofani. (wan)


Continue Reading

Trending