Connect with us

FINANSIAL

Rupiah Melemah Seiring Semakin Memanasnya Perang Dagang

Published

on

Rupiah melemah 11 poin atau 0,08 persen menjadi Rp14.434 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.423 per dolar AS.

Mediaemiten.com, Jakarta – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa sore (14/5/2019) melemah seiring semakin memanasnya perang dagang dimana Amerika Serikat dan China saling membalas dengan menaikkan tarif impor.

Rupiah melemah 11 poin atau 0,08 persen menjadi Rp14.434 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.423 per dolar AS.

BAA JUGA : Rupiah Selasa Pagi Melemah 32 Poin Terhadap Dolar AS

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Selasa, mengatakan, ditengah aksi saling balas AS dan China, ada perkembangan positif terkait perang dagang AS-China yang membuat dolar AS selaku “safe haven” menjadi kurang menarik. Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa dirinya belum membuat keputusan terkait dengan apakah produk impor asal China senilai 325 miliar yang hingga kini belum terdampak oleh perang dagang akan dikenakan bea masuk.

“Sebelumnya, Trump sempat menyebut bahwa produk impor asal China senilai 325 miliar dolar AS tersebut akan dibebankan bea masuk senilai 25 persen dalam waktu dekat. Melunaknya sikap Trump tersebut membuat pelaku pasar optimistis bahwa perang dagang tak akan tereskalasi lagi,” ujar Ibrahim.

Sebelumnya Presiden AS Donald Trump mengatakan, pembicaraan dengan China akan berlanjut kendati tarif AS yang naik dari 10 persen menjadi 25 persen terhadap produk-produk China senilai 200 miliar dolar AS tetap berlaku.

Keputusan yang diambil Trump tersebut ditanggapi oleh China yang membalas AS dengan mengenakan tarif 25 persen terhadap produk-produk yang diimpor dari AS senilai 60 miliar dolar AS dan akan mulai efektif 1 Juni 2019 ini.

Di sisi lain, bank sentral AS The Federal Reserves (The Fed) dikhawatirkan akan menaikkan suku bunga acuannya sebagai dampak dari situasi geopolitik Negeri Paman Sam dan Negeri Tirai Bambu yang semakin memanas.

“Dengan tingginya eskalasi saling menerapkan bea impor antara AS dan China menyebabkan pelaku usaha akan membebankan tarif tersebut pada konsumen dengan menaikkan harga produk mereka. Alhasil, ada potensi bahwa tingkat inflasi AS akan naik dimana hal ini dapat menjadi alasan The Fed menaikkan suku bunga acuan,” kata Ibrahim.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah Rp14.426 dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.426 per dolar AS hingga Rp14.460 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa menunjukkan, Rupiah melemah menjadi Rp14.444 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.362 per dolar AS. (cit)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

FINANSIAL

Yuan China Melemah ke 6,8994 Terhadap Dolar AS

Published

on

Yuan melemah dua basis poin menjadi 6,8994 terhadap dolar AS.

Mediaemiten.com, Beijing – Nilai tukar (kurs) tengah mata uang China, renminbi atau yuan, melemah dua basis poin menjadi 6,8994 terhadap dolar AS pada perdagangan di hari Kamis (23/5/2019), menurut Sistem Perdagangan Valuta Asing China.

Di pasar spot valuta asing China, yuan dibiarkan naik atau turun dua persen dari tingkat kurs tengah setiap hari perdagangan.

Tingkat kurs yuan terhadap dolar AS didasarkan pada rata-rata tertimbang harga yang ditawarkan oleh para pelaku pasar sebelum pembukaan pasar antar bank setiap hari kerja. (ris)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

FINANSIAL

Dolar AS Turun di Tengah Risalah The Fed

Published

on

Kurs dolar AS mencapai 110,28 yen Jepang, lebih rendah dari 110,62 yen Jepang pada sesi sebelumnya.

Mediaemiten.com, New York – Dolar AS turun pada penutupan perdagangan Kamis pagi (23/5/2019) karena investor mencerna risalah yang baru dirilis oleh Federal Reserve (Fed) .

Bank sentral AS pada Rabu merilis risalah pertemuan kebijakan moneter terbarunya, anggota mengatakan “mengamati bahwa pendekatan sabar untuk menentukan kisaran target tingkat suku bunga Fed (federal funds rate) ke depan nampaknya akan tetap sesuai untuk beberapa waktu.”

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,02 persen pada 98,0403 pada akhir perdagangan.

Pada akhir perdagangan di New York, euro naik menjadi 1,1159 dolar dari 1,1157 dolar di sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi 1,2668 dolar dari 1,2705 dolar AS di sesi sebelumnya. Dolar Australia naik menjadi 0,6884 dolar dari 0,6881 dolar.

Kurs dolar AS mencapai 110,28 yen Jepang, lebih rendah dari 110,62 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 1,0086 franc Swiss dari 1,0113 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3427 dolar Kanada dari 1,3404 dolar Kanada. (ris)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

FINANSIAL

Kemungkinan Rupiah Lanjut Melemah, Ini Alasannya

Published

on

Rupiah menguat 17 poin atau 0,12 persen menjadi Rp14.508 per dolar AS.

Mediaemiten.com, Jakarta – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis ini diprediksi masih lanjut melemah pasca-aksi massa yang terjadi saat unjuk rasa memprotes hasil rekapitulasi nasional Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih di Jakarta, Kamis (23/5/2019), mengatakan rupiah masih akan terbawa sentimen kerusuhan di beberapa tempat di Jakarta.

“Kemungkinan rupiah berlanjut melemah dengan kondisi saat ini, ditambah adanya faktor musiman meningkatnya permintaan dolar AS,” ujar Lana.

Dari eksternal, Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2019 dari sebelumnya 3,3 persen menjadi 3,2 persen dengan pertimbangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang kembali memanas.

Sebelumnya Dana Moneter Internasional (IMF) pada April lalu juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi globalnya sebesar 3,3 persen dari proyeksi Januari 3,5 persen. Sedangkan Bank Dunia pada awal tahun memproyeksi ekonomi global tumbuh 2,9 persen di 2019.

Kendati demikian semua lembaga internasional tersebut masih optimis dengan ekonomi pada tahun 2020 yang diperkirakan membaik dibandingkan tahun 2019, padahal pada tahun 2020 ada potensi ekonomi Amerika Serikat melambat.

OECD berharap Amerika Serikat dan China bisa segera menyelesaikan konflik dagang, yang bisa membantu perbaikan ekonomi dunia ke depan.

“Kemungkinan rupiah melemah menuju kisaran antara Rp14.350 hingga Rp14.550 per dolar AS, meski tetap dalam penjagaan Bank Indonesia,” kata Lana.

Rupiah sendiri Kamis pagi menguat 17 poin atau 0,12 persen menjadi Rp14.508 per dolar AS, dibandingkan hari sebelumnya Rp14.525 per dolar AS. (cit)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending