Connect with us

INTERNASIONAL

Pemilihan Presiden Amerika Serikat Resmi Dimenangkan Joe Biden

Avatar

Published

on

Calon Presiden AS, Joe Biden. (Foto: Instagram @joebiden)

Mediaemiten.com, Jakarta – Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) resmi di menangkan oleh pasangan Joe Biden dan Kamala Haris, Sabtu (7/11/2020) malam waktu setempat. Hal tersebut, membuat Biden mendepak Donald Trump dari Gedung Putih.

Tidak hanya itu, Pemilu AS 2020 kali ini juga rupanya berhasil mencatat berbagai sejarah baru. Tidak tanggung-tanggung, pemilu yang digelar di tengah pandemi ini setidaknya mencatatkan empat rekor baru. 

Lalu apa saja fakta-fakta menarik seputar Pemilu AS 2020, yang telah berjalan beberapa minggu terakhir ini? Berikut ringkasan yang berhasil RRI rangkum dari beberapa sumber, diantaranya: 

1. Digelar Saat Pandemi

AS menjadi salah satu negara yang tetap menggelar pemilu meski di tengah pandemi COVID-19. Saat ini, jumlah kasus di AS sudah mencapai lebih dari 9.95 juta kasus. Dari jumlah itu, ada lebih dari 230 ribu pasien corona yang meninggal dunia. 

Sayangnya, Pemilu AS 2020 berpotensi mendatangkan gelombang penularan baru. Apalagi, pemilu ini juga diwarnai aksi demonstrasi dan pesta kemenangan hingga melanggar protokol kesehatan serta jam malam di beberapa negara bagian.

2. Tiga Kali Calonkan Diri

Pemilu AS 2020 merupakan kali ketiga bagi Biden, mencoba mencalonkan diri sebagai Presiden AS. Sebelumnya, ia pernah mencoba mencalonkan diri melalui Partai Demokrat pada tahun 1988 dan 2008, namun gagal. 

Baru di Pemilu 2020, Biden berhasil lolos menjadi calon Presiden AS dari Partai Demokrat. Tidak hanya itu, ia juga berhasil memenangkan pertarungan melawan petahana Donald Trump dengan suara elektoral 279. 

3. Wapres AS Perempuan Pertama

Wakil Presiden AS Terpilih, Kamala Harris, juga memecahkan rekor sebagai Wakil Presiden AS perempuan pertama sepanjang sejarah. Tidak hanya itu, Kamala juga merupakan perempuan kulit hitam dan keturunan Afrika-India pertama yang menjadi Wapres AS. 

Salah satu alasan Biden memilihnya menjadi wapres, adalah untuk mendongkrak pemilih kulit berwarna. Apalagi, saat ini, situasi di AS masih tidak kondusif akibat pembunuhan warga kulit hitam, misalnya kasus George Floyd di Minneapolis Mei lalu. 

Pada 3 November lalu, Biden pernah berjanji akan memilih perempuan sebagai pasangannya di Pemilu AS. Setelah membahas rencana tersebut dengan berbagai pihak, termasuk istri Biden, Jill Biden, akhirnya pilihan tersebut jatuh ke tangan Kamala Harris. 

4. Hubungan Kamala dengan Keluarga Biden

Kamala Harris bukan orang asing di lingkaran keluarga Biden. Sebelum menjadi wakil presiden, Kamala merupakan teman dekat anak Joe Biden, Joseph Robinette “Beau” Biden III. 

Saat itu, Kamala menjabat sebagai Jaksa Agung California, sedangkan Beau, adalah Jaksa Agung Delaware. Namun, pada 2015, Beau meninggal akibat kanker otak. 

5. Trump Pernah Sumbang Kampanye Kamala

Sebelum menjadi lawan politik di Pilpres 2020, sebenarnya Donald Trump pernah menyokong kampanye Kamala Haris. Pada tahun 2011 dan 2013 silam, Trump menyumbang total 6 ribu USD untuk menjadikan Kamala Jaksa Agung di California. 

Namun, tidak hanya Trump, putrinya, Ivanka Trump, juga ikut memberikan sumbangan ke Kamala Haris. Saat itu, Ivanka menyerahkan 2 ribu USD pada 2014 untuk hal yang sama. 

6. Suara Populer di Pemilu AS Terbanyak

Joe Biden berhasil memecahkan rekor popular voters terbanyak sepanjang sejarah AS. Di Pemilu AS 2020, ia tercatat mendapatkan 74.857.880 suara atau 50,6 persen. 

Dengan angka tersebut, ia resmi mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang Barack Obama. Saat Pemilu AS 2008, Obama mendapatkan 69.498.516 suara. 

7. Kemenangan Demokrat di Georgia

Biden berhasil mengembalikan kemenangan Partai Demokrat di Georgia. Sejak masa keemasan Bill Clinton di Pilpres AS 1992, Partai Demokrat belum pernah menang lagi di Georgia. 

Di negara bagian tersebut, Biden berhasil menang tipis melawan Donald Trump. Ia mendapatkan 49.5 persen, sedangkan Trump 49.3 persen. Kemenangan ini membuat Biden mengantongi tambahan 16 suara elektoral. 

8. Kemenangan Pertama Partai Demokrat di Arizona

Tidak hanya di Georgia, Biden juga mengembalikan kejayaan Partai Demokrat di Arizona. Di sana, Biden berhasil memperoleh suara 49,6 persen dan mengantongi 11 suara elektoral. 

Partai Demokrat juga terakhir kali memenangkan pemilu di Arizona di masa pencalonan Bill Clinton. Saat itu, di Pemilu AS 1996, Bill Clinton yang berpasangan dengan Al Gore berhasil menang telak dari pasangan Bob Dole-Jack Kemp. (rad)


INTERNASIONAL

Pidato Lengkap Kemenangan Presiden ke-46 Amerika Serikat

Avatar

Published

on

Presiden Baru AS, Joe Biden. (Foto: Instagram @joebiden)

Mediaemiten.com, Jakarta – Negara Amerika Serikat telah memiliki Presiden Terpilih periode 2020-2024, Joe Biden. Biden juga telah memberikan pidato perdananya sebagai Presiden ke-46 Amerika Serikat, pasca megalahkan petahana Donald Trump.

Biden berpidato kemenangan sebagai Presiden Amerika Serikat di Delaware, pada Sabtu (7/11/2020) waktu setempat.

Turut hadir pasangan Biden dalam Pemilu 2020 ini, yakni Wakil Presiden Amerika Serikat terpilih Kamala Harris. Bahkan, juga hadir para pendukung Biden-Harris dengan cara menyaksikan di mobil masing masing.

Berikut ini, Pidato Kemenangan (lengkap) Presiden ke-46 Amerika Serikat Joe Biden dilansir CNN, Minggu (8/11/2020):

Halo warga Amerika dan orang-orang yang membuatku berdansa, warga Delaware. Saya melihat melihat temanku Senator Tom Carper di sana dan saya pikir di sebelah Senator Kunze. Dan aku kira di sana juga ada gubernur di sana, apakah itu Ruth Ann? Mantan Gubernur Ruth Ann Minner. Yang paling penting adalah saudara perempuanku, Valerie.

Saudara-saudara, warga negeri ini telah berbicara. Mereka mengirimkan kita kemenangan telak, kemenangan yang meyakinkan, kemenangan untuk kita, rakyat. Kita menang dengan suara terbanyak sepanjang sejarah pilpres di negara ini, 74 juta suara.

Yang harus saya akui mengejutkan saya, malam ini kita melihat seluruh negara ini, seluruh kota, seluruh warga di penjuru negeri, termasuk di berbagai belahan dunia, sebuah curahan kebahagiaan, harapan, dan kepercayaan baru di esok hari yang membawakan hari yang lebih baik. Dan saya tersanjung dengan kepercayaan yang kalian berikan kepada saya.

Saya berjanji akan menjadi presiden yang tidak memecah belah, tapi mempersatukan. Presiden yang tidak akan membedakan negara bagian merah dan negara bagian biru, hanya Negara Amerika Serikat. Saya akan bekerja sepenuh hati untuk memenangkan kepercayaan dari kalian semua. Dan untuk itu, untuk Amerika yang aku percayai. Ini tentang rakyat dan pemerintahan kami ada untuk itu.

Saya memperjuangkan posisi ini untuk memulihkan jiwa Amerika, untuk membangun kembali tulang punggung negeri ini, kelas menengah, dan untuk membuat Amerika kembali disegani di dunia. Dan untuk menyatukan kita kembali di sini, di rumah kita. Jadi kehormatan bagi hidup saya bahwa jutaan orang Amerika memberikan suaranya untuk visi tersebut. Sekarang, pekerjaan untuk mewujudkan visi itu menjadi tugas, tugas kita bersama.

Saudara-saudara, seperti sudah saya sering sampaikan sebelumnya, saya suami Jill. Saya tidak akan berada di sini tanpa cintanya, seluruh dukungan Jill dan anak saya Hunter dan anak perempuan saya Ashley dan cucu kami, juga keluarga kami.

Mereka adalah jiwaku. Jill adalah seorang ibu, seorang pengajar. Dia mengabdikan dirinya untuk pendidikan. Mengajar bukan hanya pekerjaannya, tapi adalah hidupnya. Untuk para guru Amerika, ini hari yang besar untuk kalian. Salah satu dari kalian akan berada si Gedung Putih. Jill akan menjadi Ibu Negara yang baik, saya sangat bangga kepadanya.

Saya mendapat kehormatan untuk bekerja sama dengan wakil presiden yang fantastis, Kamala Harris. Dia mencatat sejarah sebagai perempuan pertama, perempuan kulit hitam pertama, perempuan pertama dari keturunan Asia Selatan, anak perempuan imigran pertama yang pertama terpilih di negeri ini. Jangan bilang kepada saya ini mustahil di Amerika Serikat.

Ini perjalanan yang panjang dan kita diingatkan malam ini tentang mereka yang bertarung sangat keras selama bertahun-tahun untuk mewujudkan ini. Sekali lagi, Amerika tunduk kepada The Arc of The Moral Universe, lebih kepada keadilan. Kamala, suka atau tidak, kamu adalah keluargaku, kamu menjadi anggota kehormatan keluarga Biden, tidak ada jalan keluar.

Untuk kalian yang menjadi sukarelawan di TPS di tengah pandemi, petugas pemungutan suara di daerah, kalian berhak atas apresiasi yang setinggi-tingginya dari seluruh negeri. Dan tim kampanye serta semua relawan dan semua yang telah terlibat mewujudkan hal ini, saya berhutang pada kalian. Saya berhutang, saya berhutang pada kalian atas segalanya.

Untuk para pendukung kami, saya sangat bangga dengan kampanye yang kita lakukan. Saya bangga dengan koalisi yang kita bangun, koalisi yang terbesar dalam sejarah: Demokrat, Republik, independen, kalangan progresif, moderat, konservatif, tua, muda, urban, suburban, rural, gay, straight, transgender, kulit putih, keturunan latin, orang Asia, orang asli Amerika. Saya serius, khususnya pada momen-momen sulit, komunitas Afrika-Amerika berdiri untuk saya. Kalian selalu ada di belakang saya, dan saya akan berada di belakang kalian.

Saya telah mengatakan, saya ingin kampanye ini mewakili wajah Amerika. Kita telah melakukan itu. Sekarang yang saya inginkan adalah pemerintahan yang terlihat seperti itu. Untuk kalian yang memilih Presiden Trump, saya paham ada kekecewaan malam ini. Saya juga pernah kalah beberapa kali. Sekarang, mari berikan kesempatan bagi satu sama lain. Ini saatnya menyingkirkan retorika kasar, turunkan ketegangan, saling lihat lagi, saling mendengar lagi, dan berhenti memperlakukan pesaing kita sebagai musuh. Mereka bukan musuh kita, mereka juga warga Amerika. Mereka warga Amerika.

Injil mengajarkan kita untuk semua ada masanya, ada waktu membangun, waktu menyembuhkan. Ini waktu untuk menyembuhkan Amerika.

Sekarang kampanye sudah berakhir. Apa yang jadi kehendak rakyat, apa yang jadi mandat rakyat? Saya mempercayai ini, Amerika memanggil kita untuk mengerapkan kesopanan, menerapkan keadilan, menerapkan sains, menerapkan harapan, dan pertarungan terbesar dalam masa kita, pertarungan mengendalikan virus, pertarungan membangun kemakmuran, pertarungan mengamankan jaminan kesehatan keluarga, pertarungan mencapai keadilan rasial, dan mencabut rasisme sistemik di negeri ini, pertarungan untuk menyelamatkan planet kita dengan mengendalikan iklim, pertarungan mengembalikan kesantunan, mempertahankan demokrasi, dan memberikan setiap orang di negeri ini kesempatan yang sama. Itu yang mereka minta, kesempatan yang sama.

Saudara-saudara, kerja kita dimulai dengan mengendalikan virus corona. Kita tidak bisa memperbaiki ekonomi, memulihkan hal-hal vital, mengembalikan momen terbaik di kehidupan, memeluk cucu kita, anak kita saat mereka ulang tahun, pernikahan mereka, wisuda, semua momen yang penting bagi kita sampai kita mengendalikannya.

Pada Senin, saya akan mengumumkan nama-nama ilmuwan dan ahli sebagai penasihat transisi untuk menjadikan Rencana Penanganan Covid Biden-Harris ke dalam cetak biru aksi yang akan dimulai 20 Januari 2021. Rencana itu dibangun dengan landasan sains, dibangun dengan kasih sayang, empati, dan perhatian. Saya tidak akan menyingkirkan upaya, tidak satupun, untuk menyelesaikan pandemi ini.

Saya orang Partai Demokrat, tapi saya akan memimpin sebagai Presiden Amerika. Saya akan bekerja keras untuk mereka yang tidak memilih saya sama dengan saya bekerja keras untuk mereka yang memilih saya. Mari akhiri era suram dan demonisasi di Amerika ini sekarang juga!

Penolakan terhadap kerja sama antara Demokrat dan Republik bukanlah disebabkan kekuatan misterius di luar kendali kita. Ini adalah pilihan kita. Jika kita bisa memilih untuk tidak bekerja sama, kita bisa memilih untuk bekerja sama. Dan saya percaya ini adalah bagian dari mandat yang diberikan rakyat Amerika. Mereka ingin kita bekerja sama dan mereka tertarik dengan itu. Dan itulah keputusan yang akan saya buat. Saya akan meminta di Kongres, Demokrat dan Republik untuk memilih bersama saya.

Kisah Amerika adalah tentang kesempatan yang lambat, tapi terus berkembang. Jangan salah, terlalu banyak impian yang ditangguhkan untuk waktu yang lama. Kita harus mewujudkan janji negara untuk semua orang, apapun rasnya, etnisnya, kepercayaannya, identitasnya, atau ketidakmampuan mereka.

Saudara-saudara, Amerika selalu terbentuk dari pemilu ke pemilu. Di saat yang sama, kita membuat keputusan sulit tentang siapa kita dan akan jadi apa kita. Lincoln pada 1860 datang untuk menyelamatkan The Union. FDR, 1932, berjanji kepada negara yang terkepung sebuah kesepakatan baru. JFK, 1960 menjanjikan perbatasan baru. Dua belas tahun lalu, Barrack Obama memberi tahu kita bahwa, “Ya, kita bisa!”

Saudara-saudara, kita berada di titik balik, kita punya kesempatan untuk mengalahkan keputusasaan, untuk membangun negara demi kemakmuran dan cita-cita. Kita bisa melakukannya, saya tahu kita bisa. Telah lama saya bicara soal pertarungan untuk jiwa Amerika. Kita harus memulihkan jiwa Amerika. Negeri kita dibentuk oleh pertarungan yang berkelanjutan antara malaikat kita dan bisikan gelap kita. Dan apa yang akan dikatakan presiden dalam pertarungan ini sangat berarti. Ini waktunya untuk sisi malaikat menang. Malam ini, seluruh dunia menyaksikan Amerika. Dan saya percaya dalam keadaan terbaik kita, Amerika adalah suar dunia. Kita akan memimpin. Kita tidak hanya akan memimpin dengan kekuatan kita, tapi juga kekuatan teladan kita.

Saya selalu percaya, banyak orang yang sudah mendengar ini. Saya selalu percaya kita bisa mendefinisikan Amerika dengan satu kata: kesempatan. Itulah di Amerika, semua orang harus diberikan kesempatan seluas-luasnya. Saya percaya tentang kesempatan di negeri ini.

Kita selalu menanti Amerika yang tidak hanya mencipakan lapangan kerja dan martabat, lebih dari Amerika yang menyembuhkan penyakit seperti kanker, tapi Amerika yang tidak meninggalkan satu orangpun, Amerika yang tak pernah menyerah. Ini negara besar. Kita orang yang baik. Ini Amerika Serikat dan tidak satupun yang tidak bisa kita lakukan saat kita bersama.

Saudara-saudara, pada hari akhir kampanye, saya memikirkan himne yang selalu berarti bagi saya dan keluarga saya, khususnya anak saya Beau. Ini menceritakan kepercayaan yang menopang saya, saya percaya menopang warga Amerika. Dan saya harap ini bisa menenangkan dan menghibur 230 ribu orang Amerika yang telah kehilangan orang terkasih karena virus tahun ini. Hatiku bersama dengan kalian semua. Saya harap ini akan memberi ketenangan bagi kalian juga, bunyinya seperti ini: Dan dia akan mengangkatmu di atas sayap elang, membawamu pada nafas fajar, membuatmu bersinar seperti matahari, dan memelukmu di telapak tangannya.

Sekarang bersama, dalam sayap elang, kita mulai mengerjakan apa yang diminta Tuhan dan sejarah, dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga, dengan kepercayaan warga Amerika, dengan kecintaan pada negeri, kehausan akan keadilan, mari kita jadi negara yang kita yakin kita bisa. Negara yang bersatu, negara yang kuat, negara yang pulih. Amerika Serikat, saudara-saudara, tidak ada yang tidak bisa kita lakukan jika kita mencobanya.

Ingatlah, seperti yang dikatakan kakekku saat saya meninggalkan rumahnya saat masih kecil, “Joey, tetaplah percaya.” Nenek kami saat ia masih hidup akan bicara, “Jangan, Joey. Sebarkan kepercayaan itu.” Sebarkan kepercayaan itu. Tuhan menyayangi kalian semua. Tuhan memberkati Amerika dan semoga Tuhan melindungi gereja kita. Terima kasih, terima kasih, terima kasih. (rad)


Continue Reading

INTERNASIONAL

Begini, Riwayat Kamala Harris Pasangan Joe Biden

Avatar

Published

on

Calon Wakil Presiden AS, Kamala Harris. (Foto: Instagram @kamalaharris)

Mediaemiten.com, Jakarta – Kamala Harris, senator cantik Amerika Serikat (AS) dari California merupakan cawapres Joe Biden untuk pemilihan umum presiden AS 2020. Sebelumnya diketahui bahwa berita pemilihan Kamala Harris sempat menjadi berita utama. 

Setahun yang lalu, senator California itu menonjol setelah menampilkan performa debat yang kuat. Ia juga melontarkan kritik pedas terhadap saingannya Joe Biden. Namun, pada akhir 2019, kampanyenya terhenti.

Lalu sebenarnya siapakah Kamala Haris? Berikut profil Kamala Harris dalam perjuangannya untuk bekerja di Gedung Putih.

Anggota Demokrat California itu lahir di Oakland, California, dari dua orang tua imigran. Sang ibu kelahiran India dan ayah kelahiran Jamaika.

Setelah orangtuanya bercerai, Harris dibesarkan oleh ibu tunggal beragama Hindu, yang merupakan peneliti kanker dan aktivis hak-hak sipil. Ia tumbuh dengan memeluk kebudayaan India. 

Sementara diketahui bahwa Kamala Haris ikut dengan ibunya dalam kunjungan ke India, tetapi Harris mengatakan bahwa ibunya mengadopsi budaya Afrika-Amerika Oakland, hal yang mempengaruhi kedua putrinya – Kamala dan adik perempuannya Maya.

Kamal Haris juga sempat berkuliah di Howard University, salah satu perguruan tinggi dan universitas kulit hitam terkemuka di AS. Pengalaman itu ia gambarkan sebagai salah satu yang paling membentuk dirinya.

Harris mengatakan bahwa ia selalu nyaman dengan identitasnya dan hanya menggambarkan dirinya sebagai “orang Amerika”. Pada 2019, dirinya mengatakan kepada Washington Post bahwa politisi tidak perlu masuk ke dalam satu kategori karena warna kulit atau latar belakang mereka.

Setelah empat tahun di Howard, Harris mendapatkan gelar hukumnya di Universitas California, Hastings, dan memulai karirnya di Kantor Kejaksaan Distrik Alameda County. Ia menjadi jaksa wilayah – jaksa tertinggi – untuk San Francisco pada tahun 2003, sebelum terpilih sebagai perempuan pertama dan orang Afrika-Amerika pertama yang menjabat sebagai jaksa agung California, pejabat penegak hukum tertinggi di negara bagian terpadat di Amerika itu.

Dalam dua periode masa jabatannya sebagai jaksa agung, Harris mendapatkan reputasi sebagai salah satu bintang Partai Demokrat yang sedang naik daun. Momentum ini digunakannya untuk mendorong pemilihannya sebagai senator junior AS di California pada tahun 2017.

Sejak pemilihannya menjadi Senat AS, mantan jaksa penuntut itu mendapatkan dukungan dari kaum progresif karena pertanyaan pedasnya terhadap calon Mahkamah Agung saat itu Brett Kavanaugh dan Jaksa Agung William Barr dalam sidang-sidang penting di Senat.

Selain itu, ketika ia mencalonkan diri sebagai presiden dalam kampanye yang dihadiri lebih dari 20.000 orang di Oakland, California, pada awal tahun lalu, rencananya untuk tahun 2020 itu disambut antusias. Namun senator itu gagal mengartikulasikan alasan yang jelas untuk kampanyenya dan melontarkan jawaban yang membingungkan untuk pertanyaan-pertanyaan di bidang kebijakan utama, seperti yang terkait dengan bidang kesehatan.

Dia juga tidak dapat memanfaatkan kelebihannya yakni pertunjukan debat yang memamerkan keterampilannya sebagai jaksa penuntut, yang sering kali menempatkan Biden di posisi yang diserang. Harris terlihat berada di posisi seimbang antara sayap progresif dan moderat di partainya, tetapi akhirnya dia tak berhasil menarik keduanya.

Ia mengakhiri pencalonannya pada bulan Desember sebelum kontes Demokrat pertama di Iowa pada awal 2020. Pada bulan Maret, Harris mendukung mantan wakil presiden tersebut, dengan mengatakan dia akan melakukan “segala upaya untuk membantu terpilihnya [Biden] sebagai Presiden Amerika Serikat berikutnya”.

Pencalonan Harris pada tahun 2020 membuat performanya sebagai jaksa penuntut utama California disorot. Meskipun bersandar ke sisi kiri pada masalah-masalah seperti pernikahan gay dan hukuman mati, dia menghadapi serangan berulang-ulang dari kaum progresif karena dianggap tidak cukup progresif, dan menjadi subyek opini editorial oleh profesor hukum Universitas San Francisco, Lara Bazelon.

Pada awal masa kampanye, Bazelon menulis bahwa Harris sering menghindari pertempuran progresif yang melibatkan isu-isu seperti reformasi polisi, reformasi narkoba dan penuntutan yang salah. Harris, yang mendeskripsikan diri sebagai “penuntut progresif” mencoba memperlihatkan ia lebih condong ke kiri dengan mengharuskan beberapa agen khusus Departemen Kehakiman California, lembaga negara pertama yang mengadopsi aturan itu, untuk mengenakan kamera di badan.

Ia juga meluncurkan database yang memungkinkan publik melihat statistik kejahatan-tetapi dia masih gagal mendapatkan daya tarik. “Kamala adalah seorang polisi” menjadi kalimat yang umum digunakan dalam kampanye, hal yang merusak upaya Harris untuk memenangkan basis Demokrat yang lebih liberal selama pemilihan pendahuluan.

Tetapi kredensial penegakan hukum yang sama itu mungkin terbukti bermanfaat dalam pemilihan umum mengingat Demokrat perlu memenangkan pemilih independen dan pemilih yang lebih moderat. Sekarang, ketika AS bergumul dengan masalah rasial dan ada sorotan terkait kebrutalan polisi, Harris berada di garis depan untuk memperkuat suara kelompok progresif.

Di Twitter, ia menyerukan penangkapan anggota polisi yang membunuh Breonna Taylor, seorang perempuan Afrika-Amerika berusia 26 tahun dari Kentucky dan dia sering berbicara tentang perlunya membongkar rasialisme sistemik di negara itu. Ketika ada dorongan progresif untuk menghentikkan anggaran untuk kepolisian dan mengalihkannya ke program sosial – yang ditentang oleh Biden, Harris menyerukan untuk “menata ulang” keamanan publik.

Harris sering mengatakan bahwa identitasnya membuatnya cocok untuk mewakili mereka yang terpinggirkan. Sekarang Biden telah menjadi pasangannya di Pemilu AS, Harris mungkin mendapat kesempatan untuk melakukan lebih dari itu dari dalam Gedung Putih. (rad)


Continue Reading

INTERNASIONAL

Jika Florida Jatuh ke Joe Biden Maka Pemilihan Presiden AS Selesai

Avatar

Published

on

Calon Presiden AS, Joe Biden. (Foto: Instagram @joebiden)

Mediaemiten.com, Jakarta – Hasil penghitungan suara pemilihan presiden Amerika Serikat, yang memperhadapkan Donald Trump dan Joe Biden, menunjukkan persaingan sengit di sejumlah negara bagian kunci.

Donald Trump diproyeksikan menang di Florida dan Texas, namun rivalitas masih berlangsung di negara bagian kunci lainnya, seperti Georgia, Pennsylvania, Wisconsin, Michigan, Arizona, dan North Carolina.

Seorang penasihat Donald Trump mengungkap peran penting wilyah Florida pada hasil penghitungan suara Pilpres ini.

“Jika Florida jatuh ke Biden, maka pertandingan selesai. Namun, jika Florida dimenangi Trump, maka pertarungan masih berlanjut,” kata sang penasihat dikutif dari CBS, Rabu (4/11/2020).

Sejauh ini dibeberapa wilayah AS sudah mulai penghitungan suara. Pemenang pilpres boleh jadi belum bisa diketahui dalam beberapa hari mendatang karena masih ada jutaan kertas suara yang masih dihitung.

Sementara Joe Biden dalam pidato di hadapan para pendukungnya di Delaware mengatakan, bahwa Pilpres tahun ini akan berjalan panjang buat dirinya. 

“Tapi siapa tahu kita bisa bertarung mungkin sampai besok pagi, mungkin lebih lama!. Ini belum selesai sampai semua suara, semua kertas suara dihitung,” kata ia.

Sejauh ini beberapa negara bagian yang menjadi kantung kekuasaan Demokrat dan Republik telah merampungkan pemungutan suara dan belum ada kejutan berarti.

Kebanyakan negara bagian condong pada salah satu partai, sehingga fokus setiap capres biasanya tertuju pada 12 atau lebih negara bagian yang peluang kemenangannya 50-50. Negara-negara bagian ini dijuluki ‘battleground states’ atau negara bagian kunci pertarungan. (rad)


Continue Reading

Trending