Connect with us

UMKM

Pengamat : Kunci Sukses Era Industri 4.0 pada Koperasi

Published

on

Pengamat dari Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES), Suroto.

Mediaemiten.com, Jakarta – Pengamat dari Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) Suroto menyebutkan, kunci sukses era industri 4.0 terletak pada revolusi kepemilikan usaha model koperasi.

“Koperasi yang memungkinkan bagi setiap orang untuk menjadi pebisnis harus menjadi model wadah perusahaan yang sesuai. Bukan hanya agar keadilan terjadi dalam bisnis, namun juga agar bisnis yang ada menjadi etis dan tidak monopolistik,” kata Suroto di Jakarta, Selasa (21/8//2018).

Era revolusi industri 4.0 kata dia, memberikan kemungkinan bagi setiap orang untuk berbisnis sekaligus membentuk keterasingan baru bagi mereka yang tak memiliki kepemilikan dan kendali dalam industri.

“Ini harus dilakukan upaya pencegahan. Pemerintah harus agresif mendorong regulasi baru agar kepentingan masyarakat banyak terlindungi. Model transfer biaya yang dilakukan pemilik aplikasi privat ke agen harus dicegah,” katanya.

Ia mencontohkan, model kepemilikan platform misalnya, memungkinkan wadah semacam koperasi sebagai model yang paling cocok.

“Sebut saja untuk bisnis aplikasi transportasi semacam Gojek dan Grab. Ini seharusnya jadi milik bersama karena sudah masuk kategori barang publik,” katanya.

Menurut dia, model koperasi multipihak yang sekarang sedang berkembang pesat di negara lain dapat dijadikan sebagai contoh.

“Investor, pemilik kendaraan, pelanggan, pemodal harus berdiri sama tinggi dalam pengambilan keputusan, katanya.

Pemerintah dalam hal ini juga perlu berada di dalamnya untuk bersama menjaga kepentingan publik.

“Jangan dibiarkan liar seperti saat ini. Sudah risiko dan beban biaya overhead ditransfer ke pemilik kendaraan, penetapan tarif semau-maunya ditentukan oleh pemilik aplikasi yang bersifat privat. Sementara konsumen sebagai pihak yang selalu dibenturkan kepentingannya,” katanya.

Suroto berpendapat, harus ada regulasi baru yang mengatur sektor kaitan bisnis aplikasi yang boleh diusahakan secara privat dan secara publik melalui model koperasi.

Oleh karena itu, ia menekankan agar sifat barang dan jasa publik harus segera diidentifikasi dan diatur.

“Profesi-profesi baru bermunculan berdasar talenta yang selama ini diabaikan. Pemberdaya masyarakat atau komunitas, peneliti, desainer produk, data analis, dan lain sebagainya,” katanya.

Pemerintah kata Suroto, juga harus mendorong agar wadah koperasi pekerja (worker co-op) dapat berfungsi dalam memberikan peluang bagi para pekerja baru yang berbasiskan pada talenta semacam fotografer, seniman, designer, lawyer, akuntan, dan lain-lain sebagainya.

Sebab menurut dia, revolusi industri ke-4 saat ini kalau tidak diatur dan dikembangkan dalam model kepemilikan bersama yang sesuai maka akan banyak menimbulkan ekses sosial.

Selain kesenjangan ekonomi, monopoli, juga munculnya pengabaian oleh bisnis terhadap kepentingan publik.

“Koperasi sebagai model perusahaan masa depan yang menjaga kepentingan semua pihak tetap setara dalam mengambil keputusan. Ini adalah model yang pas untuk era 4.0,” katanya. (han)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UMKM

Modalku-Askrindo Bersinergi Berdayakan UMKM

Published

on

Co-Founder & COO Modalku, Iwan Kurniawan.

Mediaemiten.com, Jakarta – Perusahaan fintech PT Mitrausaha Indonesia Grup (Modalku) dan PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) Persero sepakat bersinergi mendukung UMKM mendapatkan pola pembiayaan dari industri financial technology (fintech) sekaligus memberi perlindungan konsumen.

“Tujuannya untuk memitigasi risiko gagal bayar serta merealisasikan manfaat hadirnya teknologi pada industri keuangan bagi para pemberi pinjaman atau lender dalam rangka memberdayakan UMKM di Indonesia,” Co-Founder & COO Modalku Iwan Kurniawan, dalam siaran pers di Jakarta, Minggu (2/12/2018).

Menurut Iwan, sebagai penanggung risiko, Modalku dan Askrindo akses permodalan dan tingkat kepercayaan industri keuangan kepada pelaku UMKM diharapkan makin baik serta tumbuh dan berkembang.

Lebih lanjut dijelaskan, kolaborasi Modalku dengan Askrindo akan menciptakan ekosistem keuangan yang lebih sehat, yaitu dengan meningkatkan standar perlindungan konsumen untuk pengguna teknologi finansial.

Selanjutnya, mewujudkan mitigasi risiko bagi pemberi pinjaman merupakan implementasi dari masukan pengguna Modalku sendiri.

Sementara itu, Direktur Operasional Ritel Askrindo, Anton Fadjar A Siregar mengatakan, tahap awal kerja sama ini objek pertanggungan yang dicover oleh Askrindo adalah KMK Project Financing berbasis Invoicing (pre- financing dan post-financing)

“Askrindo akan memberikan ganti rugi kerugian yaitu pada sisa pokok pinjaman,” ujar Anton.

Modalku adalah platform peer-to-peer lending terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Di Asia Tenggara, Modalku beroperasi di Indonesia, juga di Singapura dan Malaysia di bawah nama Funding Societies. Di Indonesia, saat ini Modalku melayani wilayah Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya.

Secara hukum, Modalku terdaftar di OJK sebagai Penyelenggara Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi dan memiliki misi memajukan ekonomi Indonesia dengan mendukung pertumbuhan UMKM melalui kegiatan pinjam meminjam langsung. (cha)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

UMKM

Kadin : Hanya 16.000 Unit Bisnis Tergolong Usaha Menengah

Published

on

Rapat Kerja Wilayah Tengah Bidang UMKMKop Jawa-Bali dengan tema "Peningkatan Daya Saing UMKM Dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0" di Solo, Minggu (25/11/2018).

Mediaemiten.com, Solo – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia akan meningkatkan jumlah unit usaha skala menengah yang ada di dalam negeri.

“Saat ini dari sekitar 59 juta unit UMKM di Indonesia, baru sekitar 16.000 di antaranya yang termasuk di kelompok unit usaha menengah,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang UMKM Muhammad Lutfi pada Rapat Kerja Wilayah Tengah Bidang UMKMKop Jawa-Bali dengan tema “Peningkatan Daya Saing UMKM Dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0” di Solo, Minggu (25/11/2018).

Melihat masih rendahnya jumlah unit usaha menengah, dikatakannya, dalam kurun waktu lima tahun mendatang Kadin akan menambah jumlah tersebut menjadi 32.000 unit usaha.

Terkait hal itu, pihaknya akan melakukan sejumlah langkah, mulai dari mengupayakan kemudahan perizinan kepada UMKM hingga memudahkan akses pendanaan.

“Mengenai perizinan ini UMKM harus punya perizinan yang pasti dan jelas, salah satunya dengan OSS (online single submission),” katanya.

Ia mengakui OSS tersebut sejauh ini belum berjalan secara efektif. Oleh karena itu, Kadin akan membantu memberikan masukan kepada pemerintah agar perizinan untuk UMKM menjadi mudah, jelas, dan transparan.

“Yang utama adalah memudahkan UMKM bisa tumbuh dari skala mikro ke kecil dan skala kecil ke menengah,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga mengingatkan kepada para pelaku usaha agar mengikuti aturan standarisasi, seperti misalnya untuk industri makanan dan minuman maka harus ada izin edar yang dikeluarkan oleh Badan POM.

“Sedangkan untuk industri kecil dan menengah harus ada SNI yang menjadi syarat mutlak kompetensi di skala global,” katanya.

Sementara itu mengenai pendanaan, dikatakannya, merupakan hal yang sangat penting mengingat banyaknya tantangan di zaman yang serba baru.

“Di zaman baru maka harus diselesaikan dengan hal yang baru juga. Untuk memudahkan akses pendanaan UMKM, kami melihat teknologi finansial cukup berpotensi melakukannya,” katanya.

Ia mengakui teknologi finansial menerapkan bunga yang relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan lembaga keuangan yang lain.

“Terkait hal ini kami terbuka oleh terobosan-terobosan. Pada dasarnya kami ingin bunga semurah mungkin dan akses semudah mungkin. Meski demikian, untuk memperoleh tambahan modal, pelaku usaha cenderung memilih yang mudah dapat uang meski bunga tinggi daripada dikatakan bahwa bunga rendah tetapi aksesnya sulit,” katanya. (ris)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

UMKM

UMKM Didorong Gabung ke Pasar Modal

Published

on

Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) diharapkan dapat semakin banyak yang dapat bergabung di pasar modal.

Mediaemiten.com, Yogyakarta – Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) diharapkan dapat semakin banyak yang dapat bergabung di pasar modal karena banyak manfaat yang diraih apabila UMKM bergabung di pasar modal.

“Kami fokus mengedukasi pasar modal untuk perusahaan-perusahaan berskala UMKM,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Irfan Noor Riza di Yogyakarta, Selasa (20/11/2018).

Menurut Irfan, edukasi digencarkan karena pelaku UMKM dengan aset modal di bawah Rp5 miliar dalam waktu dekat akan memiliki peluang untuk melantai di bursa saham. Hal itu menyusul dibahasnya regulasi yang mempermudah sektor usaha kecil melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). BEI menargetkan pembahasan rampung pada akhir tahun ini.

“Kami berharap nantinya semakin banyak perusahaan di DIY dari berbagai sektor dan skala baik besar maupun kecil bisa menikmati pasar modal,” kata dia.

Ia berpendapat bahwa banyak manfaat yang didapatkan apabila UMKM bergabung di pasar modal, misalnya dengan IPO maka mereka akan mudah mendapatkan alternatif pendanaan dari pasar modal.

“Sementara dari sisi masyarakat sebagai calon investor berarti akan mudah ikut memiliki perusahaan UMKM di sekitarnya,” katanya dan menambahkan, dengan bergabungnya UMKM di pasar modal, Irfan berharap akan semakin banyak masyarakat DIY yang berminat menjadi investor pasar modal.

Irfan mengatakan hingga saat ini baru ada dua perusahaan berskala besar di DIY yang berani mencatatkan sahamnya di pasar modal. Keduanya ?dari sektor perhotelan dan jasa.

“Mudah-mudahan ke depan akan muncul dari sektor perbankan di DIY yang listing di pasar modal,” kata Irfan.

Pertumbuhan jumlah investor di DIY, menurut dia, terus meningkat setiap tahun. Ia menyebutkan jumlah investor pasar modal di DIY per bulan Juli 2018 mencapai 36.437 investor dan hingga akhir tahun ini ditargetkan mampu mencapai 40.000 investor. Demikian, seperti dilansir WartaEkonomi.co.id. (*)


Media Emiten menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : mediaemiten@gmail.com, dan redaksi@mediaemiten.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending