Connect with us

corporation

Pos Indonesia Tambah Titik Penyaluran BST dan Waktu Layanan

Published

on

PT Pos Indonesia sudah menyalurkan BST senilai Rp 600.000 per KPM tersebut dalam dua tahap. (Foto : Detiknews.com)

Mediaemiten.com, Jakarta – PT Pos Indonesia telah menambah titik layanan penyaluran bantuan sosial tunai (BST) bagi penerima manfaat atau masyarakat terdampak virus corona jenis baru (COVID-19).

Direktur Jaringan dan Layanan Keuangan PT Pos Indonesia Ihwan Sutardiyanta di Jakarta, Rabu (25/6/2020), menjelaskan untuk mempercepat penyaluran BST, pihaknya telah menambah titik layanan, baik di jaringan Kantor Pos maupun melalui komunitas.

“Kita melakukan penambahan titik layanan, baik di jaringan milik PT Pos sendiri maupun melalui komunitas, seperti kantor kelurahan atau kantor desa dan lokasi lainnya,” katanya.

Selain menambah titik penyaluran, PT Pos Indonesia juga menambah waktu layanan dari yang semula sampai pukul 17.00 WIB menjadi sampai pukul 22.00 WIB. Bahkan, di beberapa komunitas, layanan BST dilakukan sampai dini hari.

PT Pos Indonesia selaku BUMN bidang logistik, mendapat tugas pemerintah untuk menyalurkan BST bagi warga terdampak COVID-19.

Ada dua mitra penyalur BST selama tiga tahap, yakni PT Pos Indonesia yang menyalurkan kepada sekitar 8,3 juta keluarga penerima manfaat (KPM) dan sisanya disalurkan Himpunan Bank Negara (Himbara). Total penerima bansos tunai sembilan juta KPM di seluruh Indonesia.

Sejauh ini, PT Pos Indonesia sudah menyalurkan BST senilai Rp600.000 per KPM tersebut dalam dua tahap. Realisasi tahap pertama 100 persen atau sekitar 7,2 juta KPM, sedangkan tahap kedua 88 persen.

Ketua Tim Bantuan Sosial PT Pos Indonesia Husein Haris mengatakan pembayaran BST untuk KPM dilakukan di loket Kantor Pos Indonesia dan komunitas dengan penerapan protokol pencegahan COVID-19.

“Kita lakukan dengan penjadwalan pembayaran sesuai dengan kapasitas loket/komunitas per harinya,” katanya.

PT Pos juga menerapkan kebijakan jaga jarak dengan menyiapkan kursi berjarak, air dan sabun, cairan pembersih tangan, dan menyiagakan petugas untuk mengecek suhu tubuh KPM dengan alat pengetes, “thermogun”.

PT Pos juga melakukan kerja sama dengan Dinas Sosial, kecamatan, kelurahan, dan RT/RW untuk proses penjadwalan pembayaran dan pelaksanaan pembayaran. Aparat keamanan juga ditugaskan untuk mengatur kelancaran antrean para penerima bantuan. (ant)


corporation

Pertamina dan Pemprov Sulut Bersinergi dalam Pemanfaatan BBM Ramah Lingkungan

Published

on

MEDIA EMITEN -Pertamina Regional Sulawesi dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) bersinergi dalam pemanfaatan bahan bakar minyak (BBM) ramah lingkungan.

Kolaborasi ini dalam rangka untuk mendorong pendapatan daerah khususnya melalui Pajak Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB),

Baca Juga: Masih Berkinerja Positif Meski Pandemi Covid-19, Pertamina Power Indonesia Cetak Laba US$ 14 Juta

Penandatanganan kesepakatan bersama dan perjanjian kerja sama rekonsiliasi data PBBKB dilangsungkan pada Rabu 16 Juni 2021 di Kantor Gubernur Sulawesi Utara, seperti dikutip mediaemiten dari laman pertamina.com, Selasa, 22 Juni 2021.

Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Edwin H. Silangen mengatakan Pemprov Sulut akan terus mendorong peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) melalui PBBKB.

“Kami berharap pihak yang melaksanakan kerja sama akan memahami peran dan kontribusinya, sehingga kedepan Provinsi Sulawesi Utara dapat lebih optimal lagi dalam mendorong pendapatan daerah atas PBBKB dan dapat mengoptimalkan penerimaan, serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan PBBKB,” tuturnya.

Unit Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Regional Sulawesi, Laode Syarifuddin Mursali menyambut baik kerja sama strategis untuk meningkatkan PAD Pemda mana pun.

“Penandatanganan kerja sama Rekonsiliasi PBBKB antara Pemda dan Pertamina diharapkan akan mendorong transparansi pemungutan PBBKB bagi perusahaan yang memiliki INU (Izin Niaga Umum) yang beroperasi di wilayah Sulawesi Utara,” ucapnya.

Dikatakan selama tahun 2020, Pertamina berkontribusi dalam menyetor PBBKB sebesar Rp 198 miliar untuk Sulut.

“Kontribusi PBBKB pada tahun 2020 terjadi penurunan karena dampak pandemi Covid 19. Namun, kami yakin pada tahun 2021 kondisi dapat kembali normal dan tren positif sudah terlihat dimana dalam dua bulan terakhir setoran PBBKB mencapai Rp 19 miliar perbulan,” tutur Laode.

Laode menambahkan, apresiasi dan terima kasih kepada masyarakat Sulut yang telah memilih menggunakan bahan bakar ramah lingkungan.

Peningkatan penggunaan BBM ramah lingkungan di Sulut sangat berdampak pada pendapatan daerah melalui PBBKB.

Sebagai contoh penerimaan PBBKB bulan April 2021 saja, dari total penerimaan Rp19 miliar tersebut, perbandingan antara pajak yang diperoleh untuk Premium sebesar Rp 2,7 miliar dari volume penjualan 9,7 juta liter.

Sedangkan untuk non subsidi diambil perbandingan Pertalite, pendapatan pajaknya sebesar Rp 10,4 miliar dari volume penjualan 20,9 juta liter.

“Berarti, untuk volume konsumsi Pertalite kurang lebih 2x lipat dibanding Premium, pendapatan pajaknya bisa 3-4x lipat lebih besar,” ucap Laode.

Pertamina juga terus mengkampanyekan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan kepada seluruh masyarakat.

“Kami terus mengajak masyarakat untuk menggunakan BBM ramah lingkungan dengan berbagai promo yang kami keluarkan sebagai bentuk edukasi dan pemantik perubahan perilaku gaya hidup,” katanya.

Dampaknya, ucap Laode, tentu akan kembali untuk masyarakat, selain udara menjadi lebih bersih, pendapatan daerah pun meningkat sehingga pembangunan lebih optimal.,” ujar Laode.

Simak Juga: DKI Jakarta Buka Pendaftaran Fakir Miskin dan Orang Tak Mampu, Cek Caranya

Pertamina sebagai perusahaan yang memegang teguh prinsip environmental, social dan governance (ESG) mengimani nilai transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi dan fairness (TARIF) dalam setiap kegiatan operasional bisnis Perusahaan.

Untuk itu, kerja sama strategis yang ditandatangani ini akan didukung penuh implementasi dan juga keterbukaan data melalui rekonsiliasi yang dilaksanakan kedua belah pihak. (ENI)


Continue Reading

corporation

Masih Berkinerja Positif Meski Pandemi Covid-19, Pertamina Power Indonesia Cetak Laba US$ 14 Juta

Published

on

PT Pertamina Power Indonesia (PPI)./ Dok. pertamina.com.

MEDIA EMITEN – Di tengah kelesuan ekonomi akibat pandemi Covid-19, PT Pertamina Power Indonesia (PPI) atau dikenal dengan Subholding Pertamina Power & New Renewable Energy (PNRE) mampu membukukan laba bersih positif pada tahun 2020, yaitu sebesar USD14 Juta.

Raiha ini 9% lebih tinggi dibandingkan laba bersih tahun 2019.

Kinerja finansial dan operasional PPI stand alone secara umum positif.

Baca Juga: Kinerja Moncer, Pertamina Cetak Laba Bersih Rp 15 Triliun

Pada kinerja finansial, pendapatan usaha yang dibukukan sebesar US$ 2,1 Juta atau meningkat 371% dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan signifikan ini dikontribusikan dari beroperasinya PLTBg Sei Mangkei dan PLTS Kwala Sawit dan Pagar Merbau.

Dannif Danusaputro, Chief Executive Officer PNRE.mengatakan tahun 2020 adalah tahun yang sangat menantang hampir bagi semua industri, di mana ekonomi secara global mengalami kelesuan akibat pandemi Covid-19.

“Namun patut disyukuri bahwa PNRE mampu membukukan laba bersih positif, bahkan lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Ini semua tidak terlepas dari kerja keras seluruh jajaran perwira PNRE,” kata Dannif dalam keterangan tertulis dikutip mediaemiten.com dari laman pertamina.com.

Capaian positif juga ditunjukkan oleh kinerja operasional tahun 2020 di mana PNRE berhasil meningkatkan produksi listrik hingga 695% dibanding tahun sebelumnya.

Dikatakan kapasitas terpasang pembangkit listrik juga bertambah sebesar 8,02 MW yang dikontribusikan dari Pembangkit Listrik tenaga Biogas (PLTBg) Sei Mangkei, PLTBg Pagar Merbau, pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Dumai, PLTS Cilacap, serta PLTS SPBU Pertamina. 

Kinerja operasi yang positif tersebut juga didukung dengan kinerja HSSE yang cemerlang.

Menurutnya, pada tahun 2020, PNRE mencatatkan total 24.693.135 jam kerja aman tanpa kecelakaan. 

Simak Juga: Kemenkeu: Reformasi Investasi Tingkatkan Daya Saing dan Dorong Pemulihan Ekonomi

“Di bisnis energi yang berisiko tinggi, capaian kinerja HSSE tersebut wajib diapresiasi. PNRE berkomitmen tinggi untuk mewujudkan zero accident dalam operasionalnya,” tutur Dannif.

Sebagai bagian dari program Transformasi BUMN, pada Juni 2020, PPI diberi amanah untuk menjadi sub-holding Pertamina di bidang power dan new renewable energy (PNRE) yang visinya adalah memimpin transisi energi di Indonesia melalui inovasi energi bersih.

Termasuk dalam sub-holding ini adalah Pertamina Geothermal Energy (PGE) dan Jawa Satu Power (JSP).

Selain itu, PNRE memiliki sejumlah proyek-proyek pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), antara lain PLTBg dan PLTS di sejumlah wilayah di Indonesia. 

Proyek-proyek EBT yang sudah dioperasikan oleh PNRE antara lain PLTS Badak 4 MW, Operation & Maintenance (O&M) PLTBg Kwala Sawit dan Pagar Merbau, dan PLTBg Sei Mangkei sebesar 2,4 MW.

Sedangkan beberapa proyek yang saat ini tengah berjalan antara lain PLTGU Jawa-1 dengan kapasitas 1.760 MW, PLTS RU IV Cilacap berkapasitas 1,3 MW, PLTS RU II Dumai dengan kapasitas 2 MW, PLTS Sei Mangkei dengan kapasitas 2 MW yang bertujuan untuk memasok kelistrikan bagi tenant yang berada Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei. 

Untuk mendukung Bauran Energi Nasional 23 persen pada tahun 2025, PNRE berkomitmen untuk menjadi mitra pemerintah yang andal.

Baca Pula: Di Depan Prabowo Ma’ruf Amin Sebut Hadapi Tantangan Global dengan Perkuat Pertahanan dan Keamanan

Bukan itu saja, Pertamina Power & New Renewable Energy sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan pihak mana pun yang memiliki komitmen yang sama untuk berinovasi melalui energi bersih. 

“PNRE memiliki komitmen penuh untuk mendukung pencapaian target pemerintah Bauran Energi Nasional 23% pada tahun 2025. Dan kami yakin mampu menjadi pemimpin untuk mendorong proses transisi menuju energi bersih di Indonesia,” tutup Dannif. (ENI)

 


Continue Reading

BISNIS

Loading Perdana LPG di Amerika Serikat, Kapal Pertamina Kibarkan Merah Putih

Published

on

Kapal Pertamina Gas 2 (PG 2). /Dok. pertamina.com.

MEDIA EMITEN – Kapal Pertamina Gas 2 (PG 2) yang dioperasikan oleh PT Pertamina International Shipping (PIS) melakukan pelayaran perdana untuk mengangkut kargo LPG dari Amerika dengan FOB basis di LPG Export Terminal milik Phillips 66 di Freeport,Texas.

PG 2 mulai berlayar dari Indonesia sejak 27 April dan tiba di Houston, Amerika Serikat pada 5 Juni 2021.

Pelayaran ini menjadi tonggak sejarah bagi kapal berbendera Indonesia yang dapat disandarkan di terminal LPG Amerika.

Baca Juga: Kinerja Moncer, Pertamina Cetak Laba Bersih Rp 15 Triliun

Mengangkut total 45.000 MT LPG milik Subholding Commercial and Trading, Kapal PG 2 Dinahkodai oleh Capt. Dasuki dengan 27 orang kru, dimana 60 persennya berusia dibawah 40 tahun.

Kapal ini akan menempuh perjalanan lebih dari 28.000 nautical miles dengan lebih dari 80 hari round trips days, dari Indonesia ke Amerika Serikat, lalu kembali ke Indonesia.

Menurut Capt. Dasuki, perjalanan melewati 3 benua dan 2 samudra tersebut merupakan sebuah tantangan tersendiri, mengingat Kapal PG 2 harus lolos sertifikasi pemerintah AS.

Certificate of Compliance Examination, merupakan sertifikat pengakuan dari pemerintah AS untuk Kapal PG 2 yang telah memenuhi aturan dan syarat.

“Saya tentunya sangat senang karena dengan dikeluarkannya sertifikat ini menunjukkan bahwa Pertamina Gas 2 dapat melakukan segala aktivitas terutama di perairan Amerika Serikat,” ujar Capt. Dasuki dikutip mediaemiten.com.

PT Pertamina International Shipping (PIS) yang saat ini sebagai subholding shipping Pertamina mampu membuktikan diri mengelola kapal berbendera Indonesia yang disandarkan di pelabuhan International.

Menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi PIS dimana perjalanan Kapal PG 2 kali ini diawaki oleh seluruh kru berkewarganegaraan Indonesia dan memenuhi persyaratan Classification Society / Badan Klasifikasi Indonesia (BKI).

“Mudah-mudahan pencapaian ini menjadi langkah awal dan menumbuhkan kepercayaan diri untuk melebarkan sayapnya di industri pelayaran global,” ujar Capt. Dasuki.

Simak Pula: Menteri ESDM: Penetapan Energi Daerah Harus Dipercepat

Selama masa konstruksi Kapal Pertamina Gas 2 (PG 2) dibangun dibawah bendera Panama dan LR class.

Namun seiring dengan waktu dilakukan reflagging ke bendera Indonesia guna mendukung kapal bendera Indonesia dari grey list ke white list dan sekarang ini PG 2 dibawah class BV dan BKI. (ENI)


Continue Reading

Trending