Connect with us

INTERNASIONAL

Minyak Turun Tertekan Prospek Permintaan Lemah, Kekhawatiran Tasokan

Published

on

Minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) turun sebesar sembilan sen atau 0,2 persen, menjadi 53,69 dolar AS per barel.

Mediaemiten.com, Singapura – Harga minyak turun di perdagangan Asia pada Senin pagi (21/10/2019), di tengah berlanjutnya kekhawatiran tentang prospek ekonomi global dan dampaknya terhadap permintaan minyak, sementara Rusia kembali gagal memenuhi target pemangkasan produksi minyak bulan lalu.

Patokan global, minyak mentah berjangka Brent turun 10 sen atau 0,2 persen menjadi diperdagangkan di 59,32 dolar AS per barel pada pukul 01.08 GMT (08.01 WIB). Sementara minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) turun sebesar sembilan sen atau 0,2 persen, menjadi 53,69 dolar AS per barel.

“Pasar komoditas terus berjuang di tengah data ekonomi yang lemah,” kata ANX Bank dalam sebuah catatan.

Baca juga: Harga minyak turun di tengah kekhawatiran permintaan global

Pertumbuhan ekonomi China melambat menjadi enam persen tahun-ke-tahun pada kuartal ketiga, terlemah dalam 27,5 tahun dan lebih rendah dari perairaan, karena produksi pabrik yang lemah dan ketegangan perdagangan yang berkelanjutan.

Namun, peningkatan 9,4 persen tahun ke tahun dalam kilang minyak China untuk September mengisyaratkan bahwa permintaan minyak dari importir minyak terbesar dunia tetap kuat.

Di sisi pasokan, Rusia mengatakan pada Minggu (20/10/2019) bahwa pihaknya menghasilkan lebih banyak minyak pada September daripada yang diharapkan oleh kesepakatan global karena peningkatan produksi kondensat gas ketika negara itu bersiap untuk musim dingin.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Rusia dan produsen minyak lainnya, aliansi yang dikenal sebagai OPEC +, sepakat pada Desember untuk mengurangi pasokan sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) mulai awal tahun ini.

Tetapi beberapa negara, termasuk gembong OPEC Arab Saudi, telah mengeluh tentang kegagalan Rusia untuk mematuhi kesepakatan secara penuh.

Pembicaraan antara anggota OPEC Kuwait dan Arab Saudi untuk memulai kembali produksi minyak dari ladang di Zona Netral yang dioperasikan bersama di 500.000 barel per hari menambah kekhawatiran meningkatnya pasokan.

Wakil menteri luar negeri Kuwait pada Sabtu (19/10/2019) mengatakan negosiasi “sangat positif” setelah media Kuwait, mengutip sumber yang tidak diidentifikasi, mengatakan dua produsen minyak Teluk telah setuju untuk melanjutkan produksi minyak mentah dari ladang minyak di zona Saudi-Kuwait yang dibagi.

“Barel ekstra itu akan datang ke pasar pada waktu yang paling tidak disukai,” kata Stephen Innes, ahli strategi pasar di AxiTrader merujuk pada produksi minyak mentah dari Zona Netral. (pep)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

INTERNASIONAL

Harga Minyak Turun, Kekhawatiran Kelebihan Pasokan 2020 Meningkat

Published

on

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari turun 0,33 dolar AS menjadi ditutup pada 62,18 dolar AS per barel.

Mediaemiten.com, New York – Harga minyak turun tipis pada akhir perdagangan Selasa pagi (12/11/2019), karena sedikit kemajuan pada negosiasi perdagangan AS – China membuat harga tertekan, tetapi data persediaan bullish di Amerika Serikat memberikan beberapa dukungan.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari turun 0,33 dolar AS menjadi ditutup pada 62,18 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange, setelah jatuh ke 61,57 dolar AS pada awal sesi.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember turun 0,38 dolar AS menjadi menetap pada 56,86 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Investor khawatir tentang kejatuhan dari 16-bulan perang dagang Amerika Serikat (AS) – China, yang telah memperlambat pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia dan mendorong analis untuk menurunkan perkiraan permintaan minyak, meningkatkan kekhawatiran bahwa kelebihan pasokan dapat berkembang pada 2020.

“Kami memperkirakan perdagangan bergerak menyamping akan berlanjut untuk saat ini, dengan berita utama konflik perdagangan kemungkinan akan menentukan arah,” kata Commerzbank dalam sebuah catatan.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Sabtu (9/11/2019) bahwa pembicaraan perdagangan dengan China berjalan dengan “sangat baik” tetapi AS hanya akan membuat kesepakatan jika itu adalah tepat untuk Amerika.

Trump juga mengatakan bahwa ada pelaporan yang salah tentang kesediaan AS untuk mencabut tarif sebagai bagian dari perjanjian “fase satu”, berita yang telah mendorong pasar.

Menggarisbawahi dampak perang dagang, data selama akhir pekan menunjukkan bahwa harga produsen China turun paling banyak dalam lebih dari tiga tahun pada Oktober.

Penjualan mobil di China turun selama 16 bulan berturut-turut pada Oktober, data menunjukkan pada Senin (11/11/2019).

Harga memangkas kerugian pada Senin (11/11/2019) setelah data menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah di Cushing, titik pengiriman untuk WTI, turun sekitar 1,2 juta barel dalam sepekan hingga 8 November, kata para pedagang, mengutip perusahaan intelijen pasar Genscape.

“Tidak ada kisah nyata yang mendorong kami selama akhir pekan, dan tiba-tiba kami memiliki satu data keras yang menunjukkan bahwa mungkin pasokan minyak akan turun minggu ini,” kata Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group di Chicago .

Persediaan di Cushing telah meningkat selama lima minggu berturut-turut, menurut data pemerintah, hingga laporan terbaru dalam pekan yang berakhir 1 November. Tetapi para analis memperkirakan bahwa itu beralih setelah penutupan Keystone Pipeline 590.000 barel per hari pada 30 Oktober, arteri penting untuk impor minyak mentah berat dari Kanada ke Midwest AS, menyusul tumpahan minyak.

Namun, TC Energy Corp mengatakan pada Minggu (10/11/2019) bahwa pipa telah kembali ke layanan, beroperasi pada tekanan berkurang dengan peningkatan volume secara bertahap.

Sementara itu, para investor khawatir tentang kelebihan pasokan minyak mentah, kata para analis.

Arab Saudi meningkatkan produksi minyaknya pada Oktober menjadi 10,3 juta barel per hari, tetapi tetap memasok ke pasar minyak di bawah target produksi OPEC, sumber industri Saudi yang akrab dengan operasi minyak kerajaan mengatakan kepada Reuters.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu-sekutunya, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC +, mungkin akan memperpanjang kesepakatan untuk membatasi pasokan minyak mentah, tetapi tidak mungkin memperdalam pemotongan mereka, kata menteri energi Oman, ketika Uni Emirat Arab mengatakan tidak khawatir tentang pertumbuhan jangka panjang dalam permintaan minyak.

OPEC +, yang sejak Januari memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari berdasarkan kesepakatan akan berlangsung hingga Maret 2020, akan bertemu berikutnya pada awal Desember.

Lukoil, produsen minyak terbesar kedua Rusia, mengharapkan kesepakatan pengurangan produksi minyak global akan diperpanjang, kata kepala perusahaannya. (pep)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

INTERNASIONAL

Harga Minyak di Asia Turun dua Hari Beruntun, Produksi Saudi Naik

Published

on

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 20 sen atau 0,4 persen, menjadi diperdagangkan di 56,66 dolar AS per barel.

Mediaemiten.com, Tokyo – Harga minyak AS turun untuk hari kedua berturut-turut di perdagangan Asia pada Selasa pagi, di tengah sedikit tanda kemajuan pada pembicaraan perdagangan Amerika Serikat dan China, sementara produksi minyak mentah Arab Saudi naik, memperkuat kekhawatiran tentang kelebihan pasokan.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 20 sen atau 0,4 persen, menjadi diperdagangkan di 56,66 dolar AS per barel pada pukul 00.39 GMT (07.39 WIB). Kontrak WTI 0,7 persen di sesi sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent belum diperdagangkan setelah jatuh 0,5 persen pada Senin (11/11/2019).

Kekhawatiran tentang dampak permintaan minyak dari perang perdagangan AS-China selama 16-bulan yang telah membebani pertumbuhan ekonomi global, muncul kembali menyusul keraguan tentang peluang kesepakatan perdagangan fase satu.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Sabtu (9/11/2019) bahwa pembicaraan dengan China berjalan dengan “sangat baik” tetapi Amerika Serikat hanya akan membuat kesepakatan jika itu adalah tepat untuk Washington. Dia juga mengatakan ada pelaporan yang salah tentang kesediaan AS untuk mencabut tarif.

“Harga minyak tertekan pada awal minggu ini karena kekhawatiran perdagangan menggagalkan beberapa momentum yang kita lihat pada Oktober bahwa kesepakatan fase satu akan memberikan dorongan untuk permintaan energi,” kata Edward Moya, ahli strategi pasar senior di OANDA.

Kehati-hatian juga melanda pasar lain menjelang pidato Presiden AS Donald Trump kepada Economic Club of New York di kemudian hari kalau-kalau ada kata baru tentang perjanjian.

Di sisi pasokan, Arab Saudi meningkatkan produksi minyaknya pada Oktober menjadi 10,3 juta barel per hari (bph), meskipun tetap menjaga pasokannya ke pasar minyak di bawah target produksi OPEC.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutu, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC , mungkin akan memperpanjang kesepakatan untuk membatasi pasokan minyak mentah tetapi tidak mungkin memperdalam pemotongan mereka, kata menteri energi Oman.

OPEC+, yang telah memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari sejak Januari berdasarkan kesepakatan yang akan berlangsung hingga Maret 2020, akan bertemu berikutnya pada awal Desember.

Di tempat lain, data AS menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah di Cushing, titik pengiriman untuk WTI, turun sekitar 1,2 juta barel dalam sepekan yang berakhir 8 November, kata para pedagang, mengutip perusahaan intelijen pasar Genscape.

Persediaan Cushing telah meningkat selama lima minggu berturut-turut hingga 1 November, menurut data pemerintah. (pep)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

INTERNASIONAL

Khawatir Kemajuan Pembicaraan Perdagangan AS-China, Minyak Turun

Published

on

Minyak mentah berjangka Brent turun 39 sen,atau 0,6 persen menjadi diperdagangkan di 62,12 dolar As per barel.

Mediaemiten.com, Seoul – Harga minyak turun di perdagangan Asia pada Senin pagi (11/11/2019), di tengah kehati-hatian baru atas prospek kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dan China, dengan investor mengabaikan pernyataan akhir pekan oleh Presiden AS Donald Trump bahwa pembicaraan berjalan dengan baik.

Minyak mentah berjangka Brent turun 39 sen,atau 0,6 persen menjadi diperdagangkan di 62,12 dolar As per barel pada pukul 01.17 GMT (08.17 WIB). Kontrak Brent naik 1,3 persen pada minggu lalu.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan 35 sen atau 0,6 persen lebih rendah pada 56,89 dolar AS per barel, setelah naik 1,9 persen minggu lalu.

Trump mengatakan pada Sabtu (9/11) bahwa pembicaraan perdagangan dengan China berjalan dengan “sangat baik,” tetapi Amerika Serikat hanya akan membuat kesepakatan dengan Beijing jika itu adalah yang tepat untuk Amerika.

Perang dagang 16 bulan antara dua ekonomi terbesar dunia telah memperlambat pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia dan mendorong para analis untuk menurunkan perkiraan permintaan minyak, meningkatkan kekhawatiran bahwa kelebihan pasokan dapat berkembang pada 2020.

Trump juga mengatakan bahwa ada pelaporan yang salah tentang kesediaan AS untuk menaikkan tarif sebagai bagian dari perjanjian “fase satu”, berita yang telah mendorong pasar.

Setiap kesepakatan tentang penurunan tarif “akan meningkatkan sentimen risiko tetapi tidak serta merta menyediakan perangsang ekonomi langsung,” kata Stephen Innes, kepala strategi pasar Asia di AxiTrader.

Menggarisbawahi dampak perang dagang, data selama akhir pekan menunjukkan bahwa harga produsen China turun paling tinggi dalam dalam lebih dari tiga tahun pada Oktober, karena sektor manufaktur melemah, terkena perselisihan dan permintaan menurun.

Di Amerika Serikat, perusahaan-perusahaan energi pekan lalu mengurangi jumlah rig minyak yang beroperasi selama tiga minggu berturut-turut. Pengebor memotong tujuh rig dalam seminggu hingga 8 November, sehingga jumlah totalnya turun menjadi 684 rig, terendah sejak April 2017, kata Baker Hughes. (pep)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending