Connect with us

FINANSIAL

Beranda – BI : Perekonomian Kaltara Rentan karena Tergantung Ekspor

Published

on

Kepala Kantor Bank Indonesia Perwakilan Kaltara, Hendik Sudaryanto.

Mediaemiten.com, Tarakan – Bank Indonesia merilis perekonomian Provinsi Kaltara masih rentan bergejolak karena tergantung pada komoditas ekspor yakni pertambangan dan pertanian.

Kepala Kantor Bank Indonesia Perwakilan Kaltara, Hendik Sudaryanto di Tarakan, Selasa menyatakan, tantangan besar dihadapi terkait perekonomian Kaltara adalah masih besarnya peran sumber daya alam dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah itu.

“Secara struktur, ekonomi Kaltara didominasi oleh sektor primer. Lapangan usaha pertambangan dan pertanian berkontribusi paling tinggi,” ujar dia.

Komoditas pada kedua sektor ini berorientasi ekspor sehingga ekonomi Kaltara bergantung pada kondisi ekonomi global.

Oleh karena itu, dominasi sektor primer tersebut menjadi penyebab perekonomian Kaltara memiliki kerentanan terhadap kinerja ekspor komoditas utama yang sangat tergantung dengan fluktuasi harga internasional. Bank Indonesia menyarankan, perlunya mengembangkan sektor lainnya seperti pariwisata diyakini dapat menjadi sumber pendorong pertumbuhan ekonomi yang baru di Indonesia.

“Sektor pariwisata yang punya potensi pendorong pertumbuhan ekonomo di Kaltara yang lebih subtansial dalam jangka menengah dan jangka panjang,” sebut Hendik Sudaryanto.

Prospek pariwisata dunia menunjukkan perkembangan yang positif diperkirakan 2020 jumlah wisatawan mencapai 1,3 miliar belum termasuk wisatawan lokal.

Hendik Sudaryanto mengatakan, daya saing Indonesia dalam menangkap potensi tersebut masih belum optimal. Pemanfaatan potensi pariwisata masih rendah karena kunjungan wisatawan masih terkonsentrasi di Bali. (rus)

KOMENTAR


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

FINANSIAL

Harga Emas Turun Tipis, Tertahan Pelemahan Dolar dan Saham AS

Published

on

Kontrak harga emas paling aktif untuk pengiriman Februari turun 0,2 dolar AS atau 0,01 persen menjadi ditutup pada 1.464,9 dolar AS per ounce.

Mediaemiten.com, Chicago – Harga emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange turun tipis pada akhir perdagangan Selasa pagi (10/12/2019), karena investor beralih ke penjualan teknis, setelah logam mulia mengalami kerugian besar di sesi sebelumnya.

Kontrak harga emas paling aktif untuk pengiriman Februari turun 0,2 dolar AS atau 0,01 persen menjadi ditutup pada 1.464,9 dolar AS per ounce.

Kemerosotan harga emas lebih lanjut tertahan oleh pelemahan dolar AS dan penurunan saham-saham di Wall Street, setelah naik signifikan pada akhir pekan lalu karena laporan pekerjaan positif mengangkat sentimen investor.

Dolar AS mundur kembali pada Senin (9/12/2019) di tengah penguatan pound Inggris, setelah sebuah jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa Partai Konservatif yang berkuasa memperoleh keunggulan untuk pemilihan Inggris mendatang pada Kamis (12/12/2019).

Ketika dolar AS melemah, emas yang dihargakan dalam dolar AS biasanya naik karena menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lainnya.

Demikian pula saham-saham AS. merosot pada Senin (9/12/2019) terseret kejatuhan saham raksasa teknologi Apple turun, dengan tiga indeks acuan utama melemah.

Ketika pasar ekuitas melemah, emas sebagai salah satu aset safe haven menjadi lebih menarik karena para investor mengalihkan investasi mereka dari aset-aset berisiko seperti saham.

Adapun logam mulia lainnya, perak pengiriman Maret naik 4,6 sen atau 0,28 persen, menjadi ditutup pada 16,642 dolar AS per ounce. Platinum untuk penyerahan Januari turun 0,4 dolar AS atau 0,04 persen, menjadi 898,5 dolar AS per ounce. Harga emas berjangka turun tajam lebih dari satu persen pada akhir perdagangan Jumat (6/12/2019), karena data pekerjaan Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan mengangkat indeks acuan saham utama dan dolar AS.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari jatuh sebanyak 18,00 dolar AS atau 1,21 persen, menjadi menetap di 1.465,10 dolar AS per ounce, setelah sehari sebelumnya meningkat 0,20 persen.

Indeks-indeks acuan saham Amerika Serikat naik signifikan pada perdagangan Jumat (6/12/2019) karena laporan pekerjaan positif mengangkat sentimen investor. Dolar AS juga menguat terhadap rival utamanya didorong oleh data pekerjaan yang lebih kuat dari perkiraan. (pep)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

FINANSIAL

Dolar Turun Tipis, Investor Tunggu Kabar Baru Perang Dagang AS-China

Published

on

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,04 persen.

Mediaemiten.com, New York – Kurs dolar AS sedikit berubah terhadap sekeranjang mata uang utama pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena investor menunggu perkembangan terbaru perang perdagangan AS-China selama 17 bulan, sementara pound merangkak lebih tinggi di tengah jajak pendapat terbaru jelang pemilu Inggris minggu ini.

Lemahnya data ekspor China menekan selera risiko pada Senin (9/12/2019), sementara kurangnya kejelasan tentang apakah Washington akan mengenakan kenaikan tarif AS atas barang-barang China pada 15 Desember jika kedua negara tidak dapat menyetujui kesepakatan perdagangan terbatas, membuat investor tidak memasang taruhan terarah yang besar.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,04 persen. Terhadap mata uang safe-haven franc Swiss, yang cenderung menarik investor selama masa-masa tekanan geopolitik atau finansial, dolar 0,21 persen lebih rendah.

Ekspor China pada November menyusut untuk bulan keempat berturut-turut, menggarisbawahi tekanan terus-menerus terhadap produsen dari perang dagang China-AS.

Batas waktu 15 Desember untuk gelombang tarif AS berikutnya pada barang-barang China memberi perhatian pada pasar global, mendukung dolar AS terhadap mata uang yang sangat sensitif terhadap perang perdagangan seperti dolar Australia dan Selandia Baru.

Dolar Aussie turun 0,10 persen, sementara kiwi (dolar Selandia Baru) melemah 0,14 persen. Sementara terhadap yuan China di pasar luar negeri, dolar menguat 0,17 persen.

Penasihat ekonomi utama Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan pada Jumat (6/12/2019) bahwa batas waktu 15 Desember masih di tempat untuk memaksakan putaran baru tarif AS pada barang-barang konsumen China, tetapi Presiden Donald Trump suka di mana pembicaraan perdagangan dengan China akan berlangsung.

Pada Senin (9/12/2019), China mengatakan bahwa mereka berharap untuk membuat kesepakatan perdagangan dengan Amerika Serikat sesegera mungkin.

Para investor juga akan mengawasi bank sentral jelang pertemuan kebijakan Federal Reserve (Fed) AS dan Bank Sentral Eropa (ECB) minggu ini, meskipun keduanya diperkirakan akan membiarkan kebijakan moneter tidak berubah.

“Tidak seperti biasanya, risiko peristiwa utama bukanlah pertemuan bank sentral yang akan diadakan minggu ini atau pertemuan penting,” kata Kepala Ahli Strategi Valas Scotiabank, Shaun Osborne, di Toronto, dalam sebuah catatan.

“Sebaliknya, pemilihan umum Inggris dan potensi kenaikan tarif AS selama akhir pekan depan cenderung mempengaruhi sentimen pasar lebih signifikan daripada yang lain,” kata Osborne.

Sterling mencapai tertinggi tujuh bulan di 1,3180 dolar terhadap greenback, sebelum memangkas kenaikan untuk diperdagangkan naik 0,07 persen pada 1,3146 dolar setelah jajak pendapat baru menunjukkan Partai Konservatif Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah memperluas kepemimpinannya dalam jajak pendapat sebelum pemilihan pada Kamis (12/12/2019).

Partai Konservatif yang berkuasa memperpanjang keunggulannya atas Partai Buruh oposisi menjadi 14 poin persentase, naik dari 9 poin persentase minggu lalu, sebuah jajak pendapat oleh Survation menunjukkan pada Senin (9/12/2019). (pep)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

FINANSIAL

Kurs Rupiah Selasa Diprediksi Terus Menguat Terbatas, Dekati Rp14.000

Published

on

Rupiah bergerak menguat mendekati level Rp14.000 per dolar AS.

Mediaemiten.com, Jakarta – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa pagi bergerak menguat mendekati level Rp14.000 per dolar AS.

“Dalam perdagangan Selasa ini, kurs rupiah kemungkinan masih akan menguat terbatas,” kata Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Selasa (10/12/2019).

Dari domestik, Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun 2020 berkisar 5,1-5,5 persen, sedangkan proyeksi pertumbuhan pada tahun 2019 mencapai 5,1 persen.

Namun Bank Indonesia nampak lebih optimis pertumbuhan ekonomi 2020 karena sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2020 sebesar 3,1 persen atau lebih tinggi dibanding tahun 2019 sebesar 3 persen.

Menurut Bank Indonesia, penopang pertumbuhan ekonomi tahun depan masih mengandalkan konsumsi rumah tangga. Karena dengan kondisi ekonomi global dan perang dagang yang masih terjadi, membuat konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah tetap menjadi andalan.

Bank Indonesia juga memperkirakan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada akhir 2019 surplus sebesar 1,5 miliar dolar AS, atau lebih baik dibandingkan tahun 2018 yang mencatatkan defisit 7,1 miliar dolar AS.

Secara keseluruhan tahun ini neraca transaksi berjalan akan lebih baik di bawah tiga persen persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Neraca transaksi berjalan yang kerap defisit mampu dikompensasi dengan surplus neraca finansial dan modal.

Pada kuartal IV 2019, Bank Indonesia melihat arus modal asing yang masuk kian deras. Parameternya, pada Oktober dan November 2019 cadangan devisa bergerak relatif stabil dengan total nilai pada bulan November menjadi 126,6 miliar dolar AS.

Sisi lain, Bank Indonesia kembali akan menerapkan kebijakan ekonomi akomodatif pada tahun 2020. Salah satunya adalah dengan membuka peluang kembali menurunkan suku bunga acuan pada tahun 2020. Langkah penurunan suku bunga sudah diperhitungkan guna mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ibrahim memperkirakan kurs rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp13.990 per dolar AS hingga Rp14.040 per dolar AS.

Pada pukul 10.07 WIB kurs rupiah bergerak menguat empat poin atau 0,03 persen menjadi Rp14.006 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya di level Rp14.010 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa ini menunjukkan kurs rupiah menguat menjadi Rp14.004 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.021 per dolar AS. (cit)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending