Connect with us

ANEKA INDUSTRI

Masih Prospektif, Indofood (INDF) Tambah Kapasitas Penggilingan Terigu

Published

on

Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Franciscus Welirang.

Mediaemiten.com, Jakarta – Potensi bisnis mi masih sangat menggiurkan bagi PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Makanya, grup perusahaan yang didirikan oleh duo taipan Sudono Salim dan Peter Santoso itu memacu kapasitas produksi penggilingan tepung terigu.

Indofood ingin meningkatkan kemampuan produksi pabrik terigu di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Emiten tersebut berencana memasang tiga lini mesin baru yang sekaligus menggantikan mesin lawas. Kelak pabrik penggilingan terigu Tanjung Priok akan beroperasi dengan kapasitas sebesar 1.200 ton per hari.

“Saat ini sudah dua line berjalan, untuk line ketiga akhir tahun ini akan berproduksi,” tutur Franciscus Welirang atau yang akrab disapa Franky, Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Jumat (24/5/2019) malam pekan lalu.

Sementara di Cibitung, Jawa Barat, Indofood menyiapkan pabrik penggilingan terigu baru berkapasitas 1.500 ton per hari. Proyek tersebut sudah sampai tahap penanaman tiang pancang alias groundbreaking. Sementara jadwal penyelesaian pembangunannya pada akhir 2020.

Selain meningkatkan kapasitas pabrik penggilingan terigu baru, Indofood berencana menambah kapasitas produksi pasta di Tanjung Priok. Hanya saja, mereka tidak menyebutkan alokasi anggaran yang disediakan. Manajemen INDF hanya menyebutkan, kemampuan produksi terigu saat ini sekitar 3,1 juta ton per tahun.

Asal tahu, Indofood memanfaatkan sebagian produksi terigu untuk bahan baku mi. Melalui anak usaha bernama PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, Indofood menjual mi instan merek Indomie, Supermi, Sarimi, Sakura, Pop Mie dan Mie Telur Cap 3 Ayam. Sebagian terigu lagi, mereka jajakan langsung ke pasar melalui Bogasari.

Sepanjang kuartal pertama tahun ini, penjualan mi instan Indofood CBP Sukses Makmur mencapai Rp 7,45 triliun atau 64,39% terhadap total penjualan kotor INDF atau sebelum dikurangi eliminasi yang tercatat Rp 11,57 triliun. Sisanya adalah segmen dairy, makanan ringan, penyedap makanan, nutrisi dan makanan khusus serta minuman.

Sementara dalam catatan Indofood, produk mi masuk dalam kelompok usaha produk konsumen bermerek atau consumer branded product (CBP). Selebihnya kelompok usaha Bogasari, agribisnis dan distribusi.

Mengatasi tantangan

Selama periode Januari-Mei 2019, Indofood merasakan kebutuhan bahan baku terigu untuk mi instan naik 8% year on year (yoy). Bila kebutuhan terigu naik, otomatis produksi mi instan juga ikut naik.

Meskipun potensi bisnis mi masih lezat, fokus bisnis Indofood tahun ini tidak cuma mi. Perusahaan tersebut juga ingin kelompok usaha lain berkembang. Makanya, Indofood juga melecut diri agar senantiasa sejalan dengan perkembangan zaman dan selera pasar. Tak terkecuali, menyesuaikan perubahan pola konsumsi masyarakat dengan teknologi dan sistem perdagangan baru. Caranya dengan lebih giat melakukan inovasi dari sisi produk maupun layanan.

Berbekal strategi yang jitu, Indofood yakin bisa membukukan pertumbuhan kinerja. Lagipula belakangan ini efek negatif dari perang dagang Amerika Serikat dan China semakin samar. Pasalnya, industri di Indonesia pada umumnya sudah mampu menyesuaikan dengan daya beli masyarakat yang dinamis.

Indofood pun tak lagi kerepotan dengan tantangan global itu. “Manusia itu tinggal menyesuaikan daya beli dan industri harus sesuaikan daya beli tersebut dan saya kira kami tidak perlu khawatir,” kata Franky. Seperti dkutip Kontan.co.id. (*)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

ANEKA INDUSTRI

Volume Penjualan Semen Holcim Merosot 14,56%

Published

on

SMCB mencatatkan volume penjualan 760.964 ton, merosot 14,56% dibandingkan dengan volume penjualan tahun sebelumnya 890,679 ton.

Mediaemiten.com, Jakarta – Lesunya pasar semen dalam negeri dirasakan betul oleh PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB). Perusahaan yang dulunya PT Holcim Indonesia Tbk tersebut mencatatkan volume penjualan semen pada Mei masih terkoreksi.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta. Dikutip dari Harian Neraca, Jumat (14/6/2019).

Disebutkan, untuk penjualan dalam negeri, SMCB itu mencatatkan volume penjualan 760.964 ton, merosot 14,56% dibandingkan dengan volume penjualan tahun sebelumnya 890,679 ton.

Sementara itu, volume penjualan ekspor semen pada Mei 2019 tercatat sejumlah 68.031 ton, meningkat 2,43% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat 66.416 ton.

Adapun total volume penjualan semen SMCB pada Mei 2019 tercatat 828.995 ton, lebih rendah 13,38% dibandingkan dengan tahun sebelumnya 957.095 ton. Total volume penjualan semen SMCB pada Mei 2019 lebih tinggi jika dibandingkan dengan volume penjualan April 2019 sejumlah 746.951 ton.

Sepanjang tahun berjalan, volume penjualan semen dalam negeri SMCB tercatat 3,92 juta ton, lebih rendah 2,85% dibandingkan dengan tahun sebelumnya 4,03 juta ton. Sementara itu, volume penjualan ekspor tercatat merosot 27,35% menjadi 208.447 ton dari 286.930 ton pada tahun sebelumnya. Untuk total volume penjualan SMCB sepanjang tahun berjalan masih terkoreksi 4,48% dengan mencatatkan penjualan 4,13 juta ton dari tahun sebelumnya yang tercatat 4,32 juta ton. (*)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

ANEKA INDUSTRI

Gajah Tunggal Kembali Raih Indonesia’s Most Valuable Brand 2019

Published

on

Gajah Tunggal Tbk yang merupakan produsen ban terbesar di Asia Tenggara kembali meraih penghargaan Indonesia’s Top 100 Most Valuable Brand 2019.

Mediaemiten.com, Jakarta – PT. Gajah Tunggal Tbk yang merupakan produsen ban terbesar di Asia Tenggara kembali meraih penghargaan Indonesia’s Top 100 Most Valuable Brand 2019.

Leonard Gozali selaku Head of Marketing Division PT. Gajah Tunggal Tbk hadir untuk menerima penghargaan tersebut, di Hotel Shangrila, Jakarta, Rabu (12/6/2019) malam. Penghargaan Indonesia’s Top 100 Most Valuable Brand merupakan peringkat 100 merek dengan nilai tertinggi yang valuasinya dilakukan oleh Brand Finance Plc, lembaga konsultan penilaian dan strategi merek independen terkemuka dunia.

“Terima kasih atas kepercayaan para pelanggan terhadap produk Gajah Tunggal. Sebagai brand kami ingin selalu menjadi prioritas pelanggan, kami terus melakukan riset untuk meningkatkan kualitas produk ban kami. Selain itu kami juga ingin memudahkan masyarakat dalam mendapatkan produk kami melalui toko-toko retail resmi kami dengan nama Tirezone & Tirexpress untuk ban mobil serta MotoXpress untuk ban motor yang saat ini sudah tersebar di berbagai wilayah Indonesia,” ujarnya di Hotel Shangri-La Jakarta.

Penghargaan ini dinilai berdasarkan pemeringkatan Brand Value yang diperoleh dari analisis Brand Finance terhadap Brand Strength Index (BSI) setiap perusahaan berdasarkan data yang diperoleh dari beberapa sumber, seperti informasi perusahaan, laporan tahunan perusahaan, serta riset yang dilakukan Brand Finance.

Sedangkan parameter yang digunakan untuk mendapatkan nilai brand adalah kualitatif finansial dan non finansial.

Penghargaan ini juga merupakan apresiasi besar bagi Gajah Tunggal dalam terus meningkatkan mutu dan kualitas produk untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, sekaligus mampu bersaing dalam kompetisi bisnis yang semakin ketat.

PT. Gajah Tunggal, Tbk melalui tiga brandnya yaitu GT Radial, IRC dan Gajah Tunggal telah berhasil menjadi ban yang dipercaya oleh agen tunggal pemegang merek (ATPM) sebagai ban OEM nya. (*)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

ANEKA INDUSTRI

Indofood Siapkan Belanja Modal Rp7,4 Triliun

Published

on

Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menganggarkan belanja modal sebesar Rp7,4 triliun untuk melaksanakan ekspansi bisnis.

Mediaemiten.com, Jakarta – Kejar pertumbuhan pendapatan lebih besar dibandingkan tahun lalu, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menganggarkan belanja modal sebesar Rp7,4 triliun untuk melaksanakan ekspansi bisnis. “Perseroan perseroan memasang target pertumbuhan penjualan pada level high single digit pada tahun ini. Hingga kuartal I/2019, penjualan bersih perseroan mencapai Rp19,17 triliun atau tumbuh 8,73% secara tahunan,” kata Direktur Utama Indofood Sukses Makmur Anthoni Salim dilansir dari Harian Neraca, Senin (10/6/2019).

Menurut Direktur Keuangan Indofood Sukses Makmur, Thomas Tjhie, perseroan akan menggunakan belanja modal ini di antaranya untuk entitas anak PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk sebesar Rp3,9 triliun, PT Bogasari Flour Mills sebesar Rp1,4 triliun, untuk lini usaha agribisnis sebesar Rp1,9 triliun, dan untuk lini usaha distribusi sebesar Rp200 miliar.”Untuk agrisbisnis, kami masih ada penanaman yang butuh capex,” ujarnya.

Thomas menjelaskan, alokasi belanja modal berasal dari kas internal dan pinjaman bank. Lebih lanjut, perseroan menunda rencana penerbitan obligasi karena kondisi pasar kurang bagus. Perseroan akan menunda penerbitan obligasi hingga kondisi pasar membaik. Penerbitan obligasi itu semula direncanakan untuk refinancing obligasi jatuh tempo pada 13 Juni 2019.

Selain itu, lanjutnya, perseroan telah menyiapkan dana untuk pembayaran pokok obligasi Indofood Sukses Makmur VII Tahun 2014 sebesar Rp2 triliun dengan menggunakan fasilitas pinjaman yang ada dari beberapa bank.”Rencana obligasi awalnya untuk refinancing. Tapi setelah kami pelajari marketnya kurang bagus, kuponnya mahal,” jelasnya.

Perseroan mengungkapkan, momentum puasa dan lebaran menjadi berkah tersendiri. Pasalnya, tingkat konsumsi masyarakat yang meningkat akan mengerek penjualan produk makanan dan minuman perseroan. Dimana perseroan memperkirakan segmen tersebut dapat tumbuh sekitar 10%. Lebih lanjut, perseroan belum meningkatkan harga jual rata-rata produk pada tahun ini. Kenaikan harga jual rata-rata produk masih mempertimbangkan kondisi pasar.

Kemudian pada agenda rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang digelar Rabu (29/5), menyepakati rasio dividen tunai sebesar 50% dari laba bersih perseroan pada 2018. Mengacu pada dividen ratio tersebut, dividen INDF sebesar Rp236 per saham dan ICBP sebesar Rp195 per saham. Nilai dividen INDF untuk tahun buku 2018 lebih rendah dibandingkan dengan tahun buku 2017 sebesar Rp237 per saham. Adapun, nilai dividen ICBP untuk tahun buku 2018 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun buku 2017 sebesar Rp162 per saham. (*)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending