Connect with us

PROPERTI

Intiland Development Tbk (DILD) Raih Laba Rp 84 Miliar di Kuartal I-2020

Published

on

Intiland Development Raih Laba Rp 84 Miliar. (Foto : Instagram @intilanddev)

Mediaemiten.com, Jakarta – Perusahaan property PT Intiland Development Tbk (DILD) pada akhir kuartal I tahun 2020 mencatatkan laba bersih sebesar Rp84,4 miliar atau naik 74,74 persen dibanding kuartal I 2019, mencatatkan laba bersih sebesar Rp48,3 miliar.

Dalam laporan keuangan kuartal I 2020 tanpa audit yang disampaikan ke BEI Jumat (12/6/2020) disebutkan, pendapatan di kuartal I tahun 2020 sebesar Rp830,55 miliar atau turun 6,43 persen dibanding akhir Maret 2019 yang tercatat sebesar Rp877,61 miliar.

Tapi beban Pokok penjualan dan beban langsung tercatat Rp482,88 miliar atau turun 15,99 persen dibanding kuartal I 2019 tercatat Rp574,58 miliar.

Laba kotor naik 11,13 persen menjadi Rp347,88 miliar dari laba kotor Rp313,03 miliar.Beban usaha turun 12,37 persen menjadi Rp112,94 miliar dari Rp128,88 miliar dan laba usaha naik 27,58 persen menjadi Rp234,95 miliar dari laba usaha Rp184,16 miliar tahun sebelumnya dan beban lain-lain bersih naik 72,85 persen jadi Rp156,54 miliar dari Rp90,70 miliar.

Laba sebelum pajak penghasilan turun 20,80 persen menjadi Rp53,08 miliar dari laba sebelum pajak Rp70,36 miliar.Laba per saham dasar naik jadi Rp8 per 31 Maret 2020 dari Rp5 per saham dasar pada periode yang sama 2019.

Pada sisi ekuitas tercatat Rp6,02 triliun atau turun 16,71% dibanding akhir tahun 2019, yang tercatat sebesar Rp7,23 triliun.

Liabilitas DILD tercatat sebesar Rp9,9 triliun atau mengalami peningkatan 31,29 persen dibanding akhir tahun 2019, yang tercatat sebesar Rp7,54 triliun.

Sehingga aset perseroan tercatat senilai Rp15,92 triliun atau naik 7,78 persen dibanding akhir tahun 2019, yang tercatat senilai Rp14,77 triliun.

kas bersih diperoleh dari aktivitas operasi tercatat sebesar minus Rp16,35 miliar atau membaik dibandingkan kuartal I 2019, yang tercatat minus Rp118,3 miliar

Namun pada kas dan setara kas akhir periode yang dimiliki oleh perseroan sebesar Rp1,425 triliun tumbuh 29,78 persen dari Rp1,098 triliun. (ten)


EMITEN NEWS

Pendapatan Emiten Properti Alam Sutera Anjlok 59,33%, Ini Penyebabnya

Published

on

Ilustrasi proyek properti./Dok. mediaemiten.com

MEDIA EMITEN – Lesunya perekonomian akibat dampak pandemi Covid-19 juga turut menghantam bisnis properti. Pendapatan emiten properti, PT Alam Sutera Tbk (ASRI) di tahun 2020 anjlok 59,33% dibandingkan realisasi tahun lalu dari Rp 3,47 triliun menjadi Rp 1,41 triliun.

Penurunan pendapatan dan sejumlah beban membuat perseroan menderita kerugian hingga Rp1,02 triliun atau berbalik dari posisi laba Rp1,01 triliun pada tahun sebelumnya.

Baca Juga: BEI Revisi Target IPO Menjadi 54 Emiten Baru

Dalam laporan keuangan dipublikasi di Jakarta, yang dikutip mediaemiten.com, dilihat dari kontributor pendapatan, seluruhnya mengalami koreksi.

Pendapatan dari penjualan real estat turun 63,39% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 1,04 triliun.

Begitu pula pendapatan jasa hospitality dan sarana turun 14,56% yoy menjadi Rp 299,62 miliar dan pendapatan pariwisata anjlok paling dalam 81,92% yoy menjadi Rp 29,10 miliar.

Sementara Alam Sutera Realty mencatatkan total aset senilai Rp21,22 triliun pada akhir 2020, terdiri dari ekuitas senilai Rp 9,38 triliun dan liabilitas Rp11,84 triliun.

Perseroan menargetkan marketing sales tahun 2021 sebesar Rp 3,2 triliun atau naik 15% secara yoy.

Kenaikan penjualan ditopang dari residential.

Di tahun 2015-2019, presales ASRI tidak stabil lantaran perubahan besar dalam penjualan lahan. 

Simak Pula: Nama Dicoret dari Daftar Penerima BST, Banyak Warga Pertanyakan Peran Menteri Risma

Alam Sutera banyak menjual lahan ke China Fortune Land Development International (CFLD).

Tapi tahun ini, penjualan lahan ke CFLD akan menurun atau stagnan seperti tahun 2020 yakni berkisar Rp 200 miliar. 


Continue Reading

EMITEN NEWS

Pefindo Turunkan Peringkat PT PP Jadi A

Published

on

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat utang PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) dan sejumlah surat utangnya./Dok. ptpp.co.id

MEDIA EMITEN – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat utang PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) dan sejumlah surat utangnya.

Pefindo dalam siaran persnya di Jakarta yang dikutip mediaemiten.com, menyebutkan, peringkat PTPP turun dari sebelumnya A+ menjadi A.

Kemudian peringkat untuk obligasi berkelanjutan II tahap I seri A dan seri B tahun 2018 dan tahap II seri A dan seri B tahun 2019 PT PP (Persero) Tbk senilai maksimum Rp 2,75 triliun juga diturunkan peringkatnya menjadi idA dari sebelumnya idA+.

Selanjutnya, peringkat obligasi perpetual tahap I PTPP dengan pokok Rp 150 miliar juga diturunkan menjadi idBBB+ dari sebelumnya idA-.

Baca Juga: Laba Indocement Tergerus 1,58%, Imbas Lesunya Permintaan Semen

Menurut analis Pefindo, Aryo Perbongso dan Martin Pandiangan, peringkat untuk surat utang perpetual berada dua tingkat di bawah peringkat perusahaan PTPP untuk memasukkan sifat subordinasi dengan kebijakan penuh dalam penangguhan kupon.

“Tindakan pemeringkatan tersebut mencerminkan pandangan kami bahwa belanja modal PTPP akan tetap tinggi untuk kebutuhan anak perusahaan di sektor infrastruktur dan properti, sementara penurunan kegiatan usaha konstruksi dan properti di tengah kondisi pandemi akan menekan perolehan arus kas PTPP,”tulisnya.

Aryo dan Martin memperkirakan profil leverage keuangan PTPP hingga 2023 akan tergolong agresif dengan proyeksi rasio utang bersih terhadap EBITDA di atas 7 kali.

Dengan penurunan peringkat tersebut, Pefindo juga merevisi prospek peringkat PTPP menjadi stabil dari sebelumnya negatif.

Baca Juga: Moeldoko Ketum Partai Demokrat Versi KLB, SBY Tabuhkan Genderang Perang

Khusus untuk surat utang perpetual tahap I senilai Rp 150 miliar, Pefindo yakin PTPP bakal mampu melunasinya saat jatuh tempo pada 15 Mei 2021 menggunakan kas internal. (BUD)


Continue Reading

PROPERTI

Lancartama Sejati Optimis Investasi Bangunan Properti Sesuai Target

Published

on

Perusahaan konstruksi PT Lancartama Sejati Tbk (TAMA) menjadi perusahaan tercatat ke-10 di BEI. (Foto : Izinusaha.id)

Mediaemiten.com, Jakarta – Perusahaan Jasa konstruksi dan penyewaan ruang kantor dan hunian PT Lancartama Sejati Tbk (TAMA) menyatakan prospek usaha perseroan mendapat dukungan dari berbagai aspek, dari segi demografi hingga pertumbuhan ekonomi.

Alex Widjaja Direktur Utama TAMA dalam Laporan tahunan yang disampaikan ke BEI Senin (22/6/2020) menjelaskan, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan akan meningkat menjadi menjadi 294,1 juta jiwa di tahun 2030, dan akan mengalami puncak bonus demografi pertama pada tahun 2034, di mana terdapat 60 tenaga kerja produktif untuk mendukung 100 penduduk, angka ketergantungan penduduk di bawah 50, dan berkontribusi sebesar 0,22 persen poin terhadap pertumbuhan ekonomi.

Lebih lanjut Alex menambahkan dari segi pertumbuhan ekonomi, hingga triwulan III tahun 2019, Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan III-2019 mencapai Rp4.067,8 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.818,9 triliun. Di sisi lain, Ekonomi Indonesia triwulan III-2019 terhadap triwulan III-2018 tumbuh 5,02 persen (y-on-y).tutur Alex.

Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh hampir semua lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Lainnya yang tumbuh 10,72 persen; diikuti Jasa Perusahaan sebesar 10,22 persen, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 9,19 persen; dan Informasi dan Komunikasi sebesar 9,15 persen.

Dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) yang tumbuh sebesar 7,44 persen; diikuti Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) sebesar 5,01 persen; dan Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 4,21 persen.

Sementara itu, di lihat dari Struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada triwulan III-2019 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Kelompok provinsi di Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB Indonesia, yakni sebesar 59,15 persen.

Dengan jumlah penduduk di Indonesia yang terus meningkat didukung oleh PDB Indonesia serta didukung dengan kondisi ekonomi makro yang cukup stabil, prospek pertumbuhan penduduk dengan usia produktif yang diharapkan akan mencetak angka yang positif khususnya di masa-masa yang akan datang, serta perkembangan industri konstruksi di Indonesia, Perseroan memandang bahwa pertumbuhan industriindustri pemakai jasa konstruksi Perseroan akan terus berkembang dan secara tidak langsung akan mendukung perkembangan usaha Perseroan.

Dari segmen usaha penyewaan kantor, penyerapan ruang sewa perkantoran di kuartal I masing-masing untuk Central Business District (CBD) tumbuh 76 persen di mana penyerapan hampir menyentuh angka 98.000 m2 sementara non CBD tumbuh 78% di mana total penyerapan mencapai 40.000 m2 di kuartal I 2019 setelah pada 2015 dan 2016 stagnan.

Sehingga, dari segmen usaha penyewaan kantor, Perseroan menimbang bahwa Perseroan memiliki prospek usaha yang baik dan oleh karenanya Perseroan akan memulai segmen usaha ini pada tahun 2020, sesuai dengan target penyelesaian bangunan properti investasi Perseroan pada tahun 2020. (ten)


Continue Reading

Trending