Connect with us

INDEKS HARGA

Melompat 69 Persen, Saham Satyamitra Kemas Lestari (SMKL) Kena Auto Reject

Published

on

Harga saham emiten dengan kode saham SMKL ini langsung menguat hingga 69,95% ke level Rp328 dari harga perdana senilai Rp193 per saham.

Mediaemiten.com, Jakarta – PT Satyamitra Kemas Lestari Tbk. memulai transaksi perdana saham setelah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada Kamis (11/7/2019).

Pada awal perdagangan di Bursa, harga saham emiten dengan kode saham SMKL ini langsung menguat hingga 69,95% ke level Rp328 dari harga perdana senilai Rp193 per saham.

Kenaikan harga saham SMKL di awal perdagangan itu ditopang dari frekuensi transaksi sebanyak 20 kali dengan volume transaksi sebanyak 5.443 lot. Dengan demikian, nilai transaksi emiten ke 31 di 2019 ini mencapai Rp178,53 juta.

Pada penawaran umum perdana saham, perusahaan penyedia kemasan karton itu melepas 650 juta saham atau setara dengan 19,12% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah penawaran umum. Dari IPO ini, perseroan mengantongi dana segar senilai Rp124,5 miliar.

Dana hasil IPO akan digunakan sebesar 40% untuk modal kerja perseroan, 30% pelunasan sebagian utang bank, dan 30% digunakan untuk pembelian mesin dan lokasi pabrik baru.

SMKL menunjuk PT Kresna Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Selama masa penawaran umum perdana saham, permintaan terhadap saham SMKL oversubscribed 27,11 kali dari porsi penjatahan terpusat (pooling) saham yang ditawarkan kepada masyarakat.

Direktur Utama Satymitra Kemas Lestari Ang Kinardo mengatakan, IPO merupakan salah satu langkah strategis untuk mewujudkan visi perseroan untuk menjadi pemimpin di industri packaging Indonesia yang selalu mengedepankan kepuasan konsumen, serta memperluas strategi bisnis untuk memberikan kontribusi lebih untuk pertumbuhan perekonomian Indonesia.

“Kami berharap dengan dicatatkannya saham dengan kode SMKL ini, akan memberikan competitive advantage untuk pengembangan usaha secara maksimal sehingga saham kami akan menjadi pilihan investasi terbaik bagi para investor. Terlebih lagi, kami akan terus berusaha menerapka prinsip tata kelola perusahaan atau good corporate governance dengan lebih profesional,” katanya. (*)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

INDEKS HARGA

Menilik Tren Auto Reject Saham Anyar

Published

on

Performa sejumlah saham emiten baru yang sempat menyentuh level auto reject atas.

Mediaemiten.com, Jakarta – Performa sejumlah saham emiten baru yang sempat menyentuh level auto reject atas (ARA) sesaat setelah resmi diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia perlu terus dicermati investor.

Analis menilai, auto reject atas yang didapatkan para emiten anyar tersebut belum mampu memperlihatkan bahwa saham-saham tersebut memang diminati ataupun memiliki fundamental yang memang kuat.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, terdapat 25 emiten yang terkena auto reject atas saat pertama kali diperdagangkan di bursa. Adapun, sejak awal tahun sudah ada 32 emiten baru yang mencatatkan sahamnya lewat penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO).

Auto reject adalah aturan dari BEI mengenai pembatasan kenaikan maksimum dan penurunan minimum harga saham selama satu hari perdagangan supaya perdagangan saham berjalan lancar.

Berdasarkan aturan tersebut, rentang harga saham Rp50—Rp200 akan dikenakan auto reject apabila kenaikan atau penurunan harga saham sebesar 35% dalam satu hari. Sementara untuk rentang harga saham Rp200—Rp5.000 dikenakan auto reject apabila kenaikan atau penurunan harga saham sebesar 25%, dan untuk rentang harga saham di atas Rp5.000 dikenakan auto reject apabila kenaikan atau penurunan harga saham sebesar 20%.

William Surya Wijaya, Direktur PT Indosurya Bersinar Sekuritas, menjelaskan bahwa saham yang baru dicatatkan (listing) bersifat spekulatif sehingga harga dapat melonjak pada hari pertama,

“Perlu diketahui bahwa saham yang baru listing itu sifatnya spekulatif. Entah itu nanti banyak investor yang berminat, atau karena likuiditasnya kecil, atau memang cukup memiliki prospek yang bagus, tetap sifatnya spekulatif,” kata William kepada Bisnis.com, Selasa (16/7/2019).

Dirinya menjelaskan, hal tersebut terjadi kapan pun dan tidak hanya pada tahun ini. Pasalnya, terdapat sebagian investor yang memang gemar dengan saham-saham IPO maupun transaksi saham yang bersifat spekulatif.

Adapun, pergerakan harga saham yang cenderung melejit pada hari pertama dinilai William tak lantas akan turun pada hari-hari berikutnya. Pasalnya, seiring dengan berjalannya waktu akan ada investor yang mulai nyaman karena fundamental perseroan yang baik dan berprospek cerah, serta bisa saja likuiditas saham itu bertambah sehingga investor masih hold.

“Seiring dengan berjalannya waktu, pola investasi investor bisa berubah. Kalau di awal, tetap sifatnya spekulatif,” ujar William.

William menambahkan, saat ini memang ada beberapa saham IPO yang dapat direkomendasikan. Namun, rekomendasi tersebut masih belum dapat diberikan karena saham tercatat tersebut belum terlalu lama diperdagangkan.

Setidaknya, untuk dapat benar-benar memutuskan untuk investasi jangka panjang dalam saham IPO diperlukan waktu 3—5 tahun untuk benar-benar dapat melihat performanya.

Daftar Emiten Baru yang Listing di BEI 1 Juli-12 Juli 2019

Kode Saham Nama Emiten Harga IPO (Rp/Saham) Kinerja Saham Hari Pertama Perdagangan
HDIT PT Hensel Davest Indonesia Tbk. 525 49,52%
SMKL PT Satyamitra Kemas Lestari Tbk. 193 69,95%
INOV PT Innocyclle Technology Group Tbk. 250 49,6%
ARKA PT Arkha Jayanti Persada Tbk. 236 50%
EAST PT Eastparc Hotel Tbk. 133 70%
LIFE PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk, 12.1 2,48%
FUJI PT Fuji Finance Indonesia Tbk. 110 70%
KOTA PT DMS Propertindo Tbk. 200 70%
IPTV PT MNC Vision Networks Tbk. 240 -0,83%
BLUE PT Berkah Prima Perkasa Tbk. 130 69,23%
ENVY PT Envy Technologies Indonesia Tbk. 370 35,14%
PAMG PT Bima Sakti Pertiwi Tbk. 100 70%
KAYU PT Darmi Bersaudara Tbk. 150 69,33%
ITIC PT Indonesian Tobacco Tbk. 219 50%
KJEN PT Krida Jaringan. Nusantara Tbk. 202 49,50%
Sumber: BEI, Bloomberg, diolah.

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada, menjelaskan bahwa sulit untuk menilai ARA yang terjadi pada saham-saham IPO mencerminkan minat pasar maupun kesesuaian dengan faktor fundamentalnya.

Dirinya menjelaskan, investor cenderung memutuskan untuk membeli saham IPO berdasarkan kondisi fundamental yang sudah ada dan hanya melihat positioning emiten tersebut di industri. Sementara itu, mengenai prospek harga saham yang akan naik atau turun baru bisa terlihat dalam beberapa waktu ke depan.

“Kalau berdasarkan minat atau tidak, menurut saya, ini lebih kepada spekulasi apalagi didorong dengan berita-berita yang bernada positif sehingga hari pertama langsung melonjak tajam,” kata Reza kepada Bisnis.com, Selasa (16/7/2019).

Dia menilai, performa harga saham IPO yang terkena auto reject atas akan menyesuaikan dengan fundamental perseroan ke depannya.

Selain itu, ada pula faktor likuiditas yang kecil karena jumlah saham yang dilepas ke pasar tidak banyak. Hal itu akhirnya membuat saham lebih mudah “dimainkan”.

Dengan demikian, Reza menyarankan agar investor tetap mencermati fundamental dan manajemen perseroan. Selain itu, perlu pula diperhatikan iklim industrinya. Kemudian, penyerapan saham seperti kelebihan permintaan juga bisa diperhatikan karena akan memperlihatkan minat pembeli.

Reza pun merekomendasikan beberapa saham yang dinilai masih bagus dari sisi pertumbuhan fundamentalnya seperti NATO, CLAY, dan JAST kendati pergerakan sahamnya cenderung fluktuatif. Demikian, seperti dikutip Bisnis.com. (*)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

INDEKS HARGA

Saham Pemilik SCBD akan Terdepak dari Pasar Modal

Published

on

Saham PT Danaya Arthatama Tbk (SCBD) telah dibekukan atau suspensi selama hampir dua tahun.

Mediaemiten.com, Jakarta – Saham PT Danaya Arthatama Tbk (SCBD) telah dibekukan atau suspensi selama hampir dua tahun. Kini perusahaan pemilik kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) itu berpotensi terdepak dari papan perdagangan saham.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri sudah berkirim surat kepada manajemen untuk memperingkatkan sahamnya berpotensi di-delisting. Manajemen pun telah memberikan tanggapannya dan bersedia untuk di-delisting.

“Perseroan menyampaikan rencana untuk melakukan delisting dari BEI go private,” kata Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 2 BEI Vera Florida dilansir dari keterbukaan informasi, Rabu (17/7/2019).

Berdasarkan hal itu, BEI pun memutuskan untuk melanjutkan suspensi saham SCBD. Saham SCBD dibekukan di pasar negosiasi mulai sesi I hari ini.

Sebelumnya, saham SCBD sudah disuspensi di pasar reguler dan tunai sejak 31 Juli 2019. Saat itu saham SCBD berada di posisi Rp 2.700 per lembar hingga saat ini.

Perusahaan milik Tomy Winata itu disuspensi 2 tahun silam lantaran tidak memenuhi syarat jumlah pemegang saham minimal 300 pihak. Aturan itu tertuang dalam ketentuan V.2 Peraturan Bursa No.1-A.

“Bursa meminta kepada pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan PT Danaya Arthatama Tbk,” tutup Vera. (*)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

INDEKS HARGA

Bursa China Melemah, Indeks Komposit Shanghai Turun 0,16 Persen

Published

on

Indeks Komposit Shanghai turun tipis 0,16 persen menjadi diperdagangkan di 2.933,02 poin.

Mediaemiten.com, Beijing – Bursa saham China dibuka lebih rendah pada perdagangan Rabu pagi (17/7/2019), dengan Indeks Komposit Shanghai turun tipis 0,16 persen menjadi diperdagangkan di 2.933,02 poin.

Indeks Komponen Shenzhen yang melacak saham-saham di bursa kedua di China, dibuka sedikit melemah 0,09 persen menjadi diperdagangkan pada 9.274,69 poin.

Sementara itu, Indeks ChiNext yang melacak saham-saham perusahaan sedang berkembang di papan bergaya Nasdaq China, berkurang 0,06 persen menjadi dibuka pada 1.544,42 poin. Demikian laporan yang dikutip dari Xinhua. (pep)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending