Connect with us

BISNIS

Alat Tangkap Ikan Harus Menggunakan Teknologi Ramah Lingkungan

Avatar

Published

on

Ketua Komisi IV DPR RI, Sudin. (Foto: dpr.go.id)

Mediaemiten.com, Jakarta – Ketua Komisi IV DPR RI Sudin menegaskan, alat penangkapan ikan saat ini harus menggunakan teknologi ramah lingkungan (environmental friendly fishing technology). Sehingga usaha penangkapan dapat berkelanjutan, sumber daya ikan terjamin kelestariannya, dan kesejahteraan masyarakat nelayan dapat tercapai.

“Perkembangan teknologi penangkapan ikan dengan beberapa alat yang kurang selektif dan merusak lingkungan harus menjadi perhatian kita bersama. Penggunaan alat yang tidak baik dapat mengancam kelestarian SDI dan habitat perairan laut,” kata Sudin dalam keterangan tertulis yang diterima Parlementaria, Kamis (12/11/2020).

Ia menuturkan, alat tangkap yang ramah lingkungan memiliki kriteria penting, yaitu selektivitas tinggi, tidak membahayakan nelayan dan konsumen, serta produksi berkualitas.  Sementara berdasarkan Food Agriculture Organization (FAO) dalam Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) menetapkan sembilan kriteria alat tangkap antara lain, memiliki selektivitas yang tinggi, tidak merusak habitat, tempat tinggal dan berkembang biak ikan dan organisme lainnya, tidak membahayakan nelayan (penangkap ikan).

Kriteria lainnya adalah produk tidak membahayakan kesehatan konsumen, hasil tangkapan yang terbuang minimum, alat tangkap yang digunakan harus memberikan dampak minimum terhadap keanekaan sumber daya hayati (biodiversity), tidak menangkap jenis yang dilindungi undang-undang atau terancam punah.

Namun, hingga kini alat tangkap cantrang masih merupakan alat tangkap yang dianggap nelayan skala kecil atau sedang paling efektif dan ekonomis untuk menangkap berbagai jenis komoditi ikan dan udang. Padahal, cantrang hanya memenuhi 3 dari 9 indikator FAO. Karena itu, cantrang sebetulnya termasuk ke dalam alat tangkap yang sangat merusak lingkungan.

Selain itu, menurut Sudin, penggunaan alat tangkap cantrang dengan cara ditarik ditengarai dapat menyapu sumber daya perikanan dan merusak lingkungan perairan tempat cantrang dioperasikan. Permasalahan cantrang yang lain meliputi, permasalahan perizinan yang kurang tertib, praktek IUU fishing, menimbulkan konflik antarnelayan, lemahnya pengawasan dan penegakan hukum, terancamnya kelestarian, dan permasalahan stok ikan yang mulai menurun.

Lebih lanjut, masih kata Sudin, dalam hal memicu konflik antarnelayan, cantrang menyebabkan terjadinya kompetisi daerah penangkapan. “Hal ini karena penangkapan dengan cantrang akan merugikan nelayan skala kecil baik langsung maupun tidak langsung karena sumberdaya perikanan tersapu bersih sebagai akibat alat tangkap tersebut kurang selektif,” jelas politisi PDI-Perjuangan itu.

Di samping itu, cantrang juga memiliki selektivitas yang rendah sehingga mendapatkan hasil tangkapan sampingan yang jumlahnya kadangkala lebih besar dibandingkan hasil tangkapan yang ditargetkan. 

Mengutip Sekretaris Jenderal Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia, Sudin mengatakan penggunaan cantrang yang tak terkendali selama satu tahun terakhir telah menyengsarakan nelayan kecil. Kapal cantrang dan pukat yang berukuran besar kerap menebar jaring hingga ke perairan dangkal tempat nelayan kecil mencari ikan.

“Dampaknya tangkapan nelayan kecil jadi terganggu. Pernyataan tersebut memang benar adanya dan sesuai dengan fakta lapangan yang terjadi saat ini. Tak hanya nelayan kecil yang mengalami kerugian akibat hal ini tetapi juga ekosistem yang ada di lautan jadi terganggu dengan pengoperasian cantrang yang sudah tak terkendali lagi setahun terakhir ini,” ujarnya.

Karena itu, Sudin menilai isu diperbolehkannya kembali cantrang merupakan salah satu permasalahan besar dan kompleks yang akan terjadi kedepannya. Menurut legislator dapil Lampung I itu, Pemerintah harus betul-betul menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan SDI. Pertama, prinsip jaminan kesetaraan akses (skala kecil VS skala industri) melalui pembagian jalur dan pembatasan kapasitas penangkapan.

Kedua, prinsip perlindungan terhadap keanekaragaman hayati (biodiversity) melalui penerapan selektivitas penangkapan dan pengembangan eco-friendly fishing gear. Tujuannya untuk menjaga kelestarian stok yang menjadi target penangkapan, mengurangi tertangkapnya by-catch (reduction by-catch), dan mengurangi kerusakan dasar perairan (reduction seabed destruction).  (dpr)


BISNIS

Pakar Digital Ungkap Strategi untuk Mendapatkan Passive Income dari Cryptocurrency

Avatar

Published

on

CEO MenaraDigital Anthony Leong /Instagram.com/@anthonyleong.id

MEDIA EMITEN – Masa depan crypto sebagai komoditas aset berjangka semakin menjanjikan.

Hal ini disebabkan oleh kemampuan pengembangan teknologi yang ditawarkan mata uang crypto tidak terbatas.

Aktivitas trading crypto pun meningkat setiap tahunnya seiring dengan kian banyaknya variasi coin yang ditawarkan.

Kenaikan aktivitas ini juga dorong dengan munculnya platform bursa crypto yang semakin beragam menjadi pendorongnya.

Indonesia melalui Bappeti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka) hingga kini memiliki 13 bursa crypto yang telah resmi terdaftar seperti Indodax, Tokocrypto, Rekeningku, Zipmex, dan lainnya.

Pakar Digital, Anthony Leong mengatakan umumnya untuk mendapatkan mata uang crypto dilakukan dengan aktivitas yang disebut dengan mining (menambang).

Namun kegiatan mining (menambang) cryptocurrency memerlukan kemampuan komputer yang kuat dan dukungan listrik yang besar.

Pages: 1 2 3 4


Continue Reading

BISNIS

Kinerja Pertamina Geothermal Energy Lampaui Target Meski Ditengah Pandemi

Avatar

Published

on

Ilustrasi Pertamina Geothermal Energy./Dok. pertamina.com.

MEDIA EMITEN – Realisasi kinerja operasional PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) sepanjang 2020 melebihi target.

Selama pandemi, PGE berhasil mencatat produksi setara listrik (Electric Volume Produce – Geothermal) sebesar 4.618,27 GWh atau lebih tinggi 14% dari target yang telah ditetapkan tahun 2020 yaitu sebesar 4.044,88 GWh.

Pencapaian di atas target tersebut lantaran pelaksanaan operation excellence yang didukung implementasi Geothermal Integrated Management System.

Baca Juga: Pertamina Suntik Modal ke Mitra Binaan di Sumsel untuk Perluas Distribusi Bright Gas

Dikutip mediaemiten.com, pencapaian PGE tersebut menyumbangkan 31% produksi geothermal nasional 2020 yang ditetapkan Kementerian ESDM sebesar 14.774 Giga Watt Hour (GWh).

Secara rinci, Area Geothermal (AG) Kamojang berhasil mencatat produksi setara listrik sebesar 1.650 GWh atau lebih tinggi 13% dari target RKAP 2020 yang sebesar 1.454 Gwh.

AG Lahendong mencatat produksi setara listrik sebesar 828 GWh atau lebih tinggi 10% dari target yang sebesar 754 GWh.

Kemudian, AG Ulubelu mencatat produksi setara listrik sebesar 1.613 GWh atau lebih tinggi 21% dari target yang sebesar 1.335 GWh. Lalu,

Setelah itu, AG Lumut Balai mencatat produksi setara listrik sebesar 442 GWh atau lebih tinggi 12% dari target yang sebesar 395 GWh.

Selain menjaga pasokan listrik dari pembangkit yang telah dioperasikan saat ini, PGE juga melakukan kajian dalam rangka meningkatkan kapasitas terpasang panas bumi untuk pembangkitan energi listrik dari wilayah operasi eksisting.

Area yang menjadi fokus awal dalam kajian ini adalah Area Ulubelu (Lampung) dan Area Lahendong (Sulawesi Utara).

“PGE terus berkomitmen untuk meningkatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam bauran energi (energy mix) nasional menjadi 23% pada 2025 di sektor panas bumi dengan strategi bisnis yang terukur untuk menjadi World Class Green Energy Company,” kata Direktur Utama PGE Ahmad Yuniarto dalam keterangan tertulis.

Menurutnya, kedepannya  PGE menargetkan untuk mengoperasikan PLTP dengan kapasitas own operation 1,3 Giga Watt (GW) pada 2030.

Yuniarto menambahkan, saat ini PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi, dimana dalam wilayah kerja tersebut telah terbangkitkan listrik panas bumi sebesar 1877 MW, yang terdiri dari 672 MW yang dioperasikan sendiri (own operation) oleh PGE dan 1205 MW dikelola melalui Kontrak Operasi Bersama.

Kapasitas terpasang panas bumi di Wilayah Kerja PGE tersebut berkontribusi sebesar sekitar 88% dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia, dengan potensi pengurangan emisi CO2 sebesar sekitar 9,5 juta ton CO2 per tahun.

Ia mengatakan penghematan juga merupakan salah satu kunci dalam menghadapi tantangan pandemi Covid-19 di sepanjang tahun 2020, dari anggaran biaya operasional yang sudah direncanakan, PGE dapat melakukan efisiensi biaya operasi sebesar 9%.

Simak Juga: Mediasi Fara Luwia dan Tergugat PT SNI, PT NWG dan PT LPI Tidak Mencapai Harapan

Pertamina Geothermal Energy juga mendukung strategi pemerintah dalam me-utilisasi produk-produk dalam negeri.

“Untuk penerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) PGE telah menerapkan Pemanfaatan TKDN sebesar 63,39% melebihi target yang telah direncanakan tahun 2020 sebesar 25%,” kata Yunarto. (wan)


Continue Reading

BISNIS

Indosat OoredooTambah Kapasitas Jaringan 4G, Layanan Makin Mantap

Avatar

Published

on

Ilustrasi Indosat Ooredoo

MEDIA EMITEN – Indosat Ooredoo menambah kapasitas jaringan 4G berkualitas video untuk memudahkan masyarakat Indonesia tetap bisa bersilaturahmi secara virtual dengan keluarga, teman, dan kolega tanpa perlu keluar rumah.

Penambahan kapasitas jaringan 4G ini menurut Director and Chief Operating Officer Indosat Ooredoo, Vikram Sinha, untuk meningkatkan kualitas pelayanan menyambut Lebaran.

Baca Juga: Indosat Ooredoo Catat Kenaikan Trafik Layanan Data Saat Hari Raya Idul Fitri

Menurutnya, , perseroan berkomitmen untuk terus mendukung pemerintah dan masyarakat Indonesia di masa yang penuh tantangan ini dengan menyediakan produk dan layanan terbaik bagi pelanggan.

Apalagi menjelang Lebaran, kebutuhan telekomunikasi pelanggan akan semakin meningkat meskipun dengan pergerakan terbatas.

“Kami bertekad menjaga kualitas jaringan agar terus optimal baik di perkotaan maupun pedesaan, karena di masa ini silaturahmi menjadi yang terpenting meskipun dilakukan secara virtual,”ujar Vikram dalam keterangan tertulis yang dikutip mediaemiten.com.

Menghadapi kebutuhan telekomunikasi pelanggan yang terus meningkat, tahun ini Indosat Ooredoo telah membangun jaringan 4G berkualitas video dengan jauh lebih cepat dari yang direncanakan.

Lebih dari 50% rencana site baru 2021 sudah selesai dibangun di kuartal pertama.

Tidak hanya itu saja, lebih dari 32% rencana peningkatan kapasitas jaringan dan lebih dari 33% rencana fiberisasi berhasil dieksekusi dalam periode yang sama.

Indosat Ooredoo secara konsisten mengembangkan kualitas dan kapasitas jaringan di seluruh Indonesia untuk melayani kebutuhan telekomunikasi masyarakat, yang sebagian besar masih melakukan aktivitas bekerja dan bersekolah dari rumah, terlebih saat menjelang Lebaran.

Dalam satu tahun terakhir, trafik data tercatat naik sekitar 50% di kuartal pertama 2021 dibandingkan perode yang sama tahun lalu.

Kecepatan unduh rata-rata juga meningkat hampir 50%.

Berbekal pengalaman di masa Ramadan dan Lebaran tahun sebelumnya, Indosat Ooredoo melakukan penanganan khusus terhadap area-area dengan peningkatan trafik tertinggi selama Lebaran, seperti Botabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung.

Hal ini dilakukan dengan dukungan model operasi digital berbasis Artificial Intelligence (AI) dan otomatisasi yang dicanangkan sejak tahun lalu.

Baca Juga: PGN Jamin Pasokan Gas Aman Selama Lebaran

Indosat Ooredoo berkomitmen bahwa kenaikan trafik telekomunikasi khususnya data akan diimbangi dengan kinerja jaringan 4G berkualitas video yang prima.

Terbukti di awal Ramadan kecepatan unduh rata-rata berhasil meningkat 6% di tengah kenaikan trafik data sebesar 8% dibandingkan hari biasa. (BAN)


Continue Reading

Trending